Makam Balita tanpa Kepala Dibongkar, Tulang Leher Korban Diperiksa

Makam Balita tanpa Kepala Dibongkar, Tulang Leher Korban Diperiksa
PERISTIWA | 18 Februari 2020 11:06 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Tim Forensik Polri membongkar makam AYG (4), balita yang ditemukan tewas tanpa kepala di Samarinda. Usai autopsi hampir 2 jam, tim forensik membawa tulang penyambung leher balita.

Pantauan merdeka.com di lokasi, tim Forensik Polri dibantu tim Inafis Polresta Samarinda mulai membongkar makam di Pemakaman Muslimin Jalan KH Damanhuri, sekira pukul 08.00 WITA. Terlihat di lokasi, ayah kandung korban, Bambang Sulistyo (38).

Usai makam dibongkar, jenazah balita yang hanya menyisakan tulang itu kemudian dibawa ke tempat lain untuk memudahkan pemeriksaan forensik.

Pemeriksaan forensik dilakukan di bawah pengamanan tim Polresta Samarinda, Polsek Samarinda Kota. Bahkan tim Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kalimantan Timur, juga berada di lokasi, guna melakukan penyelidikan lanjutan kasus itu.

Ditemui wartawan usai autopsi yang berlangsung 2 jam, dokter Forensik Polri Kombes Pol Sumy Hastry Purwanti tidak berkomentar. Namun demikian, Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman menerangkan, ada sampel tulang yang akan dibawa ke Puslabfor Polri di Jakarta.

"Kita tunggu hasilnya. Ada sampel tulang, untuk memastikan penyebab kematian," kata Arif di pemakaman, Selasa (18/2).

Sampel tersebut adalah tulang penyambung leher korban. "Bagian penyambung leher. Soal kapan hasilnya, saya kurang tahu. Secepatnya nanti akan kami sampaikan hasilnya," ujar Arif.

Masih di lokasi pemakaman, Bambang saat dikonfirmasi merdeka.com berharap hasil autopsi merupakan hasil independen, tidak diintervensi dan tanpa tekanan pihak manapun.

"Apapun hasilnya kami terima, meski hasilnya sama seperti kemarin. Tapi dari polisi kan terus mengembangkan kalau ada bukti-bukti baru," kata Bambang.

Bambang memberi sinyal, dia dan keluarga yang kini didampingi kuasa hukum, mengantongi bukti baru terkait kematian balitanya.

"Saya tidak bisa sebutkan (bukti baru) di sini. Nantilah kami koordinasikan ke kepolisian. Kalau ada, kami tidak bisa bilang, tapi kami nanti telusuri," demikian Bambang.

Terkait kasus ini, polisi menetapkan dua pengasuh PAUD, Marlina (26) dan Tri Suprana Yanti (52) sebagai tersangka karena kelalaiannya, mengakibatkan korban meninggal. Meski telah dilakukan pemeriksaan forensik oleh dokter forensik RSUD AW Syachranie, keluarga tidak puas mengadu ke pengacara kondang Hotman Paris.

Orangtua Yusuf, Bambang Sulistyo (38) dan Meli Sari (30) sempat ke Jakarta pada Rabu (12/2). Mereka menemui pengacara kondang Hotman Paris. Tujuannya meminta bantuan Hotman agar mendorong pihak kepolisian mengungkap sebab kematian anaknya.

"Selain bertemu Pak Hotman Paris, rencana juga akan melapor ke Mabes Polri," ucap Bambang.

"Karena menurut saya sebagai orangtua, meninggalnya anak saya tidak hanya selesai di persoalan kelalaian pengasuh. Tapi, harus diusut lebih jauh lagi," tambahnya.

Bambang mempersilakan proses hukum 2 tersangka dari engasuh PAUD terus bergulir. Namun demikian, sebab kematian Yusuf diduga tidak wajar, tetap menyisakan pertanyaan besar.

"Kami duga, ada indikasi tindak kekerasan atau ada pelaku jual beli organ tubuh balita," ujar Bambang. (mdk/cob)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami