Menlu Retno Sebut Covid-19 Hambat Pengiriman Bantuan Kemanusiaan yang Cepat & Tepat

Menlu Retno Sebut Covid-19 Hambat Pengiriman Bantuan Kemanusiaan yang Cepat & Tepat
Menlu Retno Marsudi rapat di DPR. ©Liputan6.com/Angga Yuniar
NEWS | 6 Oktober 2021 12:40 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Pandemi Covid-19 telah memperburuk tantangan kemanusiaan di Asia Pasifik. Seperti diketahui, Asia Pasifik merupakan wilayah paling rawan bencana di dunia dengan sekitar 97 juta orang membutuhkan bantuan segera.

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, memaparkan bahwa hingga Oktober tahun ini, lebih dari 58,9 juta kasus Covid-19 dilaporkan di 34 negara di Asia Pasifik dan telah mengakibatkan sedikitnya 952 ribu kematian.

"Terlebih lagi, Covid-19 juga telah menghambat upaya untuk memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan yang cepat dan tepat," kata Menlu Retno ketika membuka Konferensi Regional tentang Bantuan Kemanusiaan (RCHA) yang berlangsung secara virtual. Demikian dikutip dari Antara, Rabu (6/10).

Mengenai hal ini, Indonesia mencatat bahwa pandemi telah menyebabkan keterbatasan sumber daya terutama dukungan keuangan yang tertahan akibat beban yang ditimbulkan oleh pandemi.

Kebijakan pembatasan Covid-19 juga menimbulkan tantangan dalam distribusi logistik. Dengan terbatasnya pergerakan barang dan orang, akses untuk pengiriman bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang terkena dampak menjadi terbatas.

"Dengan latar belakang ini, harapan komunitas kemanusiaan internasional jatuh pada peran penting para aktor kemanusiaan nasional dan lokal," tutur Menlu Retno.

Namun, meskipun bekerja di tengah tantangan pandemi, para aktor kemanusiaan nasional dan lokal disebut tetap aktif dan inovatif dalam menanggapi berbagai situasi kemanusiaan di kawasan.

Mereka termasuk palang merah dan bulan sabit merah, organisasi kemanusiaan berbasis agama, sektor swasta, filantropis, dan masyarakat sipil.

"Kepemimpinan mereka, bergandengan tangan dengan pemerintah, telah inklusif dan cepat dalam menangani kebutuhan yang ada di lapangan," kata Retno.

Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial (ESCAP) Perserikatan Bangsa-Bangsa, Armida Alisjahbana, juga menyebut bahwa Asia Tenggara dan Pasifik termasuk di antara kawasan yang paling terdampak Covid-19 dan iklim ekstrem.

Meskipun sebagian negara telah membuat kemajuan signifikan dalam pengurangan risiko bencana, berdasarkan Laporan Bencana Asia Pasifik ESCAP 2021, tetapi sebagian besar negara di kawasan masih mempersiapkan diri sementara krisis yang tumpang tindih memicu dampak satu sama lain.

"Oleh karena itu, respons kemanusiaan yang dapat melindungi orang-orang terutama mereka yang berisiko dan paling rentan masih menjadi tantangan bagi semua negara," kata Armida.

Mengutip pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, "konflik, perubahan iklim, dan COVID-19 telah menciptakan tantangan kemanusiaan terbesar sejak Perang Dunia II."

Sebagai wilayah paling rawan bencana di dunia, jutaan orang telah mengungsi di Asia Pasifik karena berbagai keadaan darurat alam dan buatan manusia dalam dua tahun terakhir.

Lebih dari seperempat konflik dunia juga terjadi di Asia dan Pasifik. Kawasan ini sekarang menampung 4,4 juta pengungsi. (mdk/lia)

Baca juga:
Warga Singapura Ramai-Ramai Pilih Sinovac dan Sinopharm untuk Vaksin Booster
Pasien Covid-19 di RSUD Arifin Achmad Riau Tinggal 12 Orang
Kabar Terbaru Kasus Covid-19 di Sumut, Medan Berhasil Turun PPKM Level 2
Anggaran BIP Reguler Kemenparekraf di 2021 Dialihkan untuk Tangani Covid-19
Tiga Daerah di Jabar Kembali Masuk PPKM Level 3, Ini Daftarnya
Australia akan Beli 300.000 Pil Obat Covid-19 Buatan Merck

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami