Lulus S2 ITB, Anak Tukang Becak Ini ingin Bangun Yayasan Pendidikan Gratis

PERISTIWA | 15 Oktober 2019 11:42 Reporter : Liputan6.com

Merdeka.com - Herayati Sawitri lulus S2 dengan predikat cum laude di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia ingin membangun yayasan pendidikan gratis. Anak tukang becak ini mengaku, ingin sekali membantu siswa dan mahasiswa yang kurang mampu.

"Itu impian besar saya, ingin punya yayasan yang memberi pendidikan gratis untuk siswa dan mahasiswa yang kurang mampu," kata Herayati. Dikutip dari Liputan6.com, Selasa (15/10).

Impian ini berangkat dari perjalanan dia dalam menempuh pendidikan. Tidak mudah bagi perempuan asal Cilegon, Banten, itu menempuh pendidikan hingga akhirnya lulus S2. Apalagi dia hanya anak seorang tukang becak. Namun impiannya yang kuat sejak kecil membawa Hera meraih apa yang dicita-citakannya itu.

Hera meyakini, pendidikan tinggi dapat mengubah nasib dan derajat seseorang. Ingin mengubah hidup keluarga adalah motivasi bagi Hera untuk terus semangat belajar.

"Saya tetap semangat karena misi saya ingin mengubah hidup keluarga, hidup pribadi, dan mengangkat derajat orangtua lewat pendidikan," tutur Hera.

Hera menempuh pendidikan di ITB, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Imu Pengetahuan Alam. Hera terus melanjutkan pendidikannya hingga tingkat S2 melalui jalur beasiswa.

"Untuk S1 saya dapat bidik misi, jadi biaya pendidikan dan hidup di-cover. Sedangkan S2, hanya dapat biaya untuk pendidikan saja," kata Hera.

Untuk mendapat biaya tambahan, Hera bekerja sambil kuliah. Salah satu pekerjaan yang dilakoninya adalah menjadi guru bimbel di Bandung. Hera juga menjadi asisten dosen, asisten peneliti, pimpinan praktikum, dan asisten praktikum.

Kuliah di ITB adalah keinginannya sejak kecil. Keinginan itu sudah ada sejak Herayati duduk di bangku kelas 9 Madrasah. Hera tertarik dengan ITB karena banyaknya beasiswa yang ditawarkan.

Mengetahui keinginan tersebut, Hera bercerita, orang tuanya saat itu hanya bisa terdiam. Walau banyak kekhawatiran, kata 'Jangan' tak pernah keluar dari mulut kedua orang tuanya dalam Hera mengejar mimpi. Hera juga selalu meminta orang tuanya agar terus mendoakan mimpinya itu.

"Mohon doanya, jangan khawatir soal biaya, karena Allah Maha Kaya," itulah yang Hera selalu ingatkan pada orang tuanya.

Kedua orang tua Hera selalu mendukung pilihan anak perempuannya itu. Mereka selalu berpesan "Ketika sudah memilih, maka harus dituntaskan".

Akhirnya, pada Juli 2019, Hera telah menyelesaikan studi pascasarjana dengan predikat cum laude dengan IPK 3,8. Kini Hera telah menjadi dosen di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten. Menjadi pengajar memang sudah menjadi cita-cita Hera sejak dulu.

Rencana ke depan, Hera ingin menempuh pendidikan S3. Ia memilih untuk menjadi dosen terlebih dahulu agar sepulangnya dari S3, Hera sudah memiliki tempat untuk menuangkan ilmu.

"Saya ingin lanjut S3 mungkin tahun 2021. Jadi setelah saya S2, saya jadi dosen dulu, biar setelah S3 sudah ada tempat untuk mengaplikasikan ilmu," ujar Hera.

Hera mengajak generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam mengejar mimpi. Jika ada niat dan kemauan, pasti akan ada jalan.

"Jangan pernah menyerah untuk setiap mimpi yang sedang dikejar, pegang terus mimpi itu dan beranilah untuk mewujudkannya," kata Hera.

Baca juga:
Bantu Jaga Taman Nasional Meru Betiri, Perempuan Difabel Dihadiahi Berangkat Umrah
Tingkatkan Literasi Lewat Masagi
Lewat Buku, Asmawi Syam Cerita Pengalaman Sukses dari Staf Hingga Jadi Dirut BRI
Cerita Korban Gempa Palu Sukses Jadi Produsen Jipang
Cerita Zulkifli, Masinis KAI yang Sudah Bekerja Seperempat Abad

(mdk/cob)