Mengingat Lagi Aksi Ekspor Fiktif Maria Pauline yang Bobol BNI Rp1,7 Triliun

Mengingat Lagi Aksi Ekspor Fiktif Maria Pauline yang Bobol BNI Rp1,7 Triliun
PERISTIWA | 9 Juli 2020 14:32 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Berbaju oranye dengan rambut diikat, wajah ditutup masker medis, Maria Pauline Lumowa dipaksa pulang dari Serbia ke Indonesia. Maria bukan wanita biasa, dia pelaku pembobol Bank BNI senilai Rp1,7 triliun.

Wanita berdarah Sulawesi Utara ini melarikan diri ke Singapura medio 2003 sebelum ditangkap polisi. Setelah itu, lenyap bak ditelan bumi.

Maria bobol bank BNI Cabang Kebayoran Baru bersama Andrian Herling Woworuntu. Kasus itu terjadi dalam rentang Oktober 2002 hingga Juli 2003. Maria dan Adrian saat itu direktur PT Gramarindo Group.

PT Gramarindo Group dipimpin keduanya kemudian mengajukan 41 Letter of Credit ke BNI, yang dilampirkan dengan delapan dokumen ekspor fiktif, seolah-olah perusahaan itu telah melakukan ekspor dengan nilai mencapai Rp1,7 triliun.

Pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003, BNI mengucurkan pinjaman senilai USD 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro atau sama dengan Rp1,7 triliun dengan kurs saat itu kepada PT Gramarindo Group.

Aksi PT Gramarindo Group diduga mendapat bantuan dari 'orang dalam' karena BNI tetap menyetujui jaminan L/C dari Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd., dan The Wall Street Banking CoRpyang bukan merupakan bank korespondensi Bank BNI.

Pada Juni 2003, pihak BNI yang curiga dengan transaksi keuangan PT Gramarindo Group mulai melakukan penyelidikan dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Dugaan L/C fiktif ini kemudian dilaporkan ke Mabes Polri, hingga dibentuk tim khusus oleh Polri untuk mengusut kasus ini.

Namun, Maria melarikan diri sebulan sebelum dijerat sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri. Sementara Andrian Herling Woworuntu dan Jeffrey Baso, yang merupakan suami Maria, masing-masing telah mendapatkan hukuman.

1 dari 3 halaman

Berhasil Dipulangkan

penangkapan maria pauline lumowa

©2020 Merdeka.com/Dwi Narw

Setelah buron selama 17 tahun, Maria digelandang ke tanah air setelah sebelumnya ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019.

Pemerintah melalui Kementerian Hukum dan HAM kemudian melakukan lobi agar perempuan kelahiran Paleloan, Sulawesi Utara, pada 27 Juli 1958, itu dapat diadili di Indonesia. Akhirnya, Maria diekstradisi dari Serbia oleh Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia pada Rabu (8/7) dan tiba di tanah air pada hari ini atau Kamis (9/7).

Proses pemulangan Direktur Gramarindo Group itu cukup panjang. Perburuan terhadap Maria dilakukan setelah salah satu pembobol BNI ini kabur pada September 2003 ke Singapura. Maria melarikan diri sebulan sebelum dijerat sebagai tersangka oleh tim khusus yang dibentuk Mabes Polri.

2 dari 3 halaman

Suami Telah Divonis

maria pauline lumowa

©2020 Merdeka.com/istimewa

 

Suaminya, Adrian divonis penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan pada 2005. Sementara Jeffrey telah divonis tujuh tahun penjara dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sutjahyo Padmo di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sedangkan Maria yang melarikan diri ke Singapura, kemudian diketahui telah menjadi warga negara 'Negeri Kincir Angin', Belanda. Sejak saat itu, pemerintah kesulitan mengekstradisi Maria karena status kewarganegaraannya.

Pemerintah sempat dua kali mengajukan proses ekstradisi ke Pemerintah Kerajaan Belanda, yakni pada 2010 dan 2014, karena Maria ternyata sudah menjadi warga negara Belanda sejak 1979. Namun, kedua permintaan itu direspons dengan penolakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang memberikan opsi agar Maria disidangkan di Belanda.

Upaya penegakan hukum lantas memasuki babak baru saat Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019. Penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang diterbitkan pada 22 Desember 2003.

"Dengan selesainya proses ekstradisi ini, berarti berakhir pula perjalanan panjang 17 tahun upaya pengejaran terhadap buronan bernama Maria Pauline Lumowa. Ekstradisi ini sekaligus menunjukkan komitmen kehadiran negara dalam upaya penegakan hukum terhadap siapa pun yang melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia," kata Menkum HAM Yasonna Hamonangan Laoly, Kamis (8/7).

3 dari 3 halaman

Dijemput Menkum HAM di Serbia

maria pauline lumowa

©2020 Merdeka.com/istimewa

Yasonna menyebut, pemulangan ini sempat mendapat gangguan, namun Pemerintah Serbia tegas pada komitmennya untuk mengekstradisi Maria Pauline Lumowa ke Indonesia. Menurut Yasonna, proses ekstradisi ini salah satu dari sedikit di dunia yang mendapat perhatian langsung dari kepala negara.

"Selama proses, ada negara dari Eropa yang melakukan diplomasi agar tidak diekstradisi, ada pengacara yang lakukan upaya hukum juga yang menurut, ada upaya suap. Tetapi Pemerintah Serbia commit, saya bertemu menteri kehakiman Serbia, saya bertemu menteri luar negeri, wakil PN dan puncaknya menemui Presiden Serbia," ungkap Yasonna di VIP Room Terminal 3 Bandara Soetta, Kamis (8/7).

Maria tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, usai diekstradisi dari Serbia, sekitar pukul 11.00 WIB dengan pengawalan ketat petugas Kepolisian, Kamis (9/7).

Maria terlihat mengenakan pakaian oranye khas tahanan, dengan tangan terborgol. Dia juga mengenakan masker.

Dengan penjagaan ketat petugas, Maria yang semula turun dari ruang VIP Terminal 3 Bandara Soetta, kemudian dibawa ke salah satu ruang di gedung VIP tersebut.

Saat tiba, Maria beserta rombongan termasuk Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly langsung menjalankan pemeriksaan protokol kesehatan Covid-19. (mdk/gil)

Baca juga:
Pemerintah Bakal Pulihkan Aset BNI yang Dibobol Maria Lumowa
Yasonna Sebut Ada Upaya Suap untuk Gagalkan Ekstradisi Maria Pauline
Tiba di Indonesia, Maria Pauline Tunjuk Kuasa Hukum dari Kedubes Belanda
Buron Pembobol BNI Maria Pauline Lumowa Tiba di Bandara Soekarno-Hatta
Menko Polhukam & Menkumham Angkat Bicara Soal Penangkapan Maria Pauline Lumowa

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami