Mengenang Kegigihan Sutopo Beri Info Bencana di Tengah Sakit Kanker

PERISTIWA | 7 Juli 2019 14:03 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Sutopo Purwo Nugroho tutup usia usai berjuang kurang lebih 1,5 tahun melawan kanker paru-paru stadium 4. Cerita tentang kegigihan dan dedikasi Sutopo dalam bertugas sebagai pembawa kabar bencana akan terus dikenang.

Saat bencana terjadi di Indonesia, masyarakat menunggu kabar dan informasi darinya. Dari tangan Sutopo sebagai Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), data akurat tim di lapangan coba disampaikan pada awak media dan masyarakat.

Barangkali, tak sedikit orang yang menyebut Sutopo sebagai humas sejati. Kanker memang menyerang tubuhnya, tapi semangat pria asal Boyolali tak mau kalah. Mengabarkan penjelasan akurat soal bencana agar masyarakat tak termakan oleh hoaks dan terus waspada.

Termasuk saat menginformasikan tentang kondisi terkini dari penanganan gempa serta tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Dia tetap berusaha meng-update semua perkembangan mulai dari korban, kondisi di lokasi, hingga bantuan yang datang.

Suatu malam, belum genap tiga hari gempa Donggala-Palu, pesan singkat atas nama Sutopo viral diterima awak media. Dia tidak sedang mengabarkan kondisi terkini dari gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Sutopo yang tegar melawan sakitnya itu mendadak mengirimkan pesan permohonan maaf.

"Mohon Maaf, belum bisa melayani media dengan prima," begitu pesan yang diterima banyak media pada Minggu (30/9) malam lalu.

Dalam pesan singkatnya itu, Sutopo juga menjelaskan soal kesehatannya yang menuntut dirinya berusaha tetap prima mengabarkan semua informasi terkini dari gempa Donggala dan Palu. Walaupun, katanya, rasa sakit itu sering kali datang dan membuat dirinya tak berdaya.

"Namun, mohon maaf kondisi fisik saya tidak bisa ditipu. Sakit kanker paru-paru stadium 4B yang telah menyebar di beberapa bagian tubuh menyebabkan saya lemah. Rasa sakit yang mendera juga menyebabkan sulit untuk tidur nyenyak.

Sekali lagi, mohon maaf saya tidak dapat melayani dengan prima semua pertanyaan rekan-rekan media. Jika sehat pasti saya lakukan kapanpun, di mana pun, bagaimanapun selama 24 jam 7 hari seminggu."

Berikut pesan singkat lengkap Sutopo:

Saat bencana, apalagi jumlah korban dan dampak bencananya besar, media masyarakat, dan lainnya meminta dirinya terus menyampaikan update data. Bahkan pihak Istana dan Kementerian lain juga meminta informasinya.

Namun, kata dia, kondisi di lapangan yang belum pulih membuat dirinya juga memiliki keterbatasan akses data dan informasi ke lapangan. Apalagi kondisi listrik dan komunikasi ke Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong juga lumpuh. Sangat sulit kami mengakses data dan update penanganan.

HP saya tak berhenti berdering. Whatsapp pertanyaan dari media dan lainnya juga terus masuk. Banyak sekali telpon yang saat saya angkat ternyata bukan hanya dari media. Tapi dari staf Kedutaan, Konsuler, Kementerian/Lembaga, dan masyarakat yang menanyakan kondisi di Sulteng sana.

Entah memperoleh no telpon dari mana, banyak masyarakat yang menanyakan ke saya tentang orangtuanya, anak, saudara, kerabat, teman dan lainnya yang belum dapat dihubungi sampai saat ini di tempat bencana sana. Orang asing pun banyak yang telepon atau whatsapp menanyakan korban dan penanganan.

Saya harus melayani dan menjelaskan semuanya. Harus sabar, telaten dan membesarkan hati masyarakat yang kehilangan saudaranya. Komunikasi memang lumpuh. Saya sendiri kesulitan mencari data.

Jadi mohon maaf teman-teman media saya tidak dapat melayani wawancara satu per satu. Jika ada update pasti segera saya sampaikan di wag Medkom. Total ada 6 wag medkom, 14 wag wapena (wartawan lokal) dan 1 wag pers BNPB yang harus saya berikan info terus menerus. Ada lebih 3.000an wartawan yang harus saya layani. Saya broadcast melalui wag dan japri semua info bencana.

Mohon maaf saya tidak dapat menjawab pertanyaan lisan dan tulisan satu per satu. Mohon maaf tidak bisa wawancara ke studio.

Kondisi saya masih sakit. Masih pemulihan dari kanker paru-paru. Fisik rasanya makin lemah. Nyeri punggung dan dada kiri menyakitkan. Rasa mual, ingin muntah, sesak napas, daan lainnya saya rasakan. Bahkan tulang belakang saya sudah bengkok karena tulang terdorong massa kanker, makanya jalan saya miring.

Tapi saya tetap berusaha melayani rekan-rekan media dengan baik. Setiap hari saya gelar konprensi pers dan saya siapkan bahan paparan yang lengkap agar media tidak salah kutip. Semua data yang saya miliki selalu saya berikan utuh. Tak ada yang saya sembunyikan.

Selalu update dan berusaha melayani dengan prima kepada media.

Saat konprensi pers jika ada media yang bertanya saya jelaskan dengan panjang, lengkap, dan kadang berulang-ulang kayak saya memberi kuliah mahasiswa. Agar menulis beritanya tidak salah.

Di medsos khususnya di twitter dan IG saya berusaha juga update karena masyarakat luas menunggu.

Namun, mohon maaf kondisi fisik saya tidak bisa ditipu. Sakit kanker paru-paru stadium 4B yang telah menyebar di beberapa bagian tubuh menyebabkan saya lemah. Rasa sakit yang mendera juga menyebabkan sulit untuk tidur nyenyak.

Sekali lagi, mohon maaf saya tidak dapat melayani dengan prima semua pertanyaan rekan-rekan media. Jika sehat pasti saya lakukan kapanpun, dimana pun, bagaimanapun selama 24 jam 7 hari seminggu.

Dengan keterbatasan yang ada mohon dimaafkan jika ada pertanyaan yang tidak dijawab. Panggilan telpon yang tidak diangkat. Undangan wawancara yang tidak bisa dipenuhi hadirnya.

Saya akan tetap melakukan konpresensi pers setiap hari selama darurat ini. Materi pasti saya siapkan. Saat konpres silakan tanya sepuasnya. Tapi jangan pertanyaan asal-asalan dan hanya cari-cari kesalahan. Tanyalah yang berkualitas dan bermutu agar saya menjawabnya juga puas. Lebih wawancara bersama-sama agar efektif waktunya.

Saya masih bisa menolak wawancara dengan media. Tapi dengan masyarakat yang kehilangan saudaranya saat ini saya harus menjelaskan dan membantu dengan sabar.

Kira-kira seperti itu yang ingin saya sampaikan ke teman-teman media. Mohon maaf. Saya juga mohon doanya agar saya segera sehat, sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali.

Salam, Sutopo Purwo Nugroho

Curhatan Sutopo soal kondisinya itu juga pernah disampaikan saat bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 5 Oktober 2018 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi sempat terkejut saat mendengar Sutopo mengidap kanker paru stadium 4B.

"Saya sampaikan ke beliau, 'Pak Presiden, saya sekarang sedang tidak sehat. Saya sakit kanker paru, tapi saya tahan dan lawan sakitnya. Ini karena masyarakat begitu menunggu informasi yang saya sampaikan," ucapnya.

Di tengah perjuangan melawan kanker paru, Sutopo pernah juga menyampaikan, informasi bencana yang diperoleh sebenarnya tidak harus dari dia, bisa juga dari narasumber lainnya.

"Tidak harus dengan saya (memeroleh informasi bencana), tapi banyak sekali orang kepengennya saya (yang menyampaikan informasi bencana). Saya pun banyak dibantu teman-teman BNPB untuk mengumpulkan data-data," Sutopo melanjutkan.

Sebagai seorang humas, aktif di media sosial sudah jadi keharusan, tak terkecuali Sutopo. Lewat akun-akun medsosnya, pria kelahiran 1969 ini menceritakan tentang sakit yang dideritanya.

Awal divonis kanker paru stadium empat, Sutopo mengaku kaget karena dirinya bukan perokok dan telah menjaga pola makan sehat. Dalam beberapa unggahan foto di akun media sosial Instagram miliknya, Sutopo juga sering menceritakan bahwa penyakit kanker yang dideritanya terasa sangat menyakitkan.

"Sakit kanker yang sudah metastase ke tulang itu sakitnya luar biasa. Nyeri terus menerus dan di banyak sendi. Diberi morfin tidak mempan menahan sakit," tulis Sutopo pada unggahan foto di Instagram miliknya pada 9 Juni 2019.

Pada unggahan foto selanjutnya, yaitu unggahan foto terakhir di Instagram pribadinya, Sutopo mengunggah video sedang berada di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

Dalam keterangan fotonya dia memohon pamit untuk pergi berobat ke Guangzhou China pada 15 Juni 2019. Di keterangan foto tersebut Sutopo kembali menyampaikan bahwa kanker yang sudah menyebar terasa amat sakit.

"Hari ini saya ke Guangzho untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lain. Kondisinya sangat menyakitkan sekali," tulis Sutopo.

Kini, Sutopo Purwo Nugroho telah tiada. Tapi, dia meninggalkan kisah inspiratif, satu di antaranya nasihat agar mendedikasikan diri untuk banyak orang apa pun kondisinya.

Sutopo meninggal di saat menjalani perawatan kanker paru di rumah sakit di Guangzhou, Tiongkok pada Minggu, (7/7) dini hari. Jenazahnya akan diberangkatkan dari Guangzhou, China menuju Tanah Air sore ini. Rencanya, jenazah Sutopo akan disemayamkan di rumah duka, Perumahan Raflles Hills, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Depok.

Keesokan harinya, Jenazah Sutopo akan dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan di TPU Sonoloyu, Kecamatan/Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. (mdk/ray)

Baca juga:
Sampaikan Duka Cita, Jokowi Kenang Nasihat Sutopo Soal Makna Hidup
Megawati: Pemerintah Harus Beri Penghormatan Terbaik Bagi Sutopo
Keluarga Siapkan Pemakaman Sutopo di TPU Sonoloyu Boyolali
Kenangan Jenaka Sutopo, Deklarasi Gabung 'FBI' Bareng Jenderal Mulyono
Jenazah Sutopo Diterbangkan dari Guangzhou China Sore Ini

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.