Memilih Jalan Hidup Sebagai Tukang Ojek Pangkalan

Memilih Jalan Hidup Sebagai Tukang Ojek Pangkalan
PERISTIWA | 27 Februari 2020 06:03 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Arifin (57), mau tidak mau lahannya mencari makan digerus oleh ojek online. 7 Tahun bekerja sebagai tukang ojek di pangkalan, pendapatannya menurun drastis akibat fenomena ojek online.

Fenomena ojek online tengah menjadi tren di Indonesia. Hanya tinggal pesan lewan ponsel, si tukang ojek langsung menjemput anda dimanapun berada. Bukan cuma itu, teknologi berbasis aplikasi online ini juga bisa mengantar pesanan makanan yang anda mau kapan pun.

"Dulu mah bisa sampai Rp150 ribu per harinya, sekarang 100 ribu saja susah banget dapatnya," ujar Arifin, sembari menyeka keringatnya menanti penumpang di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Di tengah era disrupsi saat ini, profesi yang paling tergerus zaman adalah ojek pangkalan, atau populer disingkat Opang. Kecemburuan sosial tak bisa dihindarkan.

Di awal karir, ojek online mendapatkan banyak penolakan. Bahkan tak jarang berujung bentrok hingga harus berurusan dengan penegak hukum. Ya, itu risiko sosial dari perkembangan teknologi yang semakin canggih.

1 dari 2 halaman

Keadaan ini membuat tukang ojek pangkalan berpikir keras, mencari lahan lain untuk bisa menyambung hidup. Ada banyak perut yang mesti diisi di rumah.

"Banyak teman-teman saya yang masih dendamlah ibaratnya kalau pelanggannya diambil ojek online, mereka-mereka itu masih belum terima teknologi sekarang, kalau saya mah kalau ada penumpang ya saya antar kalau enggak ya berarti bukan rezeki saya," ujar Arifin.

Samsudin (55) pengemudi Opang lainnya, sama sekali merasa tidak iri dengan ojek online. Ia mengaku dengan pekerjaan sebagai ojek pangkalan ini masih mampu menghidupi tiga anak dan satu istri dalam keluarga kecilnya.

"Kurang lebih saya mendapat 40-50 ribu dalam sehari," kata Samsudin, Senin (24/2).

Samsudin mengakui perkembangan zaman yang semakin maju dan canggih, sebab itu ia tidak heran lagi jika semua orang beralih kepada ojek online.

"Memang semuanya ada masanya, dulu ojek pangkalan bisa dapat Rp 300 ribu sehari, karena enggak ada saingan dan semuanya masih murah," ujar Samsudin.

Banyak kerabat Samsudin yang dulu sebagai ojek pangkalan kini beralih ke ojek online. Namun dia tetap memilih jalan hidup sebagai ojek pangkalan. Bukan tanpa alasan, umurnya sudah tak lagi muda. Tidak bisa mendaftar sebagai ojek online.

Terlebih kondisi fisik serta motor yang sudah tua. Begitu juga dirinya yang gagap menggunakan gawai, sebagai 'alat perang' ojek online.

"Sekarang saya lebih memilih untuk menjalani apa yang terjadi saja karena kalau beralih ke online kan juga banyak biaya. Beli handphone yang canggih, ganti motor yang baru, jadi ya mending gini saja," kata Samsudin sambil menunjuk motornya.

2 dari 2 halaman

Ia pun tidak menentukan tarif kepada penumpang dengan sendirinya. Menurutnya, ojek pangkalan masih memiliki adat kekeluargaan sama seperti halnya di pasar tradisional yang masih menjunjung tinggi kegiatan tawar menawar.

Berbeda dengan pasar modern atau supermarket yang sudah menentukan harga pas dan tidak bisa ditawar.

Sama hal nya dengan ojek pangkalan yang di mana penumpang menanyakan tarif ke tempat tujuan lalu menawarnya dan ojek pun menerima tawarannya.

"Biasanya penumpang nanya tarif ke tempat tujuan terus saya bilang Rp15 ribu, lalu penumpang menawar Rp10 ribu dan saya mengiyakannya," ujar Samsudin.

Dia juga tidak pernah melakukan tindakan kriminal atau pemerasan terhadap penumpangnya karena ia sadar kalau teknologi sudah berkembang, jadi orang-orang memilih ojek online yang dinilai lebih murah itu hal yang wajar.

"Saya enggak pernah narik dengan harga yang tidak wajar, saya ikutin pasar ojek pangkalan saja, kadang malah ada dari pangkalan sini ke komplek rumahnya ya sekitar 1,5 kilo lah cuma bayar Rp5000 saya terima saja mas," tutup Samsudin.

Reporter Magang: Habib Awaluddin (mdk/rnd)

Baca juga:
Ada Penumpang Digetok Bayar Rp750 Ribu, Ini Tips Hindari Tukang Ojek Nakal
Pengendara Ojek Online Ngamuk Usai Ditilang di Margonda
Erick Tohir: Saya Keberatan Ojek Dianggap Rendahan
Kisah cinta tukang ojek pengkolan ini sukses bikin baper
Anggota Kodim Bekasi dikeroyok 20 orang saat lagi nyambi jadi tukang ojek
Ojek pangkalan: Nanti pindah kalau ada Satpol PP

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami