Legislator Mufti Anam Minta Mendag Benahi Distribusi Sebelum Izinkan Impor Gula

Legislator Mufti Anam Minta Mendag Benahi Distribusi Sebelum Izinkan Impor Gula
PERISTIWA | 27 Februari 2020 15:46 Reporter : Hery H Winarno

Merdeka.com - Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi sektor perdagangan, Mufti Anam, meminta Menteri Perdagangan Agus Suparmanto untuk terlebih dahulu bekerja keras membenahi mata rantai distribusi sebelum meneken izin impor berbagai komoditas, termasuk gula. Seperti diketahui, pemerintah saat ini berencana akan mengimpor gula untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga alias gula kristal putih (GKP). Diproyeksikan, impor gula mencapai kisaran 500 ribu ton.

Salah satu pendorong rencana impor gula adalah karena harga gula di pasar saat ini naik. Kemudian, produksi yang dihasilkan petani diprediksi tidak bisa memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

"Kalau persoalan harga gula yang naik beberapa waktu terakhir ini, pemerintah seharusnya membenahi sistem distribusi yang lebih efisien. Rantai distribusi gula yang panjang membuat harga bisa makin mahal sehingga yang diuntungkan justru bukan petani, tapi pedagang," ujar Mufti Anam saat dihubungi, Kamis (27/2/2020).

Mufti mengatakan, sebelum memutuskan untuk mengizinkan impor, Kemendag harus bisa menunjukkan keseriusan membenahi sistem distribusi komoditas. "Sebenarnya ini tidak hanya terkait gula, tapi juga komoditas lain, seperti garam yang menurut banyak pihak itu ada rembesan garam industri ke pasar garam konsumsi," ujar politisi PDI Perjuangan tersebut.

Dia menambahkan, konsumsi gula sebenarnya tak sama dengan komoditas lain seperti beras. Tingkat konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai kisaran 100 kg per orang per tahun. Sedangkan konsumsi gula hanya 7 kg per orang per tahun.

"Jadi misalnya ada kenaikan harga gula berbasis tebu petani Rp1.000 per kg, maka masyarakat menanggung tambahan Rp 7.000 per tahun. Jadi sebenarnya ya relatif tidak signifikan. Sedangkan untuk industri makanan-minuman kan beda gulanya, mereka pakai rafinasi, bukan gula tebu petani," ujarnya.

Sehingga, jika Kemendag bisa membikin skema distribusi yang pendek, dengan petani atau koperasi petani sebagai pemain utama pemasaran gula, maka kesejahteraan petani bakal meningkat.

"Jika itu dilakukan, Pak Mendag akan dikenang sebagai menteri yang hebat," kata Mufti.

Mufti juga meminta kepada Kemendag untuk meningkatkan tata kelola perizinan impor. Sebab, permasalahan izin impor sejak dulu diwarnai prasangka negatif, mulai adanya impor, mafia impor, dan sebagainya.

"Saya melihat jika perizinan impor ini governance-nya ditingkatkan, dibikin transparan, semua orang bisa memantau dengan mudah, real time, pasti sangat bagus. Ya kira-kira seperti yang dilakukan Pak Ahok di Pertamina, dia bikin laporan impor minyak mentah, pengadaan kapal angkut ekspor-impor migas, dan sebagainya menjadi mudah diakses banyak orang," pungkasnya. (mdk/hhw)

Baca juga:
Bulog Usul Impor 200 Ribu Ton Gula Sebelum Lebaran 2020
Pemerintah Jokowi Putar Otak Agar Harga Gula Konsumsi Tak Naik
Industri Kecil Rugi Ratusan Miliar Rupiah Akibat Tak Dapat Gula Rafinasi
Pengusaha Sebut Stok Gula Rafinasi Mulai Menipis
Produksi RI Belum Mampu Memenuhi, Gula Rafinasi Kembali Impor Tahun ini
4 Hal yang Menunjukkan Bahwa Kamu Memiliki Intoleransi Terhadap Gula

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami