Ma'ruf Amin Ingin Penanganan Terorisme Tidak Represif

PERISTIWA | 13 Oktober 2019 22:28 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024 Ma'ruf Amin meminta penanganan radikalisasi, intoleransi dan terorisme di Indonesia tidak dilakukan secara represif. Menurutnya, lebih baik dilakukan secara lebih intensif, baik dari segi struktural mau pun kultural.

"Pencegahannya lebih intensif, dan ke depannya dengan cara yang soft, artinya tidak represif tapi pendekatannya yang soft untuk menangkal mau pun mengembalikan mereka yang terpapar," ujar Ma'ruf di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta, seusai besuk Menko Polhukam Wiranto, Minggu (13/10).

Dari segi struktural, kata dia, penanganan bisa dilakukan dengan melibatkan Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah mau pun ormas-ormas Islam lainnya.

Sedangkan dari segi kultural, penanganan radikalisme, terorisme dan intoleransi dapat dilakukan dengan mengedepankan program deradikalisasi, tidak hanya dari hilir, tetapi juga dari hulu, sehingga dampak positif pencegahan dapat dirasakan secara menyeluruh.

Menko Polhukam Wiranto diserang oleh orang tidak dikenal saat melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10) siang.

Akibat penyerangan tersebut, Wiranto dikabarkan terkena dua tusukan di perut dan sempat dirawat di RSUD Berkah, Pandeglang, kemudian dirujuk ke RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Pelaku penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto yang bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara diduga terpapar paham radikal.

Afiliasi pelaku dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia masih didalami.

Baca juga:
Hendropriyono Sebut Aksi Terorisme Ingin Bikin Indonesia Hancur
Terduga Teroris yang Rumahnya Digeledah Adalah Driver Ojek Online
GP Ansor Ajak Warga Laporkan Ajakan Radikalisme Pasca Penusukan Wiranto
Tangkap Terduga Teroris di Cirebon, Densus Sita Buku & Belati Kecil
Meninggal di Nusakambangan, Napiter Asal Tasikmalaya Dibawa ke Kampung Halaman

(mdk/did)