Meniti Asa di Atas Kaki Palsu

PERISTIWA | 17 September 2019 04:31 Reporter : Afif

Merdeka.com - Tamam (37) pria asal Subussalam itu duduk paling belakang di sebuah tenda pekarangan Dinas Sosial (Dinsos) Aceh). Di tangannya memegang kertas biodata tengah mengantre menunggu giliran untuk mengukur kaki palsu.

Secercah harapan memancarkan di wajah ayah tujuh anak ini. Meskipun harus menempuh perjalanan selama 11 jam dari kampung halamannya melalui jalur darat. Rasa lelah itu sirna saat meniti asa agar bisa berjalan dengan bantuan kaki palsu itu.

Sekitar tiga bulan lalu awal mula petaka dihadapi Tamam. Dokter memvonis, kaki kanannya harus diamputasi, karena mengalami infeksi. Saat itu, tak ada pilihan lain untuk menyelamatkan jiwanya. Satu-satu cara ia harus rela kehilangan salah satu anggota tubuhnya.

Sejak itu, untuk beraktivitas harus menggunakan tongkat. Dia harus rela kehilangan pekerjaan sebagai buruh tani yang membutuhkan tumpuan kakinya. Padahal di rumah ada tujuh orang si buah hati menanti nafkah darinya.

Dia merasakan telah mengubah kehidupannya. Selain kehilangan anggota tubuhnya, juga kehilangan pekerjaan. Hingga akhirnya secerah harapan datang. Ia mendapat informasi ada bantuan kaki palsu dari pemerintah Aceh.

"Perasaan hatiku senanglah, sudah tertolong. Ini yang pertama saya buat, sebelumnya pakai tongkat," kata Tamam.

Sebelum diamputasi sekitar satu tahun lalu. Tamam berkisah hanya ada bintik hitam di pahanya. Lalu terjadilah infeksi hingga ia tak bisa berjalan normal. Saran dokter saat itu, kakinya harus diamputasi.

"Dokter pesan terakhir hanya jangan merokok, cek gula juga tidak ada," jelasnya.

Harapannya dengan adanya kaki palsu ini bisa membantunya untuk beraktivitas secara normal kembali. Meskipun ia akui tak lagi bisa bekerja berat seperti dulu, setidaknya bisa berjalan tanpa menggunakan tongkat.

Tamam mengaku sebelum kaki kirinya diamputasi berprofesi sebagai petani dan buruh. Namun karena kakinya setahun lalu ada bintikan hitam, hingga terjadi luka dan akhirnya harus diamputasi.

"Baru empat bulan ini selesai amputasi. Kata dokter ini bintikan hitam itu karena merokok, jadi infeksi dan harus diamputasi," ujar dia.

Sekretaris Dinsos Aceh, Devi Riansyah mengaku, pengukuran kaki palsu ini kerjasama antara Dinsos Aceh dengan lembaga Kasih Tuna Daksa dari Jakarta. Lembaga ini nantinya yang akan mengukur dan membuat kaki palsu tersebut. Sehingga penerima manfaat nantinya bisa mempergunakan bantuan ini untuk beraktifitas.

Petugas dari lembaga Kasih Tuna Daksa memanggil nama penerima manfaat satu persatu. Setiap penerima diukur menggunakan poligit, yaitu perban berwarna dan berbubuk putih. Lalu dibasuh dengan air, saat dililitkan ke kaki penerima nantinya akan membentuk sesuai dengan ukuran kaki masing-masing.

Poligit yang sudah terbentuk kaki penerima, lalu diukur tinggi dan juga diameternya. Setiap poligit yang sudah berbentuk, dituliskan nomor dan ukuran masing-masing untuk kemudian dicetak.

Devi Riansyah mengaku, pembuatan kaki palsu ini butuh keahlian khusus. Karena tidak ada dijual di pasaran dengan ukuran yang telah disediakan, tetapi harus diukur dan dicetak khusus agar penerima manfaat bisa mempergunakan dengan baik.

"Butuh sertifikasi khusus membuat kaki palsu. Atas rekomendasi Kementerian Sosial RI, kita bekerjasama dengan lembaga Kasih Tuna Daksa dari Jakarta," kata Devi Riansyah.

Penerima manfaat ini, sebutnya, datang dari 17 kabupaten/kota di Aceh. Mereka mendaftar di Dinsos kabupaten/kota masing-masing dan diusulkan ke provinsi Aceh. Untuk tahun 2019 ini diberikan secara gratis sebanyak 100 kaki palsu dan tahun lalu juga dengan jumlah yang sama.

"Setiap tahun kita sediakan 100 kaki dan tangan palsu yang membutuhkan," ungkapnya.

Setelah pengukuran penerima manfaat harus menunggu selama 2 minggu proses pembuatan. Setelah itu akan dipanggil lagi ke Banda Aceh untuk pemasangan dan latihan untuk berjalan.

"Termasuk bagaimana cara merawat dan menggunakan kaki palsu itu," jelasnya.

Devi berharap nantinya kaki palsu itu agar dirawat seperti merawat tubuh sendiri. Karena dengan ada alat bantu ini bisa membantu beraktivitas seperti semula.

"Waktu pemasangan akan diberitahukan juga bagaimana cara merawat, agar alat ini awet dan tahan lama," imbuhnya.

Devi mengatakan, perlu diukur karena bentuk dan ukuran kaki palsu berbeda-beda, termasuk harganya. Harga kaki palsu kisaran Rp 6 juta hingga Rp 12 juta per buah.

"Ini tergantung ukuran, ada yang harus dibikin sampai ke pinggang, ada juga hanya tapak kaki saja, harganya beda-beda," jelasnya.

Dinas Sosial (Dinsos) Aceh sebelumnya menyerahkan bantuan kaki kepada 100 penyandang disabilitas dari 17 kabupaten atau kota di Aceh. Pengukuran kaki palsu itu berlangsung di kantor Dinsos Banda Aceh, Senin (16/9).

Pengukuran kaki palsu kerjasama antara Dinsos Aceh dengan lembaga Kasih Tuna Daksa dari Jakarta. Lembaga ini nantinya yang akan mengukur dan membuat kaki palsu tersebut. Sehingga penerima manfaat nantinya bisa mempergunakan bantuan ini untuk beraktivitas.

Petugas dari lembaga Kasih Tuna Daksa memanggil nama penerima manfaat satu per satu. Setiap penerima diukur menggunakan poligit, yaitu perban berwarna dan berhubungan putih. Lalu dibasuh dengan air, saat dililitkan ke kaki penerima nantinya akan membentuk sesuai dengan ukuran kaki masing-masing.

Poligit yang sudah terbentuk kaki penerima, lalu diukur tinggi dan juga diameternya. Setiap poligit yang sudah berbentuk, dituliskan nomor dan ukuran masing-masing untuk kemudian dicetak.

Baca juga:
Penyandang Disabilitas Gelar Pawai Berbaju Adat
Cerita Puji Lestari, Penyandang Disabilitas akibat Tabrak Lari
Peringati HUT RI, Para Difabel di Jember Gelar Pawai Motor
Anak Penderita Lemah Otot Meninggal Dunia Usai Satu Bulan Dirawat di Rumah Sakit
Antusiasme Anak-Anak Difabel Belajar Main Angklung
Kisah Pantang Menyerah Desainer Tanpa Tangan di Meksiko
Kisah Cary Velazquez, Wanita Disabilitas Sukses jadi Make Up Artist

(mdk/gil)