Lestarikan kuliner, Aceh gelar Festival Kuah Beulangong

Lestarikan kuliner, Aceh gelar Festival Kuah Beulangong
PERISTIWA | 27 Maret 2014 12:39 Reporter : Afif

Merdeka.com - Aceh tidak hanya terkenal dengan alamnya yang indah. Akan tetapi juga terkenal dengan beragam masakan atau kuliner. Selain Mie Aceh yang diburu wisatawan yang datang ke Aceh, ternyata juga masih banyak kuliner lain yang belum terpublikasi dan diketahui oleh orang banyak di luar Aceh.

Di antaranya sebuah kuliner khas Aceh adalah Kuah Beulangong (Kuah Belanga). Masakan khas ini di tengah-tengah masyarakat Aceh sudah sangat mengakar. Ini menjadi hidangan khas setiap ada hajatan seperti pesta perkawinan, Keuduri Blang (Kenduri Sawah), sunatan dan sejumlah hajatan lainnya selalu memasak Kuah Beulangong.

Atas dasar itulah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh menggelar festival Kuah Beulangong, Kamis (27/3) di Banda Aceh. Festival ini dipusatkan di Meseum Aceh yang hanya selemparan batu dengan Pendopo Gubernur Aceh. Festival ini diikuti sedikitnya 15 Kecamatan dari Kota Banda Aceh dan Aceh Besar untuk melestarikan kuliner khas Aceh yang nyaris tergilas oleh masakan moderen saat ini.

"Selain itu untuk melestarikan kuliner khas Aceh dan makanan ini merupakan makanan turun-temurun nenek moyang kita. Kemudian kita harap akan terlestarikan di aceh, jangan sampai makanan khas Aceh tertinggal karena arus globalisasi," kata Kepala Disbudpar Aceh, Reza Fahlevi.

Selain itu, target jangka panjang yang dicita-citakan oleh Disbudpar Aceh akan menjadi agenda rutin tahunan nantinya. Sehingga akan menjadi even untuk mendatangkan wisatawan di Aceh dalam rangka program Visit Aceh 2014. "Tentunya juga ajang promosi dan nantinya bisa menjadi even pariwisata dan akan banyak tamu datang ke Aceh untuk melihat kuliner di Ace," imbuhnya.

Sementara itu salah seorang peserta Festival Kuah Beulangong dari Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, Sabri mengungkapkan, kegiatan ini merupakan sebuah agenda yang patut diberikan apresiasi. Karena dengan adanya even ini akan mempererat silaturrahmi dan bisa menjadi ajang pendidikan untuk semua orang.

"Ini sebuah agenda yang luar bisa. Kami ini tidak ada warung nasi, tapi kami komunitas yang setiap ada hajatan seperti pesta perkawinan dan lainnya, kami menjadi tim memasak," ujar Sabri.

Dia menjelaskan, dalam satu tim untuk mengikuti festival ini berjumlah 10 orang. Di antaranya 6 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Masing-masing memiliki tugas masing-masing, baik perempuan maupun laki-laki.

"Bukan Kuah Beulangong namanya kalau tidak ada Bu Kulah (Nasi bungkus berbentuk piramida), jadi tugas perempuan adalah membungkus nasi dan laki-laki memasak Kuah Beulangong," tukasnya.

Sedangkan untuk penilaian festival tersebut ada 3 orang dewan juri yang terdiri dari 2 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Aiyup Yusuf salah seorang dewan juri mengatakan, kriteria utama dalam penilaiannya adalah tekstur rasa yang tidak dipengaruhi oleh zat lain di era modern saat ini.

"Kita nilai yang pertama adalah cita rasa yang alami, artinya tidak dicampur dengan penyedap rasa," jelas Aiyub Yusuf.

Lanjutnya, Kuah Beulangong memang ada beragam jenis dan isi dalam adonannya. Di antaranya ada yang menggunakan nangkam pisang dan bahkan hati batang pisang untuk dicampur bersama dengan daging Kuah Beulangong tersebut.

Adapun daging yang sering digunakan untuk memasak Kuah Beulangong, lanjutnya, adalah daging sapi. Masakan itu dicampuri dengan bumbu yang diracik secara tradisional tanpa menggunakan penyedap rasa. (mdk/bal)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Menjawab Keluhan, Menyiasati Keadaan - MERDEKA BICARA with Ganjar Pranowo

5