Mengupas Sepak Terjang Goliat Tabuni, Petinggi KKB Papua

PERISTIWA | 15 Agustus 2019 05:30 Reporter : Desi Aditia Ningrum

Merdeka.com - Mabes Polri mengungkap pelaku penembakan Briptu Hedar. Pelaku adalah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang dipimpin oleh Goliat Tabuni. Nama Goliat Tabuni tak asing di Papua. Dia merupakan panglima tertinggi dari Organisasi Papua Merdeka (OPM)

Goliat dikenal kejam. Dia beberapa kali melakukan aksi keji terhadap warga Papua dan anggota TNI. Bagaimana sepak terjang Goliat Tabuni? Berikut ulasannya:

1 dari 4 halaman

Mulai Lawan Pemerintah Tahun 2004

Goliat Tabuni merupakan Panglima tertinggi dari Organisasi Papua Merdeka (OPM). Dia dilantik sebagai Panglima Tentara Pembebasan Nasional (TPN)-Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada tanggal 11 Desember 2012, di Tingginambut Puncak Jaya Papua. Pelantikan ini menyusul KTT TPN-OPM yang dilaksanakan di Markas TPN Perwomi Biak, dari tanggal 1-5 Mei 2012.

Perjuangan Goliat Tabuni melawan pemerintah dimulai pada 2004 silam. Dia berjuang bersama Kelik Kwalik, pemimpin separatis senior dan komandan dari sayap militer Organisasi Papua Merdeka (OPM). Namun Kwalik tewas dalam serangan polisi di salah satu tempat persembunyiannya di Gorong-Gorong, lingkungan Timika, pada tanggal 16 Desember 2009 silam. Goliat selalu menjanjikan kemerdekaan bagi Papua, namun hal itu tak kunjung tercapai.

Setelah Reformasi melalui TPN-OPM di Biak Markas Perwomi pada Mei 2012 lalu, Goliat Tabuni dipilih sebagai Panglima Tinggi Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Kemudian Goliat Tabuni mendirikan markas di Tingginambut Puncak Jaya Papua.

2 dari 4 halaman

Kekejaman Goliat Tabuni

Goliat Tabuni dikenal kejam. Dia tak segan membantai warga Papua yang tidak mendukung gerakan separatisme Operasi Papua Merdeka (OPM). Tak cuma itu, Goliat juga berani melawan anggota TNI. Dia bersama kelompoknya beberapa kali kontak senjata dengan TNI. Dari peristiwa itu, anak buah Goliat sering kali tewas terkena tembakan TNI.

Yang terbaru perbuatan keji yang dilakukan Goliat dan kelompoknya menembak anggota Polda Papua, Briptu Hedar hingga tewas. Saat itu Briptu Hedar sedang melakukan penyelidikan di Kampung Usir, Puncak, Papua, terkait KKB. Wilayah tersebut memang menjadi salah satu basis operasi kelompok separatis. Ternyata Briptu Hedar ditangkap dan disandera.

Akan tetapi saat mencoba melarikan diri, Briptu Hedar ditembak hingga tewas. Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom mengatakan penembakan itu sebagai aksi balas dendam terhadap TNI Polri yang telah menembak anggotanya.

"Ini adalah medan perang, dan kami menembak mati Briptu Hedar sebagai balasan atas penangkapan dan pembunuhan anggota TPBNPB atas nama Timenggur Telenggen," katanya.

3 dari 4 halaman

Sempat Jadi Pengusaha Kayu

Goliat Tabuni sempat menghentikan petualangannya di Rimba Papua. Dia menjadi seorang pengusaha kayu. Hal itu diketahui setelah Bupati Puncak Jaya Henok Ibo melakukan pertemuan dengannya.

"Berdasarkan keterangan Bupati Puncak Jaya Henok Ibo, terungkap bahwa Goliat Tabuni menawarkan sejumlah kayu olahan untuk dijual," kata Panglima Kodam (Pangdam) XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Hinsa Siburian seperti dikutip dari Antara, Senin (12/10).

Untuk mendukung usahanya Goliat, kata Siburian, pemerintah daerah setempat menyumbangkan mesin pemotong kayu dan bahan bakar minyak (BBM) berupa bensin kepada Goliath Tabuni. Dukungan itu agar Goliat Tabuni benar-benar menjadi pengusaha sukses dan bisa membangun daerahnya dan mensejahterakan keluarga dan sanak keluarganya.

4 dari 4 halaman

Pernah Dikabarkan Menyerahkan Diri

Pada Maret 2015 lalu, Goliat Tabuni sempat dikabarkan menyerahkan diri terhadap TNI. Saat menyerahkan diri, dia sempat meminta dibuatkan rumah adat Honai dan dibuatkan sebuah markas Koramil TNI. Akan tetapi kabar itu ternyata tidak benar. Yang menyerahkan diri adalah anak buah Goliat Tabuni.

"Memang betul ada 23 anggota OPM yang sudah menyerah dan kembali bergabung dengan NKRI, tapi itu hanya pengikutnya Goliat Tabuni, sedangkan Goliat hingga kini belum turun gunung," kata Panglima Angkatan Darat 17 Cendrawasih yang saat itu dijabat oleh Mayor Jenderal Fransen G. Siahaan.