Menolak Stigma Jenggot dan Celana Cingkrang Identik dengan Radikalisme

PERISTIWA | 21 September 2019 12:28 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Upaya penanggulangan radikalisme dan terorisme, diharapkan tidak lagi menyinggung stigmatisasi dan labelling terkait simbol agama. Pesan itu mengemuka dalam Seminar Internasional tentang Peranan Ahli Hadis dalam Penanggulangan Radikalisme yang digelar di Jember selama tiga hari. Seminar yang dihadiri berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri itu juga sekaligus sebagai pertemuan tahunan keempat dari Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA).

"Melalui pertemuan ini, kami ingin meluruskan stigma bahwa ciri-ciri radikalisme yang selama ini sering digambarkan seperti berjenggot, celana cingkrang, dan perempuan bercadar telah membuat definisi radikal menjadi bias," kata Ali Musri Semjan Putra, ketua panitia acara dalam sesi jumpa pers, Sabtu (21/9).

Sementara itu, Ketua Asliha Indonesia, Dr Muhammad Al Fatih Suryadilaga menilai, munculnya radikalisme yang kemudian mengarah pada terorisme, salah satunya dipicu oleh penggunaan hadis palsu. "Seperti penggunaan hadis yang memotivasi muslim untuk memerangi orang kafir, banyak yang tidak valid. Ini yang coba kita luruskan," ujar dosen senior ilmu hadis di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini.

Karena itu, Suryadilaga meminta kepada semua pihak, khususnya media dan pemerintah untuk tidak mudah memberi stempel radikal dan terorisme kepada kelompok tertentu. "Tidak semua yang berjenggot, cingkrang itu sumber petaka. Itu hanya model dalam pemahaman islam. Kalau kita saling memahami, itu bagian dari rahmatan Lil alamin," tegas Suryadilaga.

Acara pertemuan Asilha di Jember ini diadakan dengan tuan rumah penyelenggara yakni, Sekolah Tinggi Dirosah Islamiyah (STDI) Imam Syafi'i, Jember. "Tadi dalam acara pembukaan kan ada kumandang lagu Indonesia raya. Itu bukti bahwa mahasiswa di sini cinta NKRI. Mahasiswi yang bercadar atau menolak bersalaman dengan lawan jenis, itu tidak berarti radikal," tambah Suryadilaga.

Sebelumnya, pada pertengahan tahun 2018, keberadaan STDI Imam Syafi'i Jember sempat memicu gesekan dengan masyarakat di sekitarnya. Terutama dari masyarakat NU. Namun setelah melalui mediasi dari Kemenag, PC NU dan Polres Jember, permasalahan itu berakhir dengan saling berangkulan.

"Sejak dapat izin berdiri dari pemerintah, kampus kami selalu berkomitmen dalam penanggulangan masalah sosial. Salah satunya adalah soal radikalisme yang dikemas dengan wajah agama," tutur Ustadz Arifin Badri, pimpinan STDI Imam Syafi'i Jember.

Badri juga mengkritik kecenderungan justifikasi simbol keagamaan seperti jenggot dan celana cingkrang sebagai pelaku teror. "Coba lihat pelaku teror Bom Thamrin kan pakai kaos, celana jins dan tidak berjenggot," ujar Badri merujuk pada berita foto Afif, pelaku teror Bom Thamrin yang menenteng senjata, memakai kaos dan topi saat serangan teror beberapa waktu lalu.

"Tidak tepat jika menilai orang secara parsial hanya dari tampilan pakaiannya saja," sambung Badri yang juga berjenggot itu.

Seminar internasional yang berlangsung hingga 21 September 2019 tersebut menghadirkan pembicara utama dari kawasan Timur Tengah (Timteng). Di antaranya adalah Syaikh Prof. Dr. Abdullah bin Abdul Aziz Al Faleh (Dekan Fakultas Hadis dan Ilmu Hadis Universitas Islam Madinah), Syaikh Prof. Dr. Ali Ibrahim Saud (Guru Besar Ilmu Hadis Universitas Alu Al Bayt, Amman Yordania), Syaikh Prof. Dr. Abdus Sami’ Muhammad Anis (Guru Besar Ilmu Hadis, Universitas Sharjah, UEA), dan beberapa ulama-ulama hadis lainnya.

Seminar internasional ini diselenggarakan oleh Program Studi Ilmu Hadis STDI Imam Syafi’i Jember bekerja sama dengan ASILHA Asosiasi Ilmu Hadits Indonesia.

Baca juga:
Mencegah Virus Radikalisme Menyebar di Kampus
7 Kepala Sekolah di Jawa Tengah Terpapar Radikalisme
Pansel Pastikan 10 Capim KPK Tidak Terpapar Radikalisme
KKP Gandeng LIPI dan BNPT Perkuat Riset dan Cegah Terorisme
Kepala BNPT: Nasionalisme dan NKRI Harus Kita Pertahankan
Paham ISIS Perlahan Menyebar di Kamp Pengungsi Suriah

(mdk/bal)

TOPIK TERKAIT