Menag Sebut Santri dan Pesantren Bagian Sejarah Kemerdekaan RI

PERISTIWA | 19 September 2019 20:43 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan santri merupakan bagian penting dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Santri juga selama ini memiliki peran penting dalam menjaga persatuan Indonesia. Demikian disampaikan Menag dalam peringatan Hari Santri 2019 di Auditorium HM Rasjidi, Balai Diklat Kemenag RI, Jakarta Pusat, Kamis (19/9) malam.

"Santri dan pesantren telah menjadi bagian sejarah kemerdekaan bangsa dan memiliki kontribusi besar dalam menjaga persatuan," jelasnya.

Menag menyampaikan, peran santri dan pesantren dalam menjaga persatuan ini terlihat saat ada ancaman disintegrasi dengan memanfaatkan sentimen agama. Dalam keadaan demikian santri tetap mendukung dan pasang badan demi keutuhan NKRI.

Hari santri tahun ini mengambil tema 'Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia'. Dalam kesempatan ini, Menag menyampaikan, dalam konteks isu global, pondok pesantren memiliki posisi cukup signifikan dalam wacana perdamaian dunia. Pesantren menjadi contoh pendidikan Islam yang mampu menjadi 'laboratorium perdamaian'.

Di pesantren, santri-santri digembleng dengan keilmuan yang mendalam dan dibekali dengan karakter humanis, inklusif, toleran, dan moderat. Dalam perkembangannya para santri siap berperan sebagai duta-duta perdamaian di tengah dinamika yang sering mendapat ujian perpecahan, konflik, bahkan peperangan.

Tema perdamaian merupakan salah satu respon atas terpilihnya Indonesia sebagai salah satu anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB tahun 2019-2020 bersama empat negara lainnya yakni, Jerman, Republik Dominika, Belgia, dan Afrika Selatan. Umat Islam Indonesia adalah populasi muslim terbesar di dunia yang salah satunya direpresentasikan oleh kaum santri.

Entitas ini memiliki andil besar dan terus berperan aktif dalam menyokong cita-cita perdamaian global yang tidak menghendaki adanya diskriminasi, ketidakadilan, terorisme, invasi, kolonialisme, dan lain-lain.

Menag menyampaikan, saat ini pembahasan RUU Pesantren telah tuntas dibahas di tingkat pertama dan disetujui seluruh anggota Panja RUU Pesantren DPR RI. Setelah disetujui Panja akan dibawa ke paripurna untuk disahkan menjadi UU. UU pesantren ini menurutnya sebagai bentuk pengakuan dan afirmasi kebijakan pemerintah yang berpihak pada pesantren.

"Karena kita tahu tidak ada pesantren didirikan pemerintah. Beda dengan sekolah, madrasah atau perguruan tinggi. Semua pesantren lahir dari masyarakat sendiri karena itu negara perlu beri pengakuan, afirmasi sekaligus fasilitasi sehingga pesantren tak semata mampu dijaga tetapi ini dirawat dan dikembangkan di masa mendatang sehingga pesantren memiliki kemampuan merespons tantangan zaman," jelasnya.

Sementara itu Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir menyampaikan santri di masa ini harus memiliki bekal menghadapi tantangan dan isu global saat ini seperti perang dagang, terorisme dan lainnya. Tantangan harus ditaklukkan dengan menyiapkan dan memajukan sumber daya manusia.

"Kita harus memiliki daya saing tinggi. Saya ingat ketika saya di pesantren saya ikut berorganisasi, saya ikut bermusik, saya ikut berolahraga, saya ikut pramuka. Kalau saya sekarang berjas dan berdasi, saya belajar berjas dan berdasi pertama di pesantren. Jadi sejak awal pesantren sudah mendidik para santri pertama untuk memiliki keikhlasan, kedua untuk membentuk jaringan," jelasnya.

Dengan peringatan hari santri ini, Wamenlu berharap kapasitas santri terus ditingkatkan. Termasuk juga keterbukaan dalam berinteraksi dengan dunia internasional.

"Kita berharap melalui rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional ini kita bisa meningkatkan kapasitas kita, kemampuan kita sekaligus keterbukaan kita berinteraksi dengan dunia internasional dan berkontribusi bagi perdamaian dunia," pungkasnya.

Baca juga:
Jokowi: Saya yang Buat Perpres Hari Santri, Kok Dibilang Anti Ulama?
Cak Imin Lepas 4 Pemenang Jalan Sehat Sarungan saat Hari Santri Untuk Umrah
Sambil Bersarung, Ribuan Santri di Kediri Ikuti Jalan Sehat
Habib Syech Bin Abdul Qadir Assegaf Ingatkan Umat Islam Cintai Indonesia
PDIP: Hadirnya bendera HTI di Garut upaya provokasi menciptakan konflik
Amankan aksi bela Tauhid, polisi siagakan 12.000 personel

(mdk/eko)