Mahfud MD Ungkap Kelompok Ferdy Sambo Ibarat Kerajaan yang Berkuasa di Polri

Mahfud MD Ungkap Kelompok Ferdy Sambo Ibarat Kerajaan yang Berkuasa di Polri
Cerita Mahfud MD. Youtube/Kemenko Polhukam RI ©2021 Merdeka.com
NEWS | 18 Agustus 2022 15:29 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menko Polhukam Mahfud MD mengungkapkan, Ferdy Sambo memiliki kelompok besar di internal Polri. Dia mengibaratkan kelompok Ferdy Sambo ini sebagai kerajaan yang berkuasa.

"Kalau ini tidak antar institusi, tetapi di dalamnya (Polri) sendiri ada banyak masalah. Yang jelas ada hambatan-hambatan di dalam secara struktural. Karena ini tidak bisa dipungkiri ada kelompok Sambo sendiri yang seperti menjadi kerajaan Polri di dalamnya, seperti sub Mabes yang sangat berkuasa," kata Mahfud dalam kanal Youtube Akbar Faizal Uncensored, dikutip merdeka.com Kamis (18/8).

Menurut Mahfud, hal ini yang menyebabkan pengusutan kasus penembakan Brigadir J banyak hambatan. Bahkan hambatan dirasakan pula oleh Kapolri.

Melihat hal tersebut, Mahfud menilai Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) perlu melakukan pembenahan internal.

"Disembunyikan dari Kapolri oleh orang-orangnya Sambo. Sehingga Kapolri agak terasa lambat. Tetapi dia kan responsif terhadap isu-isu dari luar, misalnya komunikasi dengan kita dengan masyarakat. Dia jalan sehingga semuanya selesai meski agak terlambat," tegas Mahfud.

2 dari 2 halaman

Mahfud membagi pihak kepolisian yang terlibat penyelidikan kasus pembunuhan Brigadir J ke dalam tiga klaster. Pertama, Sambo sendiri sebagai pihak yang merencanakan dan mengeksekusi.

Klaster kedua, pihak yang melakukan obstruction of justice, yakni menghalangi penyelidikan dengan membuang barang bukti, merilis pernyataan palsu, dan sebagainya. Klaster ketiga, pihak yang terpaksa ikut-ikutan karena instruksi dari kedua pihak sebelumnya.

"Kelompok ketiga yang cuma ikut-ikutan, kasihan nih. Karena jaga disitu kan, terus ada laporan harus diteruskan dia teruskan. Padahal laporannya tidak benar," katanya.

Klaster pertama dan kedua ini menurutnya perlu dikenakan hukuman pidana. Sedangkan klaster terakhir cukup diberikan disiplin atas pelanggaran etik.

Reporter: Michelle Kurniawan (mdk/ray)

Baca juga:
Timsus Polri Besok Periksa Istri Sambo, Bakal Umumkan Temuan Baru Kasus Brigadir J
Jokowi Marah karena Penanganan Kasus Pembunuhan Brigadir J Lambat
Kompolnas Desak Polri Segera Sidang Etik Irjen Ferdy Sambo
IPW Ungkap Pengaruh Irjen Ferdy Sambo: Buktinya 35 Personel Polri Langgar Kode Etik
'Lembaran Baru' Bharada E: Digugat Mantan Kuasa Hukum

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Opini