Miris, Rentetan Pembunuhan Anggota Keluarga Ini Dilakukan Cuma karena Masalah Harta

PERISTIWA | 12 November 2019 05:30 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Sesama saudara terlebih saudara kandung seharusnya saling sayang dan mengasihi. Namun ternyata ada juga orang yang tega menghabisi nyawa saudara kandung bahkan orangtua cuma karena masalah harta kekayaan.

Bahkan ada kasus yang sangat miris menyayat hati yakni seorang anak dengan sadis membunuh ayahnya kemudian dikubur dan dicor di dalam musala. Berikut deretan kisah pembunuhan terhadap keluarga cuma karena masalah harta:

1 dari 3 halaman

Dibunuh Saudara Kandung

Pembunuhan sadis yang menewaskan satu keluarga di Desa Pasinggangan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah terungkap. Peristiwa itu terjadi lima tahun silam. Para korban dibunuh oleh saudara sendiri.

Pembunuhan terjadi pada tanggal 9 Oktober 2014 silam. Namun baru terungkap setelah kerangka keempat korban ditemukan tanggal 24 Agustus 2019. Keempat korban tersebut terdiri atas Supratno (51) anak pertama Misem, Sugiono (46) anak kedua Misem, Heri (41) anak kelima Misem, dan Vivin (21) anak dari Supratno.

Sedangkan keempat tersangka terdiri atas Saminah (52) beserta tiga anaknya, yakni Irfan (32), Putra (27), dan Saniah (37). Tersangka Saminah merupakan anak kedua dari Misem. Misem merupakan ibu dan nenek dari keempat tersangka maupun korban pembunuhan.

Dalam prarekonstruksi yang dilakukan terbongkar para tersangka menghabisi keempat korban. Di mana tersangka Irfan dan Putra terlebih dahulu masuk ke dalam rumah Misem. Kemudian, keduanya menemukan Sugiono sedang mandi dan ketika keluar dari kamar mandi dipukul menggunakan besi bekas dongkrak.

"Kondisi besinya sudah seperti ini karena dikubur di dekat saluran air sehingga terkikis," ujar Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun, Rabu (28/8).

Setelah dipukul Irfan dengan menggunakan besi, Sugiono kembali dipukul Putra dengan menggunakan tabung elpiji ukuran 3 kilogram hingga meninggal dunia dan selanjutnya jenazahnya dibawa ke salah satu kamar di rumah Misem.

Berhasil membunuh Sugiona, Irfan dan Putra selanjutnya menunggu kedatangan penghuni rumah Misem lainnya, hingga akhirnya datanglah korban kedua, Supratno yang baru pulang dari tempat kerja. Sesampainya di rumah, Supratno yang merupakan pegawai negeri sipil dibunuh kedua tersangka dengan cara dipukul menggunakan besi dan tabung elpiji.

Selanjutnya keduanya membunuh Heri yang merupakan anak kelima dari Misem. kedua tersangka Irfan dan Putra kemudian membunuh sepupu mereka, yakni Vivin yang merupakan putri dari Supratno dan tercatat sebagai mahasiswi IAIN Purwokerto.

2 dari 3 halaman

Istri & Anak Cor Jasad Ayah di Musala karena Asmara & Warisan

Selanjutnya ada pembunuhan Surono, yang jasadnya dikubur di bawah lantai musala yang dilakukan oleh istri dan anak kandungnya sendirinya. Keduanya bersekongkol melakukan pembunuhan berencana dengan motif masing-masing yang berbeda. Bahar Mario (27) anak kandung korban dan Busani (45) istri korban.

Surono dibunuh sekitar akhir Maret 2019 itu, Bahar berperan menghujamkan linggis yang mengenai tulang pipi dan rahang sebelah kiri korban. Saat itu, dini hari korban sedang terlelap.

"Listrik sengaja dimatikan oleh tersangka B (Busani, istri korban). Tersangka B berperan membantu pelaku BHR (Bahar) dengan memberikan penerangan berupa lampu portabel," terang Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal saat jumpa pers di Mapolres Jember, Kamis (7/11).

Motif sang anak Bahar Mario, terkait harta warisan. Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal menjelaskan Bahar sakit hati karena mendapatkan bagian sedikit dari penjualan ladang kopi milik Surono.

Ladang kopi Surono sendiri meraup omzet sekira Rp140 juta dalam setahun belakangan. "Korban S ini dikenal cukup mampu secara ekonomi. Penghasilannya dari panen kopi cukup lumayan," tutur Alfian.

"Tetapi istri dan anaknya merasa, cuma diberi jatah sedikit. Bahar mengaku cuma diberi jatah ratusan ribu oleh ayahnya, merasa kurang," katanya.

3 dari 3 halaman

Paman Tewas di Tangan Keponakan

Masalah harta yang menyebabkan korban meninggal kembali terjadi. Kali ini duel maut terjadi antara paman SA dengan keponakan SJ di ladang jagung Desa Taring, Kecamatan Biringbulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sang paman tewas mengenaskan dengan kepala terpenggal.

"Pelaku inisial Haji SJ telah menyerahkan diri ke Polsek setempat dan kini dalam perjalanan menuju Polres Gowa," kata Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Mangatas Tambunan saat dikonfirmasi, Senin (11/11).

Sementara itu, Camat Biringbulu, Yamin Basri menjelaskan keduanya sudah lama terlibat konflik memperebutkan lahan ladang jagung. Lahan itu baru panen dan saat ini baru mulai tanam lagi. Selama ini dikuasai oleh SJ.

"Kejadiannya pagi sekali tadi di lahan itu dan lokasinya sangat jauh dari lokasi perkampungan sehingga masih jarang orang. Jadi sangat kurang saksi. Tapi kata Haji SJ, istrinya ada di lokasi itu. Yang ditemukan di lokasi kejadian sementara ini hanya satu sabit yang biasa digunakan petani di ladang. Kasusnya ini sementara didalami polisi," kata Yamin. (mdk/dan)

Baca juga:
Kronologi Pembunuhan Dua Wartawan dan Aktivis Lingkungan di Labuhanbatu Sumut
Awal Mula Terbongkarnya Jasad Dicor di Lantai Musala, Pelaku Niat Fitnah Tetangga
Eksekutor Kasus Jasad Dicor Residivis, Pernah Aniaya Istri Kiai di Pesantren
Detik-detik Istri Dibantu Anak Bunuh dan Cor Suami di Lantai Musala
Kisah Istri & Anak Durhaka Cor Jasad Ayah di Musala karena Asmara Terlarang & Warisan