Menteri Pendidikan Malaysia Puji Langkah Mendikbud Nadiem Hapus UN

PERISTIWA | 14 Desember 2019 08:27 Reporter : Lia Harahap

Merdeka.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, memutuskan menghapus sistem Ujian Nasional (UN) mulai 2021. Langkah Menteri Nadiem dipuji Menteri Pendidikan Malaysia, Dr Mazlee Bin Malik.

"Saya kira itu tindakan wajar dan bijak dari Kemendikbud Indonesia dan ini bukan sesuatu yang baru karena di negara-negara maju sudah lama dilaksanakan demikian pula di Malaysia dan Singapura," ujar Mazlee ketika diwawancarai di Kementerian Pendidikan Malaysia, Putrajaya, Jumat.

Mazleen melihat pembinaan holistik para pelajar sebagai tolak ukur yang paling penting.

"Seorang pelajar itu harus menargetkan karirnya untuk lulus bukan hanya dilihat dari ujiannya semata-mata namun juga pencapaian kemahiran aktivitas dan juga ruang kreativitas serta inovasi," jelasnya.

Dia mengatakan, di Malaysia akan menggunakan big data dan kecerdasan buatan (artificial inteleligent) untuk memprofil setiap murid.

"Berdasarkan ini ketika mereka dihadapkan untuk mengambil jurusan ada informasi awal hingga penghujungnya yang bisa memberitahu bidang mana yang paling cocok. Ini akan diberlakukan satu tahun lagi," tambahnya.

1 dari 1 halaman

Kelas 1-3 SD di Malaysia Tidak Wajib Ujian

Selain itu, katanya, untuk siswa kelas 1, 2 dan 3 tingkat Sekolah Dasar (Darjah) juga tidak melakukan ujian wajib.

"Kita tidak ada ujian wajib tetapi yang kita adakan adalah penilaian secara terintegrasi kepada setiap murid. Ini yang berlaku di negara-negara maju. Jadi pada peringkat tiga tahun di awal kita tumpukan pada membaca malah dalam sekolah-sekolah Malaysia kita adakan sudut-sudut pidato di mana setiap murid akan dinilai kemahirannya berpidato di khalayak umum sama halnya yang kecil bacaan mereka," terangnya.

Dia mengatakan, apa yang mereka baca dibagikan oleh guru untuk dinilai secara bertahap sehingga pada penghujungnya anak-anak tidak sekedar bisa membaca tetapi paham apa yang mereka baca dan mampu mengolahkan apa yang mereka baca.

"Selain itu mereka mempunyai kemahiran kritikal mampu menilai apa yang mereka baca dan sejauh mana keperluan bagi kehidupan mereka. Ini yang paling dasar," ujarnya.

Yang kedua, lanjut dia, untuk menggalakkan budaya membaca pihaknya meminta kepada semua pihak di kementerian untuk melakukan penilaian kepada pejabatnya (pegawai) untuk kenaikan pangkat harus disertai dengan bahan bacaan mereka.

"Buku apa yang telah mereka baca dan konteks bahan bacaan juga penting, kita tidak menafikan konten fiksi karena bermanfaat untuk membangun ruang kreatif tetapi juga bacaan fakta atau saintifik," sebutnya.

Karena itu bagi anak-anak SD, ujar dia diutamakan literasi saintifik dan keutamaan mereka berpikir secara saintifik karena kalau mereka tidak dibiasakan berpikir secara saintifik maka mereka akan kesulitan menyelesaikan masalah secara saintifik.

"Jadi dari awal kita ingin membangun santifik mindset atau saintifik mentalitiy," katanya. (mdk/lia)

Baca juga:
PGRI Soal Sistem UN Dihapus: Ini Jangan Coba-Coba, Perlu Kajian Matang
Dasar Mendikbud Nadiem Ingin Ubah Ujian Nasional
Politisi PAN Akui UN Bermasalah: Susun, Cetak, Distribusi Soal Dikawal Polisi
Mendikbud Nadiem Tegaskan UN Tidak Dihapus tapi Diganti Formatnya
VIDEO: Kata JK, Generasi Bangsa Tak Punya Semangat Belajar Jika UN Dihapus

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.