Menakar Efektivitas Rektor Asing Dongkrak Kualitas Perguruan Tinggi

PERISTIWA | 21 Agustus 2019 08:36 Reporter : Intan Umbari Prihatin

Merdeka.com - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mewacanakan akan mengundang rektor dari luar negeri untuk memimpin Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan ranking perguruan tinggi dalam negeri agar bisa mencapai 100 besar dunia.

Mantan rektor Universitas Diponegoro ini bahkan sudah menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mendorong agar wacana tersebut segera terwujud. Dalam pertemuan yang berlangsung di Istana Negara pada Senin (19/8), Presiden Jokowi setuju dengan wacana rektor asing, namun perlu ada peraturan yang diperbaiki.

Natsir menjelaskan terdapat 16 peraturan yang direvisi. Salah satunya terkait kriteria rektor yang sebelumnya hanya terdaftar sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan merupakan warga negara Indonesia (WNI). Nantinya bisa dari non-PNS serta orang asing yang miliki citra baik.

Saat ini, dia juga akan mendorong perguruan tinggi swasta terlebih dahulu (PTS) untuk bisa menerapkan rektor asing. Sebab menurut dia lebih mudah dan tidak terlalu rumit dalam menerapkan peraturan.

"Saya akan dorong Universitas Swasta bisa masuk dulu. nanti negeri, kami akan tata peraturan pemerintah," kata Natsir di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (19/8).

Terkait siapa rektor luar negeri yang akan dipilih, Nasir mengemukakan, tim Kemenristekdikti saat ini sedang membahas kriteria apa yang diperlukan dari pemerintah agar PTN yang dipimpin rektor tersebut mampu mencapai 100 besar dunia.

"Saya sudah laporkan kepada Bapak Presiden dalam hal ini wacana untuk merekrut rektor asing ini, yang punya reputasi. Kalau yang tidak punya reputasi, jangan. Tidak mesti orang asing itu baik, belum tentu. Nanti kita cari," ujarnya.

Nasir menyampaikan praktik rektor asing memimpin perguruan tinggi negeri atau perguruan tinggi publik di suatu negara lumrah dilakukan di luar negeri, terutama di negara-negara Eropa, bahkan Singapura juga melakukan hal yang sama.

Nasir mencontohkan Nanyang Technological University (NTU) yang baru didirikan pada 1981, namun saat ini sudah masuk 50 besar dunia dalam waktu 38 tahun.

"NTU itu berdiri tahun 1981. Mereka di dalam pengembangan ternyata mereka mengundang rektor dari Amerika dan dosen-dosen beberapa besar. Mereka dari berdiri belum dikenal, sekarang bisa masuk 50 besar dunia," jelasnya.

Nasir juga menyampaikan dengan rektor luar negeri dan dosen luar negeri meningkatkan ranking perguruan tinggi Indonesia, rakyat Indonesia akan lebih dekat dengan pendidikan tinggi yang berkualitas dunia.

Nasir mencontohkan banyaknya masyarakat Indonesia yang harus pergi ke luar negeri, termasuk NTU untuk mendapatkan pendidikan tinggi terbaik. "Karena rektor asing dan kolaborasinya yang ada di Singapura, (NTU) bisa mendatangkan mahasiswa dari Amerika, Eropa, bahkan Indonesia ke sana," ungkap Nasir.

Salah satu aspek yang sering dibahas saat mengundang rektor luar negeri adalah gaji rektor asing tersebut yang diperkirakan akan memberatkan anggaran PTN yang dipimpinnya.

"Saya harus bicara dengan Menteri Keuangan juga, bagaimana kalau rektor dari luar negeri, kita datangkan ke Indonesia. Berapa gaji yang harus dia terima? Berapa komparasi negara-negara lain? Bagaimana bisa dilakukan, tetapi tidak mengganggu stabilitas keuangan di perguruan tinggi," tandasnya.

Wapres JK Usul Tenaga Pendidik Asing Dimulai dari Dekan

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pun setuju dengan wacana tersebut. Perekrutan tenaga asing dalam sektor pendidikan dinilai JK sebagai upaya meningkatkan daya saing SDM dalam menghadapi persaingan dengan negara lain.

"Ya kita setujui sejak awal bahwa negara ini untuk maju hrus bersaing dengan negara-negara lain," kata JK di Kantornya, Selasa (20/8).

Namun tenaga asing dalam sektor pendidikan perlu bertahap. Dia mengusulkan agar dimulai dari dekan asing dahulu dibanding rektor asing. Sebab menurut dia, sekitar 80 persen kegiatan teknis jabatan dekat di universitas.

"Saya sarankan dekan dulu. Karena rektor bukan hanya teknis, tapi juga administrasi dan politik," ucap JK.

Dia menilai perekrutan dekan asing lebih efektif daripada mengirim pelajar Indonesia ke luar negeri.

JK menjelaskan setiap tahun ada puluhan ribu pelajar berangkat ke luar negeri. Sebab itu menurut dia, rekrutmen pimpinan universitas asing di dalam negeri akan lebih efisien untuk mempercepat kualitas pendidikan. Terkait pro dan kontra tenaga pendidik asing yang akan hadir di Indonesia, JK meminta masyarakat tidak perlu khawatir. Sebab pelajar yang dikirim ke negara lain saja tidak masalah.

"Banyak yg mengatakan, wah nanti tidak ada pelajar bahasa dan pancasila, loh kita kirim puluhan ribu juga tidak apa apa, supaya lebih mudah lebih cepat, boleh, bikan harus ya, boleh meskipun Universitas itu dipimpin," kata JK.

Rektor Asing Maksimal di 5 Peguruan Tinggi

Sementara pengamat pendidikan Andreas Tambah menilai wacana mendatangkan rektor asing tidak perlu dipermasalahkan. Seharusnya perlu disikapi dengan positif. Sebab menurut Andreas, mutu pendidikan Indonesia saat ini belum terlalu baik. Seperti rektor-rektor di Perguruan Tinggi belum bisa diandalkan.

"Mengingat peringkat PT kita masih bagus, dan sepertinya rektor-rektor kita hingga saat ini belum ada yang bisa diandalkan. Saya pikir tidak ada salahnya bila pemerintah mewacanakan hal itu," kata Andreas saat dihubungi merdeka.com, Rabu (21/8).

Tetapi kata dia, pemerintah perlu memetakan perguruan tinggi mana yang dibutuhkan tenaga pendidik atau rektor asing. Dia mengusulkan maksimal 5 peguruan tinggi. Kemudian rektor yang didatangkan menurut dia, harus memiliki citra yang baik. Lalu perlu adanya tenggat waktu rektor asing tersebut sanggup mengembangkan perguruan tinggi yang dipimpinnya.

"Perlu pasang target, berapa tahun rektor asing itu sanggup meng grow-up PT yang dipimpinnya," kata Andreas.

Dia mencontohkan dari lima rektor asing yang memimpin suatu perguruan tinggi jika memiliki reputasi baik. Rektor tersebut akan diperbantukan lagi untuk perguruan tinggi lain. Sehingga pengadaan rektor asing membuat tata kelola perguruan tinggi jadi lebih baik.

"Dari 5 rektor yang di hired tentu nantinya ada yang paling bagus, nah rektor yang paling bagus inilah yang nanti bisa digulirkan ke PT yang lain," kata Andreas.

Baca juga:
Menristekdikti: Rektor Asing Akan Dimulai Dari Perguruan Tinggi Swasta
Menristekdikti Minta Masyarakat Tak Alergi Hadirnya Rektor Asing ke Indonesia
Muhammadiyah Siap Jadi Rumah Profesor Tua
Wapres JK Setuju Wacana 'Impor' Rektor Asing Tetapi Dilakukan Bertahap
Bertemu Wapres JK, Rektor UGM Setuju Wacana Rektor Asing
Mensesneg Soal Rektor Asing: Intinya Kompetisi
Penjelasan Istana Soal Rencana Jokowi Impor Rektor

(mdk/gil)