MUI dan PBNU Desak Pemerintah Hentikan Penerbitan IUI Baru Minuman Beralkohol

MUI dan PBNU Desak Pemerintah Hentikan Penerbitan IUI Baru Minuman Beralkohol
Bea Cukai rilis rokok dan miras ilegal. ©2018 Merdeka.com/Arie Basuki
PERISTIWA | 28 April 2021 19:59 Reporter : Iqbal Fadil

Merdeka.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak pemerintah untuk menghentikan penerbitan izin usaha industri (IUI) Minuman Beralkohol yang baru dan menghentikan penambahan kuota produksi untuk IUI tersebut.

Sampai saat ini, pemerintah telah menerbitkan sebanyak 103 IUI Minuman Beralkohol bagi perusahaan yang beroperasi di berbagai daerah dengan volume produksi melampaui 500 juta liter setiap tahun.

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas mengungkapkan bahwa penerbitan IUI Minuman Beralkohol (Minol) yang baru harus dihentikan karena sangat berbahaya bagi masa depan generasi muda dan masyarakat umumnya.

"Ya harus disetop. Majelis Ulama Indonesia menilai industri miras ini sangat berbahaya. Menjadi tugas negara untuk melindungi rakyat agar rakyat sehat, tidak mabuk-mabukan, dan tidak kehilangan akal sehat," kata Anwar Abbas di Jakarta, Rabu (28/4).

Dia mengatakan MUI sangat menyesalkan sikap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah memasukkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Minuman Beralkohol sebagai Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun 2021. Padahal Presiden Joko Widodo secara resmi telah mencabut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021, khususnya pada Lampiran III, Nomor 31, 32, dan 33 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, terkait pembukaan IUI baru.

Pendapat senada juga diungkapkan Sekjen PBNU Helmy Faizal Zaini. "Kami rasa investasi (penerbitan IUI baru) minuman beralkohol ini perlu dihentikan karena lebih banyak mudaratnya dari pada manfaatnya. Investasi adalah hal baik, jika investasi itu mengandung unsur mudarat yang lebih membahayakan, tentu hal ini dilarang syariat," tegas Helmy.

Menurut Helmy, Indonesia bukan negara agama, tapi negara berlandaskan Pancasila. PBNU, lanjutnya, secara konsisten menolak investasi minuman keras dibebaskan.

"Indonesia bukan negara sekuler. Indonesia adalah negara Pancasila yang berketuhanan. Karena itu, berbagai peraturan yang dikeluarkan pemerintah dan semua perilaku masyarakat harus berpedoman dengan nilai-nilai agama," kata Helmy. (mdk/bal)

Baca juga:
Mantan Bos BEI Rekomendasikan Saham Delta Djakarta Dijual
6 Cara Detoks Tubuh Lewat Gaya Hidup, Mudah & Tingkatkan Imun
Kisah Pasutri Pemasok Botol Miras Beromzet Rp700 Juta, Kini Pilih Jual Sayur
Ketahui Bagian-Bagian Otak yang Terdampak ketika Kamu Kecanduan Alkohol
Pasangan Selingkuh di Bali Curi Mobil Boks Lalu Jual Minuman Beralkohol Muatannya
Kenali Tahapan Penggunaan Alkohol Mulai Mencoba hingga Kecanduan

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami