Hot Issue

Membuka Tabir Penembakan Pendeta di Intan Jaya

Membuka Tabir Penembakan Pendeta di Intan Jaya
PERISTIWA | 4 Oktober 2020 06:03 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Hampir dua pekan kasus penembakan dialami Pendeta Yeremia Zanambani, di Intan Jaya, Papua, pada 19 September lalu. Pelaku penembakan hingga kini masih simpang siur.

Tercatat dalam bulan September ada tiga kasus penyerangan dan penembakan terhadap warga sipil dan TNI hingga menewaskan dua anggota TNI-AD dan satu warga sipil serta dua sipil lainnya terluka.

Adapun nama-nama korban, yaitu pada kejadian Selasa (15/9), dua tukang ojek terluka, Kamis (17/9) dua orang meninggal, yakni Serka Sahlan dan Badawi yang berprofesi tukang ojek, serta pada Sabtu (19/9) dua orang meninggal, yakni Pratu Dwi Akbar Utomo dan Pdt Yeremia Zanambani.

Namun kasus penembakan terhadap Pendeta Yeremia menjadi sorotan setelah pihak TNI dan gereja silang pendapat mengenai pelaku. TNI menyebut pelaku penembakan Pendeta Yeremia adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Pernyataan TNI ini sekaligus membantah kabar yang beredar di media sosial yang menyebut pendeta ditembak TNI. KKB dan kelompoknya disebut TNI senantiasa memutarbalikkan fakta tentang berbagai insiden yang terjadi. Sekaligus menyudutkan TNI/Polri dan Pemerintah.

"Memang benar ada laporan tentang meninggalnya tokoh agama akibat luka tembak di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Intan Jaya pada Sabtu (19/9)," kata Kapen Kogabwihan III, Kol Czi IGN Suriastawa melalui rilisnya, di Jayapura, Minggu (20/9).

Saat ini tim investigasi yang dipimpin langsung Komandan Danrem 173/PVB Brigjen TNI Iwan Setiawan masih memeriksa dan mendalami insiden penembakan tersebut.

Hal senada diungkapkan kepolisian. Lokasi pendeta Yeremia ditembak di Kampung Hitadipa, Distrik Hitadipa, Intan Jaya, Papua, disebut polisi merupakan tempat Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

"Tudingan dari berbagai pihak yang menyebutkan penembakan itu dari TNI-Polri, padahal di situ tidak ada anggota kita. Bahkan wilayah itu basis yang ditempati lima kelompok dari KKB," kata Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).

Paulus meminta pelbagai pihak untuk tidak menuding aparat sebagai pelaku dan dalang dari penembakan itu. Dia berharap agar para tokoh masyarakat di Papua untuk bekerjasama mendukung Polri dan TNI menyelidiki kasus tersebut.

Menurut dia, insiden penembakan pendeta itu sengaja dipropagandakan sejumlah pihak guna kasus tersebut dibawa dalam sidang PBB yang akan di gelar mendatang.

Dia mengungkapkan akan segera mengambil langkah cepat dengan Pangdam Kodam XVII Cenderawasih guna menangani teror kelompok separatis tersebut menambah personel.

"Ini propaganda yang dilakukan mengingat akan digelarnya sidang PBB, dan kita semua paham tentang itu. Jadi beberapa para pihak yang mencoba mendramatisasi kejadian tersebut," kata dia.

Paulus menjelaskan polisi bersama TNI telah bersiap untuk melakukan olah Tempat Kejadian Pekara (TKP) guna mengungkap insiden tersebut. Namun demikian untuk melakukan olah TKP pihaknya masih mengalami kendala mengangkut aparat keamanan TNI-Polri. Akibat serangan KKB yang membuat para maskapai enggan untuk melakukan penerbangan.

Terlebih telah beredarnya video ancaman dan teror yang di lontarkan oleh juru bicara TPNPB OPM, Sebby Sambon yang berdurasi 1 menit 20 detik sempat viral media sosial pada Sabtu 19 September 2020 lalu.

Baca Selanjutnya: Jokowi Didesak Turun Tangan...

Halaman

(mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami