Mahfud MD Minta Petinggi Negara Terus Turunkan Tensi Gejolak Papua

PERISTIWA » MALANG | 24 Agustus 2019 03:02 Reporter : Yunita Amalia

Merdeka.com - Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD mengimbau seluruh pejabat negara terus menjaga kondusifitas usai aksi demonstrasi masyarakat Papua. Ia juga menghargai sikap seluruh pihak yang berupaya menurunkan tensi insiden tersebut.

Dalam diskusi di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, Mahfud mengingatkan, kendati tensi demonstrasi masyarakat Papua telah menurun, seluruh pemangku kebijakan tidak boleh abai dengan aspek hukum yang terjadi dalam peristiwa itu.

"Agar terus ke depannya suasana dibuat kondusif dan dirunut masalah hukumnya agar tidak merembet-rembet," kata Mahfud, Jumat (23/8).

Pakar hukum tata negara itu mengatakan, selama ini proses hukum atas konflik di Papua tidak ada kelanjutannya. Atas pertimbangan itu, dia meminta agar pemerintah terus menjaga situasi kondusif terhadap masyarakat Papua sembari menindak segala aspek hukum yang dianggap telah menyalahi aturan.

"Pemicu isu rasis dan provokator untuk mengekskalasi gerakan juga harus ditindak hukum apalagi tendensi merobek-robek Republik kita," tandasnya.

Sementara itu tokoh masyarakat Papua, Simon Patrice Morin menilai, aksi demonstrasi oleh masyarakat Papua dan Papua Barat sebagai indikator bagi seluruh pihak agar mau melakukan dialog. Sebab menurutnya, segala permasalahan Papua hingga saat ini tidak akan selesai tanpa adanya dialog.

"Apa yang terjadi, di Malang dan Surabaya telah mentrigger, masalah Papua masih disembunyikan di bawah karpet," kata Simon yang juga hadir dalam diskusi Gerakan Suluh Kebangsaan.

Menurutnya, segala aksi masyarakat Papua belakangan ini merupakan ekspresi mereka bahwa pemerintah masih kurang memperhatikan kesejahteraan, pendidikan, dan segala kehidupan mereka.

Ia mengamini untuk menghentaskan kesenjangan ekonomis, hak asasi di masyarakat Papua tidak otomatis dilakukan dalam waktu singkat. Perlu ada dialog oleh seluruh pihak.

"Kejadian ini trigger untuk Papua bangkit dan punya integrity dan harus treat dengan baik," tukasnya.

Senada dengan Simon, cendikiawan muslim Komaruddin Hidayat mengingatkan agar tidak ada lagi ujaran diskriminasi terhadap warga Papua. Berdasarkan antropologi, kata Komaruddin, ras masyarakat papua adalah ras tertua yaitu Melanesia. Itu pula sebagai salah satu ras nenek moyang Indonesia.

Sikap masyarakat Papua yang ditujukan minggu ini menurutnya adalah sikap menjaga harkat dan martabat mereka. Dan itu perlu dipahami seluruh pihak.

"Ini bukan masalah ekonomi, ini dignity. Sekarang ini harga diri itu butuh dipahami. Kita punya banyak utang budi ke Papua oleh karena itu jangan kita lukai," ujar Komaruddin.

Baca juga:
Anggota DPR: Perlu Pendekatan Ekonomi dan Keamanan Tuntaskan Masalah Papua
Kronologi TNI-Polri Tembak Anggota KKB Papua karena Ancam Warga
Aksi Solidaritas Desak Kominfo Aktifkan Akses Internet di Papua
Beri Miras ke Mahasiswa Papua di Bandung, Kapolsek Sukajadi Dinonaktifkan
Cerita Anies Baswedan Punya Asisten Pribadi Asal Papua

(mdk/rnd)