Menyambut hari lahir Inggit Garnasih, ibu bangsa berjuta jasa buat Soekarno

PERISTIWA | 5 Februari 2018 06:01 Reporter : Mardani

Merdeka.com - nama Inggit Garnasih tak bisa dilepaskan dari Presiden pertama RI Soekarno. Inggit adalah sosok perempuan yang sangat berpengaruh bagi perjalanan hidup Soekarno. Saat awal Soekarno menjadi aktivis dan pejuang kemerdekaan Indonesia, Inggit lah perempuan yang setia mendukung dan menemaninya dalam senang maupun sulit.

12 Hari mendatang, tepatnya 17 Februari, adalah tanggal kelahiran sang ibu bangsa. Beragam cara pun dilakukan oleh masyarakat buat menyambutnya.

Salah satunya dilakukan Sakola Ra'jat Iboe Inggit Garnasih bersama mahasiswa dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Kota Bandung. Mereka menyambut hari lahir Inggit Garnasih melalui pertunjukan tari.

Dengan memakai kebaya khas Jawa Barat, 17 penari itu sembari membawa foto Inggit, melenggak-lenggok sesuai dengan interpretasi atau tafsiran masing-masing tentang sosok Inggit Garnasih. Tarian dimulai dari rumah bersejarah Ibu Inggit Garnasih lalu menyusuri Jalan Astanaanyar dan masuk ke Gang Liogenteng. Mereka menari di gang yang dilalui untuk mengenalkan sosok Inggit Garnasih kepada masyarakat sekitar.

Tarian berakhir di Lapangan Aula RW 05 Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar dan disambut oleh murid-murid SR Iboe Inggit Garnasih dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka.

ibu inggit dan bung karno ©buku kuantar ke gerbang/bentang

"Selama Februari ini kita melakukan berbagai kegiatan untuk mengenalkan sosok ibu Inggit ke masyarakat, termasuk masyarakat di Lio Genteng, Astananyar. Karena emang lokasinya berdekatan dengan rumah Ibu Inggit," kata salah satu koordinator acara, Gatot Gunawan, dikutip dari Antara, Minggu (4/2).

Gatot mengatakan, sosok Inggit Garnasih memiliki peran sentral dalam kemerdekaan Indonesia khususnya bagi Soekarno. Maka sudah sepantasnya untuk terus mengenang jasa-jasa Inggit.

"Tari jadi media untuk mengenalkan ibu Inggit ke masyarakat. Kita menggunakan cara lain melalui seni pertunjukan tari di jalanan, karena di masyarakat sendiri tidak tahu siapa Ibu Inggit. Minimal mengingatkan memori orangtua mereka," kata dia.

Menurutnya, bulan Februari akan dijadikan sebagai Bulan Cinta Ibu Bangsa Inggit Garnasih. Berbagai kegiatan pun akan berlangsung untuk lebih mengenang dan mengenal sosok Inggit.

Pada tanggal 11 Februari akan berlangsung diskusi, kemudian tanggal 16 diadakan pawai obor. Lanjut ke tanggal 17 akan berlangsung ziarah ke makam Inggit di pemakaman umum Porib dan diakhiri dengan laga persahabatan sepakbola pada tanggal 25.

"Kami berharap Kota Bandung tidak kehilangan identitas sebagai kota kawah candradimukanya para pejuang dan spirit Ibu Inggit Garnasih dapat terus hidup dikalangan generasi muda," kata dia.

ibu inggit dan bung karno ©buku kuantar ke gerbang/bentang

Inggit Garnasih adalah istri ke-2 Bung Karno. Keduanya kenal pertama kali saat Soekarno masih menjadi mahasiswa dan kost di kediaman Haji Sanusi, anggota Sarekat Islam (SI), yang tak lain adalah suami Inggit. Saat itu, Soekarno dan Inggit masing-masing telah menikah.

Soekarno saat itu beristri Oetari, anak dari HOS Tjokroaminoto. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta muncul di antara keduanya. Retaknya rumah tangga masing-masing pihak membuat benih cinta keduanya makin bersemi. Akhirnya, Soekarno memutuskan menceraikan Oetari dan mengembalikannya kepada HOS Tjokroaminoto yang tak lain adalah gurunya.

Singkat cerita, Sanusi akhirnya menceraikan Inggit setelah mengetahui sang istri menjalin hubungan asmara dengan Soekarno. Sanusi lantas merelakan Inggit dinikahi Soekarno. Sejak itu Inggit menjadi orang yang sangat berjasa bagi Soekarno. Inggit selalu hadir dalam semua kesulitan Soekarno. Saat dipenjara dan dibuang Belanda, Inggit setia menemani.

rumah Inggit Garnasih ©2013 Merdeka.com

Namun, benih keretakan rumah tangga akhirnya muncul. Setelah 20 tahun menikah, keduanya belum juga diberika keturunan oleh Tuhan. Bung Karno yang usianya 13 tahun lebih muda dari Inggit sangat menginginkan anak. Soekarno pun berniat menjadikan Inggit istri pertama dan menikahi Fatmawati, anak tokoh Muhammadiyah di Bengkulu yang dikenalnya saat diasingkan di sana.

Rencana itu ditolak tegas Inggit. Dia lebih memilih berpisah ketimbang harus di madu. Akhirnya, keduanya bercerai pada 1943. Soekarno kemudian menikahi Fatmawati. Inggit kemudian kembali ke Bandung.

Tahun 1960, Soekarno pernah mendatangi Inggit di Bandung. Saat itu, Inggit sudah berumur 72 tahun. Sementara Soekarno berusia 59 tahun dan sedang berada di puncak kekuasaannya setelah mengeluarkan dekrit presiden tahun 1959 dan membentuk sistem pemerintahan presidensial.

Sang pemimpin besar revolusi kemudian meminta maaf karena telah menyakiti hati Inggit. Pada waktu itu Inggit menjawab.

"Tidak usah meminta maaf Kus. Pimpinlah negara dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu di rumah ini."

"Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat dan untuk seluruh keturunan bangsa kita," demikian dikutip dalam leaflet 'Rumah Bersejarah Inggit Garnasih', dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Inggit menatap Soekarno yang berdiri dengan jas kebesarannya. Dia kemudian memegang bahu Soekarno. Dalam bahasa Sunda, Inggit menyampaikan nasihatnya. Sama seperti yang selalu dilakukannya dulu sejak berkenalan dengan Soekarno di Bandung tahun 1921. Inggit juga selalu memanggil Soekarno dengan Kusno, nama kecilnya.

"Kus, ini baju pemberian rakyat. Kus harus ingat dan harus bisa menjaganya. Jangan sampai melupakan mereka," kata Inggit seperti ditulis Tito Zeni Asmara Hadi dalam pengantar buku Kuantar ke Gerbang karangan Ramadhan KH yang diterbitkan Bentang.

Inggit Garnasih ©blogspot.com

Inggit berumur panjang. Dia melihat Orde Lama tumbang dan digantikan Orde Baru. Soekarno yang dulu jaya, diasingkan Soeharto dalam Wisma Yasoo di Jl Gatot Soebroto, Jakarta. Jika Belanda mengasingkan Soekarno ke Flores dan Bengkulu, maka kini Soekarno dibuang oleh bangsanya sendiri.

Dalam kesendirian Soekarno meninggal tahun 21 Juni 1970. Inggit terisak sedih melihat cinta lamanya pergi mendahului dirinya.

"Kus, gening kus teh miheulaan, ku Inggit didoakeun..." artinya kira-kira "Kus, Ternyata Kus pergi lebih dulu. Inggit mendoakanmu.."

Kelak istri-istri Soekarno justru rajin mengunjungi Inggit di Bandung. Fatmawati, Hartini, hingga Ratna Dewi. Semuanya menghormati sosok wanita tua yang luar biasa ini.

Inggit meninggal tanggal 13 April 1984 dan dimakamkan di Pemakaman Babakan Ciparay Bandung. Saat meninggal usia Inggit 96 tahun.

Soekarno mengakui Inggit bukanlah wanita yang pintar berorasi dan pintar dalam akademik. Inggit adalah seorang wanita yang bijaksana, pintar melayani suami dan selalu memberi semangat. Tanpa ditopang Inggit, Soekarno tak akan belajar menjadi seorang pemimpin besar.


Menelusuri bekas Penjara Banceuy, saksi bisu pengorbanan Bung Karno untuk Indonesia
Beda kisah Presiden Soekarno & Jokowi saat nikahkan puterinya
Kisah lucu Presiden Soekarno saat ketemu mantan di jalan
Kisah lucu operasi 'mobil mogok' di rumah istri keenam Soekarno
Kenangan Wali Kota Blitar, rayakan Hari Pancasila dengan ketakutan

(mdk/dan)