Mengingat Kembali Peran Gus Dur dan Megawati di Balik Perayaan Imlek

Mengingat Kembali Peran Gus Dur dan Megawati di Balik Perayaan Imlek
Malam Imlek di Klenteng Hok Lay Kiong, Bekasi. ©2021 Liputan6.com/Herman Zakharia
PERISTIWA | 12 Februari 2021 11:33 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan Presiden Megawati Soekarnoputri masing-masing memiliki peran di balik perayaan Imlek di Indonesia.

Perayaan imlek merupakan wujud ikhtiar memperkuat kesadaran Keindonesiaan yang menjunjung tinggi keberagaman, serta merayakan kebinekaan Indonesia untuk mencapai cita-cita bangsa.

sejarawan Bonnie Triyana menuturkan, Presiden Gus Dur mencabut larangan perayaan Imlek secara terbuka sebagaimana diatur dalam Inpres No 14/1967.

"Sementara Presiden Megawati Soekarnoputri menerbitkan Kepres No 19/2002 yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional," papar sejarawan Bonnie Triyana terkait perayaan Hari Imlek di Jakarta, Jumat, (12/2/2021).

Perayaan Imlek sejatinya sejalan dengan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945. Bung Karno secara tegas menyatakan nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme modern yang melampui sekat-sekat sempit identitas keagamaan, ras dan etnisitas.

"Menurut Bung Karno, Indonesia adalah negeri untuk semua golongan yang dipersatukan oleh rasa senasib sepenanggungan dalam menghadapi kolonialisme dan berbagai jenis penindasan oleh manusia terhadap manusia lain dan oleh sebuah bangsa terhadap bangsa lainnya," jelas Bonnie

Kesadaran kebangsaan tumbuh semakin menguat sejak Ikrar Pemuda digaungkan pada 28 Oktober 1928, memperkokoh kesadaran kebangsaan yang telah dirintis sejak awal abad ke-20.

"Kesadaran sebagai bangsa yang setara dengan bangsa lainnya itu merupakan sikap tegas menentang kebijakan rasialis pemerintah kolonial Belanda melalui Regeerings Reglement 1854 yang membagi masyarakat Hindia Belanda ke dalam segregasi rasial yakni: pertama, Golongan Eropa, kedua Timur Asing (Cina, Arab, India) dan ketiga Inlanders (bumiputera)," papar Bonnie.

Ikrar Pemuda 1928 menjadi tonggak historis penting dalam perwujudan penguatan kesadaran Keindonesiaan sebagai anti-tesis dari kesadaran pra-Indonesia yang masih terbelenggu diskriminatif dan rasialistis.

"Dengan demikian, politik identitas yang kerapkali dimainkan hingga hari ini merupakan wujud kesadaran pra-Keindonesiaan yang sarat bernuansa kolonial dan tak sesuai dengan jiwa kemerdekaan," ucap Bonnie.

Reporter: Delvira Hutabarat
Sumber: Liputan6.com (mdk/noe)

Baca juga:
Humor Gus Dur soal Dandim TNI Ikut Sayembara Tebak Usia Mumi di Mesir
Diselenggarakan saat Pandemi, Haul Kesebelas Gus Dur Digelar Online dari Tiga Kota
Potret Masa Muda Almarhum Gus Dur dan Gus Mus, Keren dan Ganteng Banget
Kisah Mahfud MD Tawar Menawar dengan Presiden saat Diminta Jadi Menteri Pertahanan
Peristiwa 30 Desember: Kenang Wafatnya Gus Dur, Pelindung Minoritas dan Kemanusiaan

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami