Mahfud: Lockdown pernah Dilakukan di Masa Lalu dengan Istilah Berbeda

Mahfud: Lockdown pernah Dilakukan di Masa Lalu dengan Istilah Berbeda
PERISTIWA | 26 Mei 2020 16:32 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Tradisi halal bi halal usai puasa atau Lebaran tidak hanya menjadi milik satu golongan atau agama. Di Indonesia, budaya tersebut menjadi kebiasaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, apapun agama yang dianutnya.

Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, yang juga Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia (Menko Polhukam RI) menyebut bahwa, halal bi halal merupakan tradisi di dalam Islam, bukan ajaran primer Islam. Menurut dia, tradisi Islam yang baik akan mendapat pahala dan bisa ditetapkan menjadi sunnah.

Menurut dia, perkembangan agama Islam tumbuh karena adanya budaya yang berperan menyebarkan kepercayaan ini. Seperti melihat halal bi halal dari sudut pandang sejarah dan tradisi di Indonesia.

"Dahulu halah bi halal ini disebarkan oleh para wali, salah satunya adalah Sunan Bonang. Ketika itu Sunan Bonang mengumpulkan orang-orang sekampung dan para santrinya. Kemudian menyampaikan bahwa jika seseorang telah melakukan ibadah puasa dengan baik dan melakukan dengan sungguh-sungguh maka dosanya akan diampuni," ujar Mahfud saat menjadi pembicara acara Halal bi Halal Idul Fitri 1441 H, Universitas Sebelas Maret (UNS) secara daring, Selasa (26/5).

Menurut Mahfud, Sunan Bonang menyampaikan hal tersebut berdasar akan hadis nabi yang berbunyi "Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan kehati-hatian maka seluruh dosanya diampuni."

Di akhir ceramah, Mahfud yang juga anggota Dewan Penyantun UNS ini juga menyinggung sikap masyarakat dalam menghadapi kondisi saat ini. Menurutnya, dahulu di zaman dahulu, wabah pernah terjadi. Hal yang dilakukan pada masa itu adalah dengan melarang warganya untuk masuk ke daerah yang terkena wabah, dan orang yang ada di wilayah wabah tidak diperbolehkan keluar karena akan menularkan penyakit.

"Secara tersirat, lockdown pernah dilakukan di masa lalu dengan istilah yang berbeda," tandasnya.

Dalam sambutannya, Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho menyinggung adanya budaya Nyepi yang biasa diadakan untuk memperingati tahun baru Sakai. Hal tersebut bisa dijadikan skenario untuk menghadapi kondisi saat ini.

"Istilah lockdown masih belum bisa dipahami oleh masyarakat. Sehingga bisa meminjam istilah yang lebih dekat dengan masyarakat untuk menghadapi kondisi saat ini," katanya.

Di bidang pendidikan, menurut dia, saat ini siswa dan mahasiswa tidak perlu dibebani dengan tugas yang menumpuk. Tetapi bisa membuat laboratorium sendiri di rumah masing-masing dengan menyesuaikan keadaan.

"Forgiven but not forgotten. Memaafkan tetapi tidak melupakannya. Itulah prinsip hidup yang harus digaungkan oleh sivitas akademika kampus benteng dan pelopor pancasila ini," pesan Jamal menutup sambutannya. (mdk/cob)

Baca juga:
Mahfud MD Beberkan Dasar Pertimbangan Munculnya Wacana New Normal
Mahfud MD: Kematian Akibat Lalu Lintas 9 Kali Lebih Banyak dari Corona
Menko Polhukam Mahfud MD Salat Idulfitri di Rumah Dinas
Rakyat Indonesia Diminta Silaturahmi Idul Fitri Terbatas Demi Cegah Penularan Corona
Mahfud MD Tanggapi Pernyataan Sekjen MUI Soal Larangan Salat di Masjid
Mahfud Tanggapi Sekjen MUI Soal Larangan Salat di Masjid Tapi Pasar Ramai

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agama Sejatinya Tidak Menyulitkan Umatnya - MERDEKA BICARA with Menteri Agama Fachrul Razi

5