Mahasiswa Jember Gelar Doa dan Salat Gaib Untuk Korban Demo

PERISTIWA | 8 Oktober 2019 07:05 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Berbagai permasalahan melanda Indonesia beberapa waktu terakhir, mulai dari konflik di Papua, gelombang demo yang berakhir korban jiwa, hingga masalah kebakaran hutan dan juga gempa di Papua. Rentetan masalah itu memicu keprihatinan, salah satunya dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jember (Unej). Mereka mendesak pemerintah saat ini untuk lebih bijak terkait regulasi kontroversial, serta lebih sigap menyelesaikan konflik sosial dan bencana alam.

Sebagai bentuk keprihatinan, BEM Unej menggelar aksi seribu lilin dan doa bersama lintas agama di pintu gerbang atau yang lazim disebut Double Way Unej. Aksi didahului dengan salat gaib berjamaah untuk Randy dan Muhammad Yusuf Kardawi (keduanya mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari) serta Bagus Putra Mahendra (pelajar SMK Al Jihad Tanjung Priok).

"Tiga nama itu menjadi pahlawan generasi muda, yang gugur saat memperjuangkan aspirasi rakyat terhadap pemerintah saat ini," kata Ahmad Fairuz Abadi, Ketua BEM Unej kepada Merdeka.com, Senin (7/10) malam.

Dalam acara doa bersama tersebut, turut dibacakan puisi dan musikalisasi untuk merefleksikan berbagai krisis yang melanda Indonesia saat ini.

"Kami ingin merefleksikan kedukaan atas berbagai permasalahan, mulai gelombang demo terhadap semua RUU yang kontroversial. Yang sayangnya kemudian itu berujung pada gugurnya korban jiwa," ujarnya.

Selain itu, doa lintas agama diwujudkan dengan pembacaan doa dari masing-masing unit kerohanian agama yang ada di Unej. Mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu.

"Melalui doa bersama lintas iman ini, kami ingin menunjukkan dan menyerukan pentingnya merajut kebersamaan di tengah berbagai perbedaan yang ada. Ini menjadi sesuatu yang penting dilestarikan dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia," papar mahasiswa Fakultas Teknik Unej ini.

Para mahasiswa juga mendesak, pemerintah lebih taktis dan cepat menangani korban gempa Papua. Selain itu, penyelesaian konflik di Wamena juga harus dilakukan dengan tuntas dengan mengedepankan solusi damai.

"Kami amat berduka atas apa yang menimpa saudara-saudara kita di Wamena serta Gempa Bumi di Ambon. Keprihatinan juga tertuju atas terulangnya kasus kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah," lanjut Fairuz.

BEM Unej juga menyampaikan kritik atas upaya pemerintah yang dianggap ingin membatasi ruang gerak gerakan mahasiswa dalam mengkritik pemerintah. Upaya itu diwujudkan melalui permintaan Menristek Dikti kepada para rektor, agar kampus membatasi gerakan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa saat ini.

"Penting ditegaskan, bahwa di alam demokrasi, kebebasan berekspresi, berserikat dan mengemukakan pendapat, termasuk mengkritik pemerintah, harus dijaga," ujar Fairuz.

Atas rentetan permasalahan yang mendera Indonesia saat ini, BEM Unej juga mengajak mahasiswa lebih peduli permasalahan bangsa. Minimal dengan berdoa atau ikut serta dalam beberapa diskusi mahasiswa menyikapi kondisi terkini.

"Kami menyerukan kepada seluruh mahasiswa untuk lebih sadar dan peduli, bahwa negeri kita tidak sedang baik-baik saja," tutup Fairuz.

Baca juga:
Mahasiswa Tewas Tertembak Saat Demo, Kapolres Kendari Dirotasi
Fakta-Fakta 6 Polisi Bawa Senjata Api Saat Demo Berujung 2 Mahasiswa Tewas di Kendari
Kontras Minta Polri Usut Penyebab Akbar Alamsyah Koma Setelah Ikut Demo
6 Polisi Pembawa Senjata Api di Kendari Dibebastugaskan Untuk Kelancaran Pemeriksaan
Kasus Mahasiswa Tewas di Kendari, Polisi Uji Balistik ke Belanda dan Australia

(mdk/fik)