Menatap Perbankan Libra

PERISTIWA | 27 Agustus 2019 11:29 Reporter : Hery H Winarno

Merdeka.com - Oleh: Dahlan Iskan

Ada teori lama: kalau pun semua uang yang ada di dunia ini dikumpulkan jadi satu. Lalu dibagi rata ke semua penduduk dunia. Apa yang akan terjadi?

Dalam 10 tahun kemudian akan sama lagi. Uang itu akan dibelanjakan. Lalu mengalir kepada orang-orang tertentu lagi. Yang kaya akan kembali kaya. Yang miskin tetap tidak akan punya uang lagi. Itulah yang selalu didengung-dengungkan pengagum teori kapitalisme: usaha pemerataan itu sia-sia. Kalau caranya lewat belas kasihan.

Orang kaya bekerjanya lebih keras. Tidak seperti yang saya bayangkan saat saya sangat miskin dulu: orang kaya itu enak.

Orang kaya tidak pernah berhenti berpikir. Jatuh bangun. Tidak putus asa untuk terus berusaha. Termasuk berusaha menipu orang miskin. Secara tidak disadarinya. Atau bahkan ada yang secara penuh disadarinya. Saya selalu berdoa agar teori lama itu segera usang: dengan kian baiknya tingkat pendidikan. Dan terutama oleh majunya teknologi informasi.

Penghambatnya terlalu banyak. Termasuk berkembangnya sikap dasar 'hidup itu untuk mencari kebahagiaan'. Bukan untuk menumpuk harta. Padahal penganut doktrin itu kalau tidak punya uang tidak bahagia juga. Bahkan bisa membuat temannya ikut tidak bahagia.

Perdebatan di sekitar itu tidak pernah ada ujungnya. Yang belakangan bisa disepakati adalah perlunya sistem keuangan yang inclusive. Bagaimana meluaskan akses ke lembaga keuangan. Untuk siapa saja. Terutama untuk masyarakat yang selama ini termarjinalkan.

Caranya yang belum ditemukan. Yang efektif yang bagaimana. Memang meluasnya kredit kecil sangat penting. Jumlah penerima kredit kecil (Rp 1 juta sampai Rp 5 juta) terus membesar. Yang tingkat kegagalan pengembaliannya amat kecil. Yang kemudian membuat bank merasa nyaman bergerak di kredit kecil. Ternyata menguntungkan. Dan aman. Meski ruwet penanganannya bukan main.

Tapi itu belum bisa mengatasi ketimpangan. Tetap saja sistem perbankan yang kita kenal sangat pro kapitalis. Pernah ada perjuangan yang cukup serius. Untuk mengubah sistem perbankan secara radikal. Meski kesannya kembali ke zaman kuno. Yakni mengembalikan mata uang ke dinar. Atau dirham. Setidaknya uang yang beredar harus disesuaikan dengan emas yang disimpan. Gagal.

Harus dicari cara lain lagi. Yang bisa membuat struktur keuangan benar-benar berubah. Yang bisa membuat kelompok yang rakus uang terbatasi geraknya.

Saya pernah menulis ide revolusioner: Baiknya uang itu diberi masa berlaku. Ada tanggal daluarsanya. Begitu melewati tanggal itu uang tersebut tidak laku lagi.

Dengan demikian orang tidak serakah. Tidak terus menumpuk uang. Sampai untuk tujuh turunan. Yang dia sendiri sampai tidak tahu kapan akan memakai uang itu. Bahkan tidak tahu sama sekali bagaimana cara menghabiskannya.

Coba pikir. Kalau sampai pemilik uang tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Kalau pemilik uang tidak tahu kapan habisnya.

Kalau pemilik uang tidak pernah melihat --apalagi memegang-- uangnya. Apakah yang ia tumpuk itu uang? Masih bisa disebut uang? Bukankah definisi uang adalah 'alat untuk belanja'? Atau 'alat pertukaran barang'?

Kesimpulan saya: uang jenis itu adalah bukan uang. Itu hanya angka-angka. Yang berapa nol-nya Anda pun tidak tahu. Tulis saja sendiri saja: berapa pun nol-nya. Toh hanya angka. Padahal di kehidupan lain begitu banyak yang merindukan angka-angka itu.

Saya pernah tahu cerita seorang pejabat. Atau anak pejabat. Anak tunggal. Putri. Begitu banyaknya uangnya. Sampai bungkus kotak tisu di rumahnya saja Hermes! Dan tidak hanya satu atau dua. Itu pun belum bisa menghabiskan uangnya. Yang entah dari mana datangnya.

Kalau saja uang diberi tanggal kedaluarsa tidak akan ada lagi yang menumpuk uang sampai lupa membelanjakannya.

Tapi sistem perbankan yang ada tidak memungkinkan ide itu dilakukan. Mereka tidak menaruh uang di bank. Yang mereka taruh hanya angka-angka. Itu pun angka elektronik pula. Yang secara teknis tidak bisa diberi tanggal kedaluarsa.

Kini muncul harapan baru: terbitnya uang Libra. Sebentar lagi. Yang dipromotori oleh Facebook. Nama 'libra' itu sendiri kelihatan sangat kuno. Zaman Romawi pernah ada mata uang Libra. Yang di beberapa negara modern kemudian menjadi lira. Kini tinggal Turki yang mata uangnya disebut Lira. Setelah mata uang lira Italia menyatu ke dalam Euro.

Dengan Libra sistem perbankan akan berubah total. Bank sentralnya adalah 'cloud'. Berkembangnya penggunaan big data, algoritma, AI, dan HP akan menyelesaikan semua kerumitan di sistem perbankan. Termasuk menyelesaikan kerumitan nilai tukar. Analis kredit. Flow of money. Apa pun.

Sistem 'perbankan libra' akan begitu sederhananya. Berarti biaya-biaya administrasi dan operasional perbankan menjadi nya menjadi nyaris nol. Nyaris hilang. Transaksi apa saja menjadi lebih murah.

Saya sedang di Tiongkok lagi saat menulis naskah ini. Saya merasakan begitu berubah ya sistem kehidupan di Tiongkok. Khususnya yang terkait dengan uang.

Seluruh transaksi sudah nyaris tidak ada lagi yang kontan (cash). Tidak lagi terlihat ada uang beredar. Termasuk di kaki lima. Di pasar sayur. Apalagi di restoran.

Kertas menu pun sudah tidak ada. Untuk melihat menu bisa klik QR di pojok meja. Daftar makanan bisa dilihat di layar HP. Berikut gambar makanannya. Membayarnya juga dengan HP. Perkembangan baru itu memang menjadi faktor pendorong lahirnya libra di Facebook nanti.

Memang negara seperti Jepang akan kaget-kaget. Dari Tiongkok itu saya ke Jepang. Sangat berbeda. Di Jepang masih serba cash. Lebih cash dari di Amerika. Yang orang lebih banyak menggunakan kartu kredit.

Perubahan teknologi memang memungkinkan negara miskin mempunyai alat untuk melompat. Bisa tiba-tiba mendahului negara yang lebih maju. Tidak ada lagi keharusan 'urut kacang'. Negara maju melakukan hal baru duluan, negara miskin mengikuti di belakangnya.

Infrastruktur keuangan di negara maju sudah terlanjur mapan. Juga terlanjur besar. Lebih sulit untuk berubah. Kelebihan negara miskin adalah: bisa cepat berubah. Atau bisa bersikap 'nothing to lose' untuk berubah.

Tinggal kita.
Mau berubah atau tidak.
Mumpung kita lagi memperingati hari kemerdekaan.

Tulisan ini pernah dimuat di Buku Merdeka edisi ketiga

(mdk/hhw)