Mengabdi untuk Negara Demi Hari Tua dan Orangtua

Mengabdi untuk Negara Demi Hari Tua dan Orangtua
PERISTIWA | 21 Februari 2020 07:26 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Mimpi gadis itu sederhana. Usai menyandang gelar sarjana, keinginannya hanya satu, menjadi abdi negara.

Pekerjaan itu cita-citanya sejak lama. Berharap lewat sumbangsih pemikiran membuat Indonesia lebih berjaya.

Dia selalu menunggu pengumuman formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Akhirnya, November 2019 lalu kabar itu muncul.

Ini tahun kedua dia kembali mencoba. Sebelumnya gagal, tetapi dia optimis niatnya mengabdi untuk negeri akan terjadi.

"Ini memang keinginan sendiri. Karena kalau jadi abdi negara itu bisa ngebantu masyarakat. PNS itukan itu lebih ke pelayanan masyarakat dan aku seneng di pelayanan juga terus bisa lebih mengabdi ke negara," kata wanita akrab disapa Ula saat berbincang dengan merdeka.com, (20/2).

Tahun ini, wanita 23 tahun itu mencoba peruntungan dengan melamar posisi asisten apoteker.

Selain ingin berbuat sesuatu untuk negara, Ula memilih profesi menjadi abdi negeri karena menjamin hidupnya sampai tua nanti. "Kalau dilihat dari masa depannya juga menjamin sampai tua, meskipun sudah pensiun nanti," katanya.

Diungkapkan Ula, hal terberat mengikuti seleksi CPNS bukan karena banyaknya peserta. Melainkan soal-soal saat tes kemampuan dasar.

"Perjuangannya ya di tes itu, tesnya sederhana tapi susah buat lolosnya itu, apalagi lolos passing gradenya masing-masing bagian," katanya.

Meski latar belakang pekerjaan kedua orangtuanya bukan pegawai negeri, Ula bersyukur langkahnya mendapat dukungan. Sampai-sampai, dia berniat mencoba kembali bila tes kali ini gagal kedua kalinya.

"Coba terus, karena masih penasaran buat bisa lolos tes CPNS. Apalagi ini didukung orangtua," ujarnya tertawa. Ula sudah menjalani tes pada Kamis (20/2) kemarin.

Meski syarat diminta panitia cukup banyak, para peserta berusaha melengkapinya demi mengikuti seleksi CPNS. Antusias masyarakat Indonesia tidak pernah surut. Padahal formasi kebutuhan tiap instansi sangat sedikit.

Mereka tidak menjadikan hal itu sebagai penghalang. Itu sebabnya, ketika gagal berkali-kali, semakin semangat mencoba lagi.

peserta tes cpns

1 dari 3 halaman

4 Tahun Ikut tes CPNS

Endi membuktikan itu. Empat tahun mencoba, akhirnya rezeki datang setelah dia absen 5 tahun mengikuti tes CPNS.

"Aku itu lulus kuliah tahun 2009, sejak itu, setiap ada pembukaan aku nyoba. Bahkan pas 2011 udah keterima kerja, masih coba juga. Jadi 2-3 tahun berturut-turut setelah lulus itu aku coba, tapi gagal terus," katanya saat berbincang santai dengan merdeka.com, Rabu (19/2).

Setelah gagal tes di 2011, Endi memutuskan fokus pada kerjaannya saat itu di salah satu perusahaan swasta. Sejak 2012, dia ogah ikut seleksi.

Sampai akhirnya di 2018, dia kembali tertarik karena ingin tantangan baru. Hampir delapan tahun bekerja di perusahaan yang sama, dia butuh suasana berbeda.

"Nah pas 2018 itu, barulah fokus, Alhamdulillah masuk," katanya bangga.

Alasan utama Endi menjadi pegawai negeri karena latar belakang keluarga bekerja sebagai PNS. Tidak cuma ayah dan ibunya, kakaknya juga seorang PNS. Mereka berharap langkah itu diikuti Endi. Kemudian, tentu faktor masa tua terjamin karena ada pensiun.

"Jadi karena semua keluarga PNS, ngobrol suka gak nyambung. Makanya mereka kasih support supaya aku ikut CPNS lagi. Selain itu, selama ini kan saya kerja di perusahaan asing, nah kayaknya pingin lah mengabdi untuk negeri dengan jadi PNS," kata lulusan teknik industri ini.

Endi menceritakan jika ditotal-total lebih dari lima kementerian sudah dilamar. Karena pada 2009 lalu, format seleksi berbeda dengan saat ini. Dahulu, dengan satu nomor induk kependudukan (NIK), bisa mengikuti tes di banyak instansi selama jadwal ujian tidak bentrok.

"Nah pas 2018 itu kan formatnya baru, satu NIK satu instansi, eh malah lulus. Selain itu sekarang enaknya langsung keluar hasilnya, jadi enggak nunggu-nunggu. Kita tahu nilai yang kurang di mana," ungkapnya yang kini bekerja di salah satu badan milik pemerintah.

Endi kini lega impiannya menjadi PNS akhirnya terwujud. Setelah menjalaninya, Endi menegaskan tidak benar jika disebut kerja PNS lebih santai.

"Memang awalnya santai karena masih baru belum dikasih banyak tugas, sekarang malah banyak kerjaannya. Kita juga harus serba bisa, dan banyaklah tantangannya. Tapi senangnya, banyak ilmu baru dan banyak ketemu orang-orang pintar baru juga buat wawasan lebih terbuka," ucapnya.

Dia berpesan pada mereka yang sedang berjuang menjadi pegawai negeri tidak menyerah. Jika di tengah jalan ada kendala terkait kelengkapan dokumen yang sering kali bikin ingin menyerah, dia menyarankan agar tetap semangat.

"Kalau niat terus, aja jangan berhenti di tengah jalan karena kalau soal dokumen semua orang pasti banyak merasakan, jangan dibuat ribet. Jalani saja satu-satu. Sebab kita yang akhirnya masuk juga dulu berjuangnya kayak gitu. Jadi jalani prosedurnya dan tetap belajar, baca-baca soal," tutup Endi.

tes cpns di jakarta

2 dari 3 halaman

Ikut CPNS Karena Orangtua

Sebagian orang mengaku menjadi PNS demi hidup tenang di masa tua. Tetapi tidak sedikit mengaku mengikuti seleksi PNS hanya ingin mewujudkan keinginan orangtua.

A, inisialnya, mengamini tujuan kedua. Keikutsertaannya dalam seleksi CPNS hanya ingin membahagiakan ayah dan ibu di kampung halaman. Padahal, dua kali tes sebelumnya dia sudah mencoba dan hasilnya gagal.

"Tahun ini ketiga kalinya saya ikut tes CPNS. 2013 saya coba di Yogya melamar Kementerian Kehutanan, 2017 saya coba ikut formasi CPNS untuk di Pemkot Depok. Tahun ini saya coba untuk di Pemkot Bogor," kata pria lulusan sarjana pendidikan matematika ini.

A menceritakan, langkahnya mengikuti seleksi CPNS atas saran kedua orangtua yang masih menjadi PNS aktif di kampungnya di Wonogiri. Dikatakannya, bagi yang tinggal di pedesaan, bekerja menjadi seorang abdi negeri masih dianggap sangat istimewa.

"Apalagi dulu, pandangan orangtua yang tinggal di kampungkan kalau kerja itu ya cuma PNS, yang lain-lain itu dianggap belum mapan lah. Makanya sejak lulus 2013, saya terus didorong tes," ceritanya.

Saat tes pertama kali, dia sampai harus pergi ke Yogyakarta. Tentu butuh perjuangan mengingat perjalanannya cukup panjang sampai ke lokasi dan sistem tes belum online seperti sekarang ini.

"Tunggu hasilnya itu lama sekali," katanya.

Sebenarnya, kata A, setelah dia merantau ke Jakarta, minat bekerja sebagai PNS sudah dia lupakan. Di Ibu Kota, banyak sekali wawasan didapat. Hal itu membuatnya berpikir banyak cara untuk mendapatkan pekerjaan selama berusaha.

Terbukti kini, dia sudah hidup mapan dengan mengajar sebagai guru di sekolah swasta dan wirausaha. Tetapi, telepon orangtua dari kampung halaman agar mengikuti seleksi CPNS 2019 tak kuasa dia tolak.

"Jadi saya ingin melegakan kedua orangtua saya. Paling tidak saya sudah kirimkan kartu pendaftaran tes sebagai bukti. Dan mereka senang sekali saya mau kembali mencoba. Mereka mendoakan, tapi tetap tidak banyak berharap. Walaupun sangat bersyukur jika diterima," cerita A di ujung telepon sambil tertawa.

Entah mengapa, A pribadi tidak terlalu antusias menjadi PNS. Apalagi setelah hijrah ke ibu kota. Belum lagi, mendengar banyak cerita dari teman-temannya yang lebih dulu lolos seleksi.

"Memang untuk masa tua aman, tapi di luar itu ya berat faktanya. Karenakan zamannya sudah beda dengan yang dulu," katanya tanpa mau menjelaskan lebih rinci.

A akan mengikuti tes bulan ini. Dia tidak mau 'ngoyo' untuk hasilnya mengingat banyak sekali saingan dihadapi.

"Jadi, jadi PNS jangan jadi cita-cita sebab kalau gagal sakit hati, terus tuding ada orang dalam atau karena formasi sedikitlah, padahal yang belum beruntung aja. Tapi kalau keterima ya Alhamdulillah," pesan A yang kali ini menjajal formasi guru.

001 n efendi

3 dari 3 halaman

Untuk diketahui, pada CPNS Formasi Tahun 2019 ini, Pemerintah membuka 150.315 formasi dengan rincian 36.935 pada 65 Instansi Pusat dan 113.380 pada 456 Instansi Pemerintah Daerah (Provinsi/Kabupaten/Kota).

Saat ini, peserta sudah memasuki tahapan seleksi kemampuan dasar (SKD). Berdasarkan data Badan Kepegawaian Negara (BKN), sudah 3.361.802 pelamar mengikuti SKD.

Proses pelaksanaan Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS Formasi Tahun 2019 yang dimulai tanggal 27 Januari 2020, pada hari ini Kamis, 20 Februari 2020 telah memasuki hari ke-24. Terhitung sampai dengan hari ini, 329 instansi (20 Pusat dan 309 Daerah) telah selesai melaksanakan SKD. Sementara sebanyak 130 (39 Pusat dan 91 Daerah) masih melangsungkan SKD dan 62 instansi (6 Pusat dan 56 Daerah) belum menyelenggarakan SKD. (mdk/lia)

Baca juga:
Berjuang jadi Abdi Negeri
Membongkar Rencana Pelanggar di Tes CPNS Dilarang Kembali Mendaftar
Kalahkan Kemenkeu, Kelulusan Peserta SKD CPNS di Kemlu Jadi yang Terbanyak
Tak Hadir Tes CPNS, Peserta Bakal Kena Sanksi Tidak Bisa Kembali Mendaftar
BKN Usul Peserta CPNS Gunakan Joki Dilarang Kembali Ikut Seleksi 10 Tahun
Demi Ikut Tes CPNS 2019, Ada Peserta Bawa Bayi Umur 2 Pekan ke Lokasi

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami