Menelusuri Jejak Peninggalan Mbah Beji di Depok

PERISTIWA | 18 Januari 2020 17:03 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Warga Depok dan sekitarnya pasti tak asing mendengar kata Beji. Sebuah kecamatan di sisi utara Depok. Lokasinya berbatasan dengan Jakarta Selatan.

Saat ini, Beji menjadi salah satu kawasan terpadat di Depok. Selain permukiman penduduk, dua kampus besar ada di sana. Universitas Indonesia dan Politeknik Negeri Jakarta.

Walau cukup terkenal, tak banyak yang tahu Beji juga memiliki cerita sejarah tentang 'Cagar Budaya Sumur 7 Mbah Raden Wujud Beji'. Konon, sosok Mbah Raden Wujud Beji inilah menjadi asal usul penamaan daerah Beji.

Satu dari tujuh Cagar Budaya Sumur Mbah Raden Wujud Beji berada di tengah-tengah permukiman penduduk Jalan Keramat Jaya I, RT1/RW2, Beji, Depok. Berdekatan dengan SD Negeri Beji 2 Depok. Gapura sederhana bercat hijau menjadi gerbang utama menuju kawasan sumur ke-1.

Sumur ke-1 berada di sisi utara areal memiliki luas lebih kurang 5 meter persegi. Sumur ke-1 berbentuk seperti kolam. Bagian dinding berupa batu dan semen. Meski kedalaman mencapai 3 meter, bagian dasar sangat terlihat jelas karena airnya yang jernih.

Dua ekor ikan gabus meliuk-liuk di dalam sumur. Tidak diketahui asal-usulnya. Terlihat pula gelembung kecil yang diyakini menjadi sumber mata air di sini.

Satiri, ketua RT 1/RW 12 sekaligus pengurus Situs Cagar Budaya Sumur 7 ke-1, menceritakan kemunculan sumur ini tak lepas dari perjalanan Raden Wujud Beji. Menurutnya, Raden Wujud Beli seorang auliya (Wali Allah) sekaligus ulama asal Cirebon yang kerap bermusyafir menyebarkan agama Islam.

Menurutnya, Depok memiliki hubungan erat dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dalam penyebaran agama Islam. Hal tersebut karena Depok kerap dilintasi oleh utusan dari kedua kesultanan tersebut dalam menyebarkan agama Islam.

Saat melakukan penyebaran agama Islam di Depok, Raden Wujud Beji berkonfrontasi dengan kompeni Belanda. Kondisi tersebut menyebabkan Raden Wujud Beji menetap sementara di Depok yang waktu itu didominasi permukiman warga etnis Tionghoa.

"Pada akhirnya Mbah Raden Wujud Beji bersembunyi di sini, di permukiman China yang sekarang itu disebut Pondok Cina. Beliau diterima oleh penduduk setempat dan juga menjadi salah satu tokoh masyarakat," cerita Satiri di lokasi Kamis (16/1).

Saat itu, Mbah Raden Wujud Beji melihat Depok merupakan area hutan dan persawahan yang subur untuk bercocok tanam.

"Beliau menyebarkan agama Islam di sini sambil bercocok tanam, karena dahulu di sini adalah wilayah persawahan," tutur Satiri.

Suatu ketika, kekeringan melanda Depok karena kemarau berkepanjangan. Mbah Beji berusaha mencari titik mata air.

"Beliau mencari titik mata air. Nah ditemukanlah 7 titik yang sekarang jadi 7 sumur. Beliau memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan mata air. Dan Alhamdulillah keluarlah air," katanya.

Saat ini, kata Satiri, keberadaan sumur tersebut menjadi berkah tersendiri bagi warga sekitar. Apalagi jika musim kemarau tiba. Sebab sumur tetap dipenuhi air.

"Warga sering ambil air di sini untuk masak, untuk segala macam, cuma kalau nyuci gak kita bolehin," tuturnya.

Selain sumur, area tersebut juga terdapat bangunan setinggi 1,5 meter yang biasa digunakan untuk bersuci, seperti mandi tetap harus tetap seizin Satiri dan dipandu tata cara bersucinya. Kemudian, terdapat musala ukuran 5x2,5 meter di sisi barat untuk melaksanakan salat wajib maupun sunnah.

Kawasan cagar budaya ini juga dilengkapi dua saung berukuran 5x4 meter terletak di dekat pintu masuk. Kolam ikan gurame yang terletak di barat sumur. Cocok buat yang ingin bersantai.

"Alhamdulillah saya juga tanamin kangkung, pas panen kita bagi ke tetangga tetangga sedikit-sedikit biar ngerasain, ada juga cabe, kemangi, apel, buah tin," kata Satiri tersenyum.

"Juga ada tanaman obat-obatan, ada jahe lengkuas, pohon kelor, pohon sirih, pohon Dadap, pohon saga, pohon Teleng, obat obatan herbal, banyak warga juga dateng ke sini untuk cari obat," tambahnya.

1 dari 1 halaman

Berharap Pemkot Depok Lestarikan Peninggalan Sejarah

Satiri meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk mengurus sumur yang juga diamanatkan oleh kakeknya, yaitu almarhum Haji Salim.

"Pesan beliau (orang tua Satiri) hati-hati jangan sampai salah langkah, mungkin saya pikir jangan musyrik, menyekutukan Allah," ujar Satiri.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2012 Satiri mulai memperbaiki areal ini. Satiri mengawali dengan membabat dan membakar pohon dan semak belukar yang ada di sini selama 3 bulan.

"Saya undang warga setempat sekitar 110 orang. Cuman ilang semua karena takut kesurupan sama binatang melata, karena dulu serem tempat ini bahkan siang pun banyak yang takut karena rimbun dulunya banyak pohon enggak keurus," jelas Satiri.

Setelah dilakukan pembersihan dengan cara membakar tumbuhan-tumbuhan liar. Barulah warga berani ke areal ini dan turut membantu dalam proses perbaikan.

"Ada dermawan yang datang menyumbangkan material pembangunan batu kali 2 truk setengah, pasir satu truk, sama semen 50 sak, Alhamdulillah. Lalu saya ratakan dahulu tempat ini karena curam setelah itu saya mengundang warga untuk kerja bakti Alhamdulillah seiring waktu tempat ini sudah rapi," ujarnya.

Satiri berharap Pemerintah Kota Depok ikut melestarikan peninggalan sejarah yang ada di sana.

"Harapan saya untuk Pemerintah Kota Depok, orang nomor 1 Depok, cintailah peninggalan sejarah di Kota Depok ini karena banyak tempat-tempat bersejarah di kota Depok ini tidak terurus, tapi kembali ke manusianya juga jangan salahin Pemerintah Depok, padahal tempat ini tidak keurus karena enggak peduli manusianya," ujar Satiri.

Dia juga berharap Pemerintah Kota Depok membangun banyak museum untuk menyimpan barang-barang bersejarah.

"Kalau ada museum di Kota Depok ini, anak-anak sekolah enggak perlu jauh-jauh, kan bisa dateng ke museum Kota Depok sendiri. Jadi kalau anak-anak mau lihat sejarah enggak jauh-jauh, karena Depok punya sejarah juga sendiri. Jangan lihat sejarah di kota lain tapi sejarah di Depok belum tau," pungkasnya.

Reporter Magang:Bagus Kusumo Sejati (mdk/lia)

Baca juga:
Rekam Jejak Tragedi Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck di Lamongan
Koin Islam dari Masa Khalifah Harun al-Rasyid Ditemukan di Israel
Petugas akan Angkat Arca Ganesha Purbakala dari Dieng usai Tahun Baru 2020
Natal di Gereja Berusia 300 Tahun Peninggalan Portugis
GPIB Immanuel, Gereja Tertua di Medan
VIDEO: Mengenal Jejak Sejarah Gereja Katedral di Kota Malang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.