Mana Tahan, film pertama Warkop DKI bikin mengocok perut
PERISTIWA | 2 September 2012 16:26 Reporter : Mohamad Hasist

Merdeka.com - Berbicara mengenai film-film yang dibintangi oleh Dono, Kasino dan Indro (DKI) tak ada habisnya. Sudah puluhan film dibintangi trio DKI ini. Sejak akhir tahun 70-an sampai pertengahan tahun 90-an film mereka selalu menghiasi layar lebar dan layar kaca.

Film-film mereka selalu menjadi hits dan tren. Film-film komedi yang mereka suguhkan selalu menjadi primadona. Setiap film mereka selalu mengundang gelak tawa dan mengocok perut.

Bahkan, saking larisnya film Dono, Kasino dan Indro, produksi film mereka dalam satu tahun sampai dua kali. Film mereka biasanya diperuntukkan masa edar di bioskop-bioskop utama di Indonesia bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri dan malam pergantian tahun.

Nah, dari puluhan film Dono, Kasino dan Indro, mungkin film Mana Tahan paling menyedot perhatian. Film ini juga menjadi film pertama Warkop DKI, sebutan kelompok Dono, Kasino dan Indro.

Film Mana Tahan pada tahun 1980-an mampu menyedot 400.816 penonton. Angka itu tentu sangat fantastis di tengah situasi perfilman waktu itu.

Film yang mengisahkan tentang anak kampung bercita-cita kuliah di Jakarta ini memancing tawa. Cerita singkatnya, Indro dan Dono adalah anak daerah dari Purbalingga. Kedunya bertemu di kereta. Keduanya sama-sama ingin kuliah di Jakarta dan indekos di tempat Rahayu Effendi. Di tempat indekos itu juga ada Kasino dan Nanu.

Pertemuan mereka inilah menjadi titik lawakan mereka. Banyolan ala Jawa, Batak dan Betawi campur aduk dalam film tersebut. Di tambah bintang tamunya Elvy Sukaesih yang memerankan pembantu seksi.

Keberadaan Elvy menambah cerita semakin berkarakter dan lucu. Ketiganya bersaingan mendapatkan Elvy. Di tengah cerita, Elvy rupanya hamil, dan informasi ini terdengar sampai ketelinga Rahayu yang menjadi ibu kos. Setelah diselidiki, ternyata yang menghamili adalah mantan suami majikan yang diperankan oleh Kusno Sudjarwadi.

Singkat cerita, meski dalam perjalanan kuliah Dono, Kasino dan Indro diwarnai berbagai macam problema mereka akhirnya bisa menyelesaikan tugasnya sebagai mahasiswa dan menjadi sarjana.

(mdk/has)

TOPIK TERKAIT