Menengok Gerakan Berbagi Nasi Bungkus 'Nasi Estafet' di Yogyakarta

PERISTIWA | 8 Desember 2019 02:34 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Seorang pria bernama Adit Dibyandaru (32) menggagas sebuah gerakan berbagi dengan mengusung nama 'Nasi Estafet'. Gerakan yang mulai digarap tiga bulan yang lalu ini merupakan gerakan berbagi nasi kepada sesama.

Ditemui di rumahnya di Gang Kalimantan nomor G 30, Jalan Kaliurang km 6,5, Kabupaten Sleman, Adit menuturkan bahwa 'Nasi Estafet' dipilih karena terinspirasi dari lari estafet. Di lari estafet, sambung Adit, ada yang memberi tongkat dan ada yang menerimanya dan terus berulang.

"Saya ibaratkan nasi bungkus yang disediakan itu seperti tongkat yang dibawa pelari estafet. Nasi itu diberikan dan diambil, begitu seterusnya," ujar Adit, Jumat (7/12).

Adit menjabarkan ide berbagi nasi bungkus ini lahir usai melihat adiknya yang bergiat di komunitas berbagi nasi bungkus. Sang adik berkeliling membagikan nasi bungkus pada orang-orang yang membutuhkan bersama rekan-rekan komunitasnya.

Adit menerangkan bahwa konsep berkeliling membagikan nasi bungkus kepada orang yang membutuhkan ini dirasa tak cocok dengan dirinya yang sibuk dan sudah berkeluarga.

Lantas Adit pun mencoba mencari model lain. Saat berselancar di dunia maya, Adit pun menemukan gerakan berbagi nasi bungkus tapi dengan model menaruhnya di sebuah etalase.

"Konsepnya simpel sih. Hanya ingin berbagi saja dengan cara yang lebih mudah. Soalnya kan sekarang banyak orang yang sibuk tapi ingin berbagi. Makanya kita buat etalase untuk menaruh nasi bungkus itu. Siapa saja boleh mengisi dan siapa saja boleh mengambil nasi bungkus itu. Ya jadilah namanya gerakan 'Nasi Estafet'," ungkap Adit.

Pria yang merintis usaha sablon ini pun mencoba mengadaptasikan gerakan itu di Yogyakarta. Adit pun lantas membuat akun instagram bernama @nasiestafet.jogja. Lewat akun instagram itu akhirnya banyak pihak yang mengirim donasi. Donasi itu lalu dibuatkan etalase untuk menaruh nasi bungkus.

Adit pun kemudian membuat empat buah etalase. Keempat etalase ini diletakkan di empat titik yaitu di Terminal Giwangan, di Jalan Patangpuluhan atau di depan Cromo Coffie, di Candi Gebang depan Masjid Nurul Falaah, dan satu lagi diletakkan di depan rumahnya.

Jumlah etalase bertambah satu lagi pada bulan November. Etalase kelima ini diletakkan Adit di depan toko komputer Starcomp yang ada di Jalan Kaliurang.

Lewat etalase yang dibuat itu, orang bebas untuk berbagi nasi bungkus. Berapapun jumlahnya nasi bungkusnya tetap bisa diletakkan di etalase 'Nasi Estafet' itu.

Selain itu Adit pun membuka donasi untuk orang yang ingin berbagi sebagai pendana. Uang itu nantinya dibelanjakan bahan dan dimasak.

"Jadi ada donasi juga. Biasanya yang kirim uang nanti dimasakkan terus nanti kita letakkan ke etalase itu. Kebetulan saya ada tenaga yang masak. Biasanya menunya kayak ramesan biar awet dan tidak cepat bau atau basi," ungkap Adit.

"Tapi kalau keburu banget ya bisa dengan ojek online. Nanti pesan di aplikasi ojek online terus nanti dikirim ke lokasi etalase. Biasanya kalau pakai ojek online, saya sengaja milih warung yang dekat dengan lokasi etalase. Biar warung di sekitar juga laku dan berbagi jalan terus," imbuh Adit.

Adit menerangkan nanti dari donasi itu akan dibagikan rata ke semua etalase. Adit menjelaskan setiap harinya ada donasi kurang lebih 60-80 bungkus di setiap titik etalase.

Adit menuturkan jika dirinya berharap berbagi nasi bungkus ini bisa setiap saat dilakukan. Saat ini, sambung Adit, baru di waktu-waktu tertentu saja ada donasi. Biasanya, Adit sengaja meletakkan nasi bungkus setiap pukul 11.00 WIB atau sesaat sebelum makan siang. Harapannya, orang yang membutuhkan makan siang bisa mengambil nasi bungkus itu.

Adit berharap ke depannya etalase 'Nasi Estafet' ini bisa terisi 24 jam dengan nasi bungkus lewat donasi siapa saja. Sehingga nantinya bisa banyak orang yang membutuhkan bisa terbantu dengan nasi bungkus yang diletakkan di etalase 'Nasi Estafet'. (mdk/ded)

Baca juga:
Kisah Guru di Perbatasan, Mandi di Sungai dalam Ancaman Buaya
Cerita Sedih Miliuner Pendiri Huawei, Hidup di Rumah Reot Hingga Harus Makan Gandum
Pasangan Ini Undang Tunawisma ke Pesta Pernikahannya, Alasannya Bikin Haru
Main Game Live Streaming di Facebook, Pria Ini Dapat Gaji Puluhan Juta Per Bulan
Kisah Pejabat-Pejabat Indonesia Tak Mempan Disuap
Kisah Judy Castelli, Wanita dengan 44 Kepribadian yang Pilih Jadi Motivator

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.