Menelusuri Dugaan Perundungan di Balik Bunuh Diri Siswi SMPN 147

PERISTIWA | 21 Januari 2020 20:34 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Penyidik Polres Jakarta Timur hingga kini masih mendalami kasus kematian siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 147, Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur, berinisial SN (14). Termasuk dugaan perundungan atau bullying yang dialami korban yang menjadi motif bunuh diri pada peristiwa 14 Januari lalu.

"Kita masih lakukan klarifikasi terhadap saksi-saksi. Kepolisian sangat berhati-hati dalam memeriksa saksi-saksi, terutama yang di bawah umur," kata Kasat Reskrim Polrestro Jaktim AKBP Hery Purnomo di Jakarta, Selasa (21/1).

Penyidik telah memeriksa orangtua SN, Dinar Ariefianto sejak Senin (20/1) malam, selama delapan jam lamanya. Ketua tim pengacara Dinar, Defrizal Damaris mengatakan, salah satu poin yang disampaikan kliennya kepada penyidik yakni bahwa anaknya jadi korban perundungan di sekolah.

"Korban pernah curhat ke kakaknya mengenai perundungan di sekolah. Tapi mungkin bukan perundungan fisik. Perundungan verbal, ini yang lagi digali kepolisian, apa motifnya," kata Defrizal di Mapolrestro Jakarta Timur.

Defrizal menuturkan, SN bercerita kepada kakak tertuanya itu setelah sang ibu meninggal karena sakit. Di mata SN, kakak perempuannya itu sebagai pengganti sosok ibu.

"Pernah salah satunya dia (SN cerita) dikeluarkan dari grup WA di sekolah. Kalau bully fisik sih enggak pernah disampaikan ke ayahnya," ujarnya.

Defrizal menuturkan, informasi dugaan perundungan baru disampaikan kakak tertua SN ke orang tuanya beberapa waktu lalu. Tepatnya usai SN loncat dari lantai 4 sekolahnya dan berada di ruang ICU RS Polri Kramat Jati.

"Setelah almarhumah (SN) meninggal, kakaknya pernah cerita bahwa dia (SN) pernah merasa di-bully di sekolah, segala macam. Tapi bully seperti apa kan ayahnya enggak tahu," ujarnya.

Defrizal menyayangkan pihak sekolah, pihak Sudin Pendidikan Jakarta Timur, dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang tak langsung melaporkan peristiwa loncatnya SN kepada kepolisian. Sebab, kejadian tersebut baru diketahui dua hari setelah peristiwa.

"Kita menyampaikan ada dugaan bullying juga karena ada pengakuan dari kakaknya almarhumah. Curhat-curhat adiknya mengenai bullying di sekolah, tapi bully seperti apa yang ditahu pernah dikeluarkan dari grup sekolah," ujar Defrizal.

1 dari 4 halaman

Pihak Sekolah Tertutup

Merdeka.com mencoba menggali dugaan perundungan itu yang menjadi motif SN melompat dari lantai 4 dengan mendatangi SMPN 147 yang berada di Jalan Jambore, Kelurahan Cibubur, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Saat upaya meminta konfirmasi dilakukan, awalnya dijanjikan dapat wawancara Kepala Sekolah SMPN 147 Narsun. Namun tiba-tiba dibatalkan dengan alasan dipanggil kepolisian. Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana dan Humas SMPN 147 Misnetty yang ditemui meminta media tidak memojokkan sekolah dalam peristiwa ini.

"Mas, kita ini sudah serahkan ke pihak kepolisian ya, satu pintu dan semua sudah dijelaskan sama kepolisian. Jadi tolong jangan sampai anak-anak didik kita jadi semakin trauma akan hal ini," katanya di lokasi, Selasa (21/1).

2 dari 4 halaman

SN Dikenal Sosok yang Ramah

Bagaimana keseharian SN di sekolah diungkapkan oleh dua orang teman dan seorang guru SN yang mengenang korban sangat ramah. Bahkan, SN pernah mentraktir teman-teman nonton di bioskop.

"Kenal dan suka nyapa, tapi cuma sapa doang. Dia baik, saya pernah (dijajanin). Dia temannya banyak. Dia banyak teman, aktif juga, dia friendly. Dia terkenal dari kelas 7 sampai 9. Pokoknya dia itu selalu nyapa," kata K yang merupakan teman sekelas SN.

"Dia rata-rata punya teman semua kelas. (Jadi korban bully) enggak ada, paling cuma sebatas bercanda aja. (Masalah sama guru) Enggak tau. Dia pernah traktir 1 bioskop untuk satu angkatan dia, enggak tau dalam rangka apa," sambung K.

Hal senada disampaikan oleh B yang merupakan teman sekelas SN. B menilai tidak ada perilaku yang aneh selama dirinya kenal SN.

"Dia orangnya baik, ramah, murah senyum. Dia anak sekolah biasa. Enggak ada musuh. Saya kenal dari kelas 7 waktu di Pramuka. Dia aktif, hobi gambar. Kita di sini enggak ada bully," kata B.

3 dari 4 halaman

Masalah Keluarga

Sementara itu Kepala Unit Kesehatan Sekolah Yuni menyampaikan, kalau SN tak pernah punya masalah dengan teman-temannya. Namun, ia tak tahu apabila ada masalah di dalam keluarga.

"Anaknya baik, ceria, suka gambar dan kayaknya enggak ada masalah keluarga, tapi saya enggak tahu juga ya," kata Yuni.

Namun, soal masalah keluarga ini diungkapkan oleh K, teman sekelas SN yang menyampaikan kalau korban pernah bercerita dirinya ada masalah keluarga. Namun, ia tak tahu masalah apa.

"Pernah dengar aja, tapi enggak ke saya, saya cuma tahu kalau dia pernah cerita keluarga dia. (Keluarganya bagaimana?) Nggak tau jelas," ujar K.

4 dari 4 halaman

Tinggal bersama Nenek

Usai mendapatkan keterangan dari sekolah, merdeka.com mendatangi alamat rumah korban yang jaraknya sekitar 100 meter dari sekolah. Dari keterangan yang dihimpun, SN tinggal bersama neneknya di rumah itu setelah ibunya meninggal dunia dan bapaknya menikah kembali.

Saat tim ke lokasi, tak ada yang mau memberikan keterangan apapun. Bahkan, tim diminta untuk meminta izin oleh Ketua RW setempat. Ketua RW menunjukkan rumah tersebut. Tak ada aktivitas yang terlihat dari depan rumah.

Berdasarkan informasi, rumah tersebut selalu terlihat sepi. Sebab, para penghuni atau kakak atau adik dari ibu korban telah pindah ke luar negeri usai menikah. (mdk/bal)

Baca juga:
KPAI Duga Siswi SMP 147 Bunuh Diri usai Ditinggal Meninggal Ibunya
KPAI Turun Tangan di Kasus Siswi SMP 147 Ciracas Bunuh Diri
Kepsek SMPN 147 Jakarta Tegaskan Siswanya Bunuh Diri Bukan Karena Dibully
Pelajar SMP 147 Ciracas Diduga Bunuh Diri, Komisi VIII DPR sebut Sekolah Lalai
Siswi SMP di Ciracas Diduga Bunuh Diri, Guru dan Teman Diperiksa Polisi

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.