Menelusuri Kolam Eks Tambang Batubara di Samarinda yang Menewaskan Bocah Ahmad

PERISTIWA | 24 Juni 2019 20:38 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Bocah Ahmad Setiawan (10) murid kelas IV SD meninggal di kolam bekas tambang batubara di Samarinda, Kalimantan Timur. Ahmad menjadi korban ke-35 yang meregang nyawa kolam eks tambang batubara di Kalimantan Timur.

merdeka.com coba mendatangi lokasi pada Senin (24/6) sore. Dari pusat Kota Samarinda, jarak sampai ke lokasi sekitar 8 kilometer atau lebih kurang 15-20 menit. Tiba di Jalan Gang Saka harus berjalan mesti berjalan kaki 500 meter atau lebih kurang 30 menit untuk sampai ke lokasi. Medan yang dilalui sedikit menantang, harus melewati jalan perbukitan naik dan turun, khas area pertambangan batubara.

Sebelum masuk ke lokasi tambang, berdiri baliho proyek perumahan oleh kontraktor swasta. Satu unit rumah tipe 36 sedang dibangun tukang bangunan di lokasi.

Di dekat kolam maut yang merenggut nyawa bocah Ahmad, ada bekas galian lain sedalam sekitar 5-6 meter. Pada bagian dinding bekas galian terlihat emas hitam.

Sejak awal berjalan kaki hingga tiba di kolam dengan warna air hijau kebiruan itu, sama sekali tidak terlihat plang peringatan, pagar pembatas maupun sekuriti. Padahal hal itu menjadi kewajiban perusahaan usai menambang emas hitam. Sebab secara kasat mata, kolam itu terlihat dangkal.

Koordinator Inspektur Tambang Dinas ESDM Kalimantan Timur, Deni Wibawa, menerangkan dilihat dari titik koordinat, kolam itu bekas galian tambang PT IBP pengantong izin pertambangan dari Kementerian ESDM.

"Lokasi ini, ditambang dari tahun 2008 sampai 2013. Dari penjelasan PT IBP, laporan triwulan I 2019, lokasi ini direklamasi termasuk penutupan lubang bekas tambang dan selesai tanpa genangan air sama sekali. Meski memang belum melakukan proses vegetasi," sebut Deni.

Namun, kata Deni, dari hasil investigasi yang dilakukannya, jika mengamati bentuk bekas galian, ada pihak lain yang membuka kembali lubang bekas tambang menggunakan alat berat pada Maret 2019 lalu.

"Dibuka oleh siapa, saya tidak tahu. Itu ranah polisi. Memang, perusahaan (PT IBP) harus terus mengontrol di area konsesinya," terang Deni.

Ketika ditanya soal kewajiban perusahaan, apalagi perusahaan tambang besar yang mendapat izin Kementerian ESDM, untuk memasang plang peringatan agar warga tidak mendekat maupun pagar keliling, Deni tidak menjelaskan gamblang.

Yang menarik, begitu merdeka.com kembali dari penelusuran kolam bekas tambang itu, terlihat ada ekskavator di sekitar lokasi kolam. Belum tahu jelas apakah ekskavator itu, yang melakukan aktivitas galian. Namun demikian, entah di mana pengemudi ekskavator itu.

Baca juga:
Bocah SD Tewas Tenggelam di Bekas Tambang Samarinda, Jadi Korban ke-35
KLHK Selidiki Kaitan Banjir Bandang dengan Pertambangan di Sultra
4 Penambang Bijih Timah Tertimbun Longsor Tanah di Bangka Belitung, 1 Meninggal Dunia
Bayar Bunga Utang, Bumi Resources Tak Bagi Dividen
Tahap Akhir Penambangan Batu Hijau Ditargetkan Selesai di 2026
Pembangunan Smelter Amman Mineral Baru Mencapai 13,6 Persen
Pemprov Kaltim Tuding Aktivitas Tambang Batu Bara Turut Sebabkan Banjir Samarinda

(mdk/lia)