Menekan Anak Kecanduan Gadget Lewat Rumah Baca

PERISTIWA | 15 November 2019 03:34 Reporter : Ananias Petrus

Merdeka.com - Banyak anak di Indonesia mengalami gangguan saraf akibat kecanduan game di smartphone. Untuk mencegah dampak buruk kecanduan game online, seorang polisi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mendirikan sebuah rumah baca.

Rumah baca ini diberi nama 'Batu Piak' oleh Bripka Thomas Radiena bersama sang istri Ratna Radiena. Walau ruang belajar dan buku bacaan terbatas, namun rumah baca ini selalu ramai dikunjungi oleh anak-anak, setelah kembali dari sekolah mereka masing-masing.

1 dari 2 halaman

Sisihkan Gaji Tambah Koleksi Buku

Anggota Propam Polres Kupang Kota itu menyisihkan sedikit gajinya untuk menambah koleksi buku bacaan di rak. Terkadang dia mendapatkan kiriman dari beberapa komunitas pendidikan.

Menurut Bripka Thomas Radiena, motivasi mendirikan rumah baca hanya untuk memberikan pendidikan sedini mungkin, serta membantu anak-anak nelayan, petani maupun tukang bangunan putus sekolah, disekitar rumah di RT 02, RW 03, Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima.

"Anak-anak di sini kekurangan akses terhadap apapun, jadi anak-anak lebih banyak putus sekolah untuk mencari pekerjaan yang instan, setelah dapat uang sudah sekolah tidak dilanjutkan lagi. Sehingga lihat situasi seperti ini, saya dan istri berinisiasi satu ruangan kecil untuk dijadikan sebagai rumah baca, biar mereka datang dan belajar walaupun non formal sehingga anak-anak semangat untuk kembali ke sekolah formal," jelasnya, Kamis (14/11).

Ia menuturkan, buku yang tersedia di rumah baca yang didirikan yakni, buku pendidikan anak, komik, dongeng maupun buku pelajaran sekolah. Sehingga sangat membantu anak-anak menyelesaikan tugas sekolah.

"Rumah baca ini didirikan untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Ini bisa mengajak kembali mereka ke buku, yang selama ini mungkin mereka tinggalkan karena game online di gadget," ujar Bripka Thomas.

Target Bripka Thomas dan istri yakni, anak-anak di lingkungan tersebut bisa mempunyai semangat untuk kembali bersekolah, melalui pendidikan non formal yang Ia dirikan.

"Targetnya kita itu agar mereka tidak putus sekolah, artinya mereka bisa mendapatkan akses pendidikan non formal sehingga mereka itu tidak mengingat lagi hal instan yang mereka dapatkan dari pekerjaan sebagai nelayan dan lain-lain, setelah ada pendidikan di lingkungan mereka," ungkapnya.

2 dari 2 halaman

Anak Putus Sekolah

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ratna Radiena, bahwa rumah baca sederhana tersebut didirikan untuk sedikit mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget. Selain itu banyak yang putus sekolah, selain datang untuk diberi bahan ajaran, mereka juga diberi nasehat agar kembali bersemangat melanjutkan pendidikan.

"Anak-anak di sini kan latar belakang pekerjaan orang tua mereka itu ada yang nelayan, tukang bangunan, sehingga tidak begitu maksimal mengawasi penggunaan gadget kepada anak-anak, niat kami hanya untuk sedikit alihkan perhatian mereka untuk membaca buku," tambahnya.

Kendala yang dihadapi rumah baca 'Batu Piak' saat ini yaitu, keterbatasan buku bacaan. "Yang menjadi kendala itu karena kurang buku bacaan, pernah ada puluhan siswa sekolah dasar yang datang mengerjakan tugas disini. Disini kalo pagi itu sedikit anak-anak karena ada yang pergi ke sekolah, nanti sore setelah pulang sekolah, rumah ini dipenuhi anak-anak," tutup Ratna. (mdk/gil)

Baca juga:
Kecanduan Games & Video Porno, 3 Siswa SMP Jalani Terapi di RSJ Palembang
Dampak Kecanduan HP, 2 Remaja Alami Gangguan Jiwa dan Tak Nyambung Diajak Bicara
Sejumlah Gejala Fisik dan Mental yang Mungkin Dialami Karena Kecanduan Internet
Puasa Dopamin, Tren Teknologi Baru yang Populer di Silicon Valley
Masalah Kecanduan Gawai pada Anak Sudah pada Tahap Memprihatinkan
Pasien Anak Kecanduan Game di RSJD Solo Melonjak
Gara-Gara Kecanduan Game HP, 3 Anak di Semarang Jalani Terapi Gangguan Jiwa