Menengok Keindahan Taman Nasional Danau Zamrud Siak

Menengok Keindahan Taman Nasional Danau Zamrud Siak
PERISTIWA | 14 Juli 2020 09:04 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Bentangan alam indah nan molek itu bernama Taman Nasional Danau Zamrud. Goretan indah sang pencipta tersebut memiliki luas 31.484 hektare. Lokasinya tersembunyi, pedalaman Sungai Apit Kabupaten Siak, Riau. Sekilas memandang, air danau ini berwarna kehitaman yang elegan, persis permata Zamrud.

Dari Sungai Rawa, Kampung Rawa Mekar Jaya, merdeka.com berangkat ke Danau Zamrud melalui jalur anak-anak sungai. Perahu bermesin atau biasa disebut pompong memecah hening aliran anak sungai yang mengalir harmoni menyatu ke dalam danau. Pompong adalah satu-satunya alat transportasi yang bisa digunakan untuk melihat keindahan danau Zamrud yang ditetapkan sebagai kawasan taman nasional itu.

Selain akses sungai, untuk menuju Danau juga bisa melewati jalan perusahaan minyak, BOB PT BSP-Pertamina Hulu di Kampung Dayun, Kecamatan Dayun. Namun, jika telah sampai tetap harus menggunakan pompong untuk mengelilingi danau yang masih perawan tersebut.

Tim berangkat pada Sabtu (13/7) bersama Bupati Siak Alfedri, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tarukim Siak Irving Kahar Arifin, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, Suharyono serta tim pecinta alam dan lainnya.

Untuk sampai ke lokasi, belasan sampan motor atau pompong berangkat sekitar pukul 9.30 Wib dan tiba sekitar pukul 15.00 Wib. Pompong yang digunakan juga tidak bisa berukuran besar. Sebab, di pinggiran sungai terdapat eceng gondok serta dasar sungai yang dikotori oleh tunggul kayu bekas tebangan di sepanjang sungai rawa.

Puluhan kali kapal pompong terguncang akibat menabrak tunggul itu. Bahkan, beberapa kapal mengalami kebocoran kecil dan nakhoda terpaksa menguras air agar kapal tidak karam. Sepanjang Sungai Rawa, banyak aksi illegal logging atau penebangan kayu secara illegal.

Kayu-kayu itu ditumpuk di pinggir sungai, ada yang di permukaan air, tak sedikit pula tersusun di daratan. Namun saat memasuki pintu masuk Taman Nasional Danau Zamrud, barulah terlihat pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Eceng gondok menghiasi permukaan air. Burung-burung bernyanyi serta desiran angin menghibur tim yang kelelahan karena perjalanan panjang. Satu jam dari pintu masuk, tim tiba di pondokan yang memang dibangun untuk penjaga TN Zamrud.

Tim beristirahat dan makan siang sekitar pukul 15.00 Wib. Dua tempat kerambah ikan yang lumayan besar menjadi tempat duduk bersila menikmati santapan makan siang, ikan yang diberikan nelayan setempat.

"Tadi beberapa kali kapal kita menabrak tunggul kayu, saya sudah biasa dengan kondisi di air, sejak kecil saya sudah naik sampan," kata Bupati Siak, Alfedri.

Alfedri mengakui, perjalanan yang ditempuhnya terbilang eksotis. Ini merupakan pertama kalinya dia menempuh perjalanan menuju Zamrud melalui Sungai Rawa. Karena biasanya ke danau itu melalui jalur darat. Lelah, tetapi puas, itulah yang dirasakannya.

Tim sangat menikmati asam pedas ikan toman, sambal selais dan gulai ikan Baung. Dermaga yang berdiri di atas kerambah ikan juga dimanfaatkan untuk tempat salat oleh Alfedri, dan tim lainnya secara bergantian.

Tak sampai di situ, Alfedri kembali melanjutkan perjalanan untuk mengelilingi danau Zamrud yang memakan waktu satu jam lebih. Dari dermaga, butuh waktu 30 menit untuk tiba di bibir danau, menyusuri sungai kecil yang terhubung ke danau.

1 dari 1 halaman

Berencana Permudah Akses

Setibanya di danau, terlihat pemandangan pepohonan, gelombang kecil yang terbentuk karena tiupan angin. Kapal pompong berpencar, sebagai menyusuri pinggiran, dan yang lainnya menjajal sampai ke tengah danau. Air danau tampak gelap, karena memang dasar danau yang sangat dalam, diperkirakan 50 meter.

"Kedalaman danau Zamrud diperkirakan 50 meter. Kita mengeksplorasi jalur baru dari Sungai Rawa di Kecamatan Sungai Apit menuju Danau Zamrud," kata Alfedri.

Untuk menjadi lokasi wisata, pemerintah harus membersihkan pinggiran agar tidak banyak memakan waktu. Tunggul-tunggul di dasar sungai itu menjadi hambatan bagi nakhoda pompong. Jika tak hati-hati, kapal bisa bocor dan karam. Terpaksa pelan-pelan.

Pemkab Siak bersama BBKSDA Riau berencana membuka akses menuju Zamrud agar lebih mudah dilalui. Selain jalur air, pemerintah juga berencana memanfaatkan jalur darat yang telah ada. Bisa dari Dayun, juga dari Sungai Apit.

Alfedri mendapat keluhan dari warga terutama yang terkendala kondisi alam menuju Zamrud. Sungai Rawa satu-satunya jalur perairan menuju danau tersebut, harus dibersihkan.

Mereka sepakat untuk mengabulkan permintaan warga. Mereka akan merancang pembersihan Sungai Rawa. Perusahaan minyak milik pemerintah, PT BSP-Pertamina Hulu yang memang menjaga Zamrud akan dilibatkan.

"Tentunya kita melakukan kerjasama (MoU) dengan Kepala BBKSDA Riau, untuk pengembangan wisata di Taman Nasional Danau Zamrud di kawasan zona pemanfaatan," ucap Alfedri.

Dengan modal Surat Keputusan Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Pemkab Siak akan mengelola zona pemanfaatan di kawasan Taman Nasional Zamrud.

Di Zamrud itu, ada zona inti, zona transisi dan zona pemanfaatan. Nah, pada zona pemanfaatan itu, pemerintah bisa melakukan pengembangan pariwisata. Tahun ini BBKSDA Riau akan membantu 2 unit perahu motor untuk nelayan di Sungai Rawa dan Dayun.

Para pengunjung lokal maupun turis, akan disajikan tempat beristirahat, ibadah serta lokasi cenderamata dan kuliner. Warga setempat diberi kesempatan untuk mencari nafkah dengan berjualan di lokasi wisata tersebut.

Pengunjung nantinya juga akan dimanjakan dengan kendaraan Shuttle Bus untuk mengantar mereka masuk ke lokasi dari Dayun.

Di Zamrud, terdapat beberapa pulau-pulau kecil. Bahkan, ada pulau yang kerap berpindah karena terapung di atas air danau, beberapa kali dalam setahun. Pulau itu masih terlihat asri, belum terjamah.

"Kita akan siapkan kendaraan berupa bus ke tempat lokasi wisata yang dituju, kita siapkan juga pemandu wisata," kata Alfedri.

Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau Suharyono menyampaikan, konsep wisata alam di kawasan Taman Nasional Zamrud harus menyesuaikan kondisi alam, bukan memaksa kondisi alam untuk sesuai konsep.

Pengembangan pariwisata di Zamrud tetap memprioritaskan aspek-aspek konservasi dengan baik, seperti kelestarian lingkungan dan lainnya. Beragam satwa air dan darat harus dijaga kelestariannya, menjadi keunikan tersendiri di pulau-pulau yang berada di tengah dan pinggiran danau.

Empat pulau menjadi hiasan Danau Zamrud, yaitu Pulau Besar, Pulau Tengah, Pulau Bungsu, dan Pulau Beruk. Empat pulau itu terbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan mengiasi danau yang airnya berwarna kehitaman menyerupai batu permata Zamrud.

"Jadi konsepnya, kita yang harus menyesuaikan kondisi alam, bukan sebaliknya. Karena ini merupakan taman nasional," kata Suharyono. (mdk/eko)

Baca juga:
Pemerintah Kembangkan Teknologi Toilet Ramah Lingkungan di Lokasi Wisata
Enam Objek Wisata di Gunung Kidul Jalani Uji Coba Pembukaan Terbatas
Berkeliling Kota Berwisata Kuliner di Dalam Bus
Pemerintah Mulai Proyek 10 Desa Wisata Danau Toba
Telan Rp23 T, Tol Kuala Tanjung–Parapat Bakal Tingkatkan Wisata Danau Toba
Menikmati Kesegaran Air Terjun di Samadua Aceh

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami