Mirisnya kehidupan tiga saudara bermental terbelakang di Medan

PERISTIWA » MALANG | 12 September 2018 21:13 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Begini jadinya ketika tiga bersaudara berkekurangan mental ditinggal meninggal dunia oleh semua anggota keluarganya. Mereka terpaksa bergantung pada belas kasih warga.

Itulah yang dialami tiga kakak beradik Muhammad Rizal (26), Sri Wahyuni (45), dan Suryani Fitri (49). Ketiganya berkebutuhan khusus, mentalnya terbelakang. Sehari-hari mereka hidup di rumah darurat di Gang Melati, Jalan Young Panah Hijau, Labuhan Deli, Medan Marelan.

Kakak beradik berkebutuhan khusus ini bahkan tak punya tempat tidur, sehingga harus tidur di lantai rumah. Jika hujan turun, air masuk dari berbagai arah karena bocor di sana-sini.

"Di rumah itu mereka tinggal bertiga ya kurang akal gitu ya," kata Itawati, perempuan yang tinggal di sebelah rumah itu.

Rumah papan dan tepas berukuran sekitar 2,5x2,5 meter itu dibangunkan warga sekitar Mei 2018 lalu. Tak ada jendela, yang ada hanya pintu.

"Rumahnya dibangun dari sisa bangunan rumah mereka yang rubuh waktu itu," sebut Itawati.

Rizal dan kakak-kakaknya tak bisa mencari nafkah. Setelah ditinggal mati ketua orang tuanya, Mansyur Yusuf dan Nursamsiah, beberapa tahun lalu, penghidupan mereka bergantung pada seorang saudaranya, Mala. Perempuan ini satu-satunya yang normal di keluarga ini.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mala meninggal sebulan lalu, saat bekerja sebagai pengupas kerang.

"Untuk makan ya kami tetangga yang memberi, kakaknya yang cari nafkah meninggal pula," sebut Itawati.

Kondisi ketiga saudara ini menjadi perhatian warga dan Kodim 0201/BS Medan. Personel TNI pun dikerahkan untuk membangun kembali rumah mereka agar layak huni.

Rumah ketiga bersaudara itu mulai dibongkar, Rabu (12/9). Hari itu juga, personel TNI membangun fondasinya.

"Arahan Komandan Kodim agar kita langsung membangunkan rumah untuk keluarga yang hidupnya memprihatinkan ini. Kita akan buatkan rumah yang layak dihuni, rumahnya model rumah panggung karena di sini ada air pasang, kerja pun sebelum air pasang datang," kata Kapten Agus Miadi, Danramil/11 Medan Deli.

Selama rumahnya direhabilitasi, Muhammad Rizal dan kedua kakaknya sementara ditempatkan di rumah tetangga. Tak banyak barang yang dipindahkan. Hanya terlihat beberapa piring dan sendok.

Bukan hanya membangunkan rumah, pihak TNI juga sudah berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membantu penghidupan ketiga bersaudara itu. "Kita sudah berkoordinasi dengan Camat Medan Marelan. Nanti pemerintah kota yang akan mengurus masalah kesehatan dan logistik untuk mereka," jelas Agus. (mdk/eko)

Baca juga:
Anak tewas dianiaya, nenek miskin ditagih RSUD Moewardi Solo Rp 40 juta
Kisah sedih seorang ayah korban gempa Lombok ditemukan tewas sambil memeluk anaknya
Seni hidup Rumiati sang juru parkir perempuan
Ganjar menjenguk Huda, bocah penderita kanker di wajah
Cerita kakek Okem menolak ditempatkan ke rumah singgah
Nestapa di Tangsel, kakek Okme sambung hidup dari belas kasihan warga

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.