Meski Dikepung Asap Pekat, Murid SD dan TK Palangka Raya Tetap Sekolah

PERISTIWA | 12 September 2019 23:03 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Kota Palangka Raya dikepung pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah setempat belum meliburkan kegiatan belajar mengajar murid TK dan SD.

Kabut asap di ibu kota provinsi Kalimantan Tengah itu semakin pekat pagi tadi. Orangtua mengkhawatirkan kondisi kesehatan putra putri mereka yang setiap hari menghirup kabut asap sejak Juni 2019.

"Kabut asap semakin pekat. Di Palangka Raya, murid TK dan SD, cuma jam belajar saja diundur. Termasuk dua anak saya. Seharusnya, libur saja dulu," kata warga Palangka Raya, Anang (40), kepada merdeka.com, Kamis (12/9).

Anang menerangkan, jam belajar normal murid di kedua tingkatan itu masuk sekolah pukul 06.30 WIB. Namun dampak akibat kabut asap, aktivitas belajar mengajar diundur 1 jam.

"Sekarang jam belajar diundur jam 07.30. Tapi percuma saja diundur, karena memang kabut asap semakin pekat. Sebagai orangtua, saya minta anak TK dan SD sementara diliburkan aja dulu," ujar Anang.

"Kasihan anak-anak, paru-parunya masih rawan. Kabut asap ini merata di Palangka Raya. Apalagi di (kabupaten) Sampit, kabut asapnya sudah sangat parah," tambah Anang.

Dia menyayangkan, pemerintah seolah tidak memahami kekhawatiran masyarakat akibat kabut asap.

Warga Palangka Raya lainnya, Menteng (38) mengutarakan hal sama. Setiap pagi, dia membersihkan motor yang parkir di rumah dari debu pekat.

"Iya itu, karena ada debu arang bakar-bakar nempel di motor, di teras rumah. Belum lagi kalau malam, aroma udara seperti pohon terbakar," kata Menteng.

Baca juga:
Indonesia-Malaysia Kembali Berseteru karena Jerebu
Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, Warga Sampit-Palangka Raya Salat Minta Hujan
VIDEO: Kabut Asap Selimuti Tetangga Dekat Calon Ibu Kota Baru
2 Kota Penyangga Calon Ibu Kota Baru di Kaltim Diselimuti Kabut Asap
Samarinda Berkabut Asap, Pemkot Ternyata Tak Punya Alat Ukur Kualitas Udara
Petugas Kesulitan Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan di Penajam Paser Utara

(mdk/noe)