LSM Kemanusiaan Buatkan 12 Hunian dari Bambu untuk Korban Gempa Palu

PERISTIWA | 4 Agustus 2019 02:28 Reporter : Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Pengungsi korban gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah menerima 12 unit hunian sementara (Huntara) yang terbuat dari bambu.

Asisten Bidang Administrasi Umum Pemkot Palu, Imran Lataha saat menghadiri serah terima huntara di Palu, mengatakan, hunian disediakan organisasi KUN Humanity System untuk korban gempa di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore sangat membantu warga yang kehilangan rumah akibat dampak bencana alam tersebut.

"Setelah diresmikan mari kita jaga dan manfaatkan dengan baik fasilitas yang telah disediakan oleh pendonor," ujar Imran yang juga mantan Inspektur Inspektorat Palu, dikutip dari Antara, Sabtu (3/8).

Huntara bambu baru pertama kali dibangun untuk warga korban bencana Palu. Hunian ini termasuk unik, karena hampir keseluruhan materialnya menggunakan bahan baku bambu beratap rumbia yang sifatnya ramah lingkungan.

Hunian tersebut berbeda dengan huntara pada umumnya yang hanya bilik tanpa ada sekat-sekat sebagai ruang privasi. Bangunan itu dirancang agar penghuninya merasa nyaman khususnya pada saat melakukan kegiatan privasi, meskipun pemanfaatannya bersifat jangka pendek.

"Huntara ini cukup nyaman ditempati, desainnya sangat kreatif, olehnya warga yang tinggal di bangunan ini harus senantiasa menjaga kebersihan dan keasriannya," katanya menambahkan.

Manager proyek KUN Tengku Lidya Miranda menjelaskan, pembangunan huntara yang hampir sebagian besar berbahan dasar bambu merupakan proyek kedua setelah sebelumnya huntara bambu juga dibangun di wilayah Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.

Organisasi berbasis 'volunteer' yang mensinergikan manusia dengan alam selalu mengedepankan kearifan lingkungan. Berangkat dari konsep itu, maka proyek pembangunan huntara bambu dilaksanakan bernuansa tradisional namun tidak mengabaikan kualitas dan estetikanya.

"Kami lebih mengedepankan pembangunan yang ramah alam dan lingkungan sehingga keberadaan huntara ini berbeda dengan yang lainnya, " ungkap Lidya.

Hampir 10 bulan pascagempa, tsunami dan likuifaksi menimpa Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah dan sekitarnya, masih ada warga pengungsi tinggal di tenda-tenda darurat karena tidak memadainya fasilitas hunian disediakan.

Baca juga:
PUPR Target Bangun 11 Ribu Hunian Tetap Untuk Korban Palu
Wiranto Minta Rehabilitasi dan Rekonstruksi Dampak Tsunami Palu Diselesaikan
Pemerintah Bangun Kawasan Hunian Tetap untuk Korban Gempa Sulteng
Sulawesi Tengah Diproyeksikan jadi Pusat Manufaktur di 2024
ADB Setujui Pinjaman Rp4,22 Triliun Pulihkan Sulteng Pasca Bencana

(mdk/rnd)

TOPIK TERKAIT