MUI Sebut Wacana Kemenag Mengatur Naskah Khutbah Jumat Berlebihan

PERISTIWA | 22 Januari 2020 01:34 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Wacana Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandung mengatur tema dan naskah khutbah Jumat ditentang Majelis Ulama Indonesia (MUI). Rencana itu dianggap berlebihan jika tujuannya menjaga kehidupan toleransi umat beragama.

Sekretaris MUI Kota Bandung Irfan Syafrudin menyebutkan, masyarakat Kota Bandung tidak memiliki masalah dengan isu toleransi. Selama ini kehidupan antarumat beragama berjalan baik.

"Sepanjang sejarah di Kota Bandung, para tokoh atau pemuka agama tidak memiliki masalah mengenai isu tersebut. Sejak Indonesia merdeka, para mubaligh ada yang memberontak tidak? gitu aja," kata dia saat dihubungi, Selasa (21/1).

Berkaitan dengan penyediaan teks khutbah, MUI sudah menjalankannya sejak lama. Biasanya, naskah tersebut disebarkan pada momentum tertentu, seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Itu pun sifatnya tidak wajib. Naskah dengan tema yang disiapkan bisa dipakai atau tidak bergantung kebutuhan pengurus masjid.

Naskah khutbah yang disediakan bisa sangat baik jika tujuannya untuk mempermudah penceramah. Artinya, niat penyediaan naskah bukan untuk menjaga toleransi. Karena isu tersebut bukan menjadi masalah utama di Kota Bandung.

"Sebetulnya kekhawatiran-kekhawatiran kaya gitu (naskah ceramah untuk menjaga toleransi) menurut saya agak berlebihan. Tapi kami terbuka (untuk berdiskusi dengan Kemenag Kota Bandug)," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Agama Kota Bandung mewacanakan naskah khutbah Jumat disiapkan pemerintah. Hal ini bertujuan agar rambu-rambu yang bisa mencederai kehidupan toleransi bisa dihindari.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandung Yusuf Umar mengatakan, wacana ini serupa dengan kebijakan yang menurutnya sudah diterapkan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

"Berdasarkan informasi, Abu Dhabi, teks khotbah disiapkan pemerintah. Dalam hal ini di Indonesia mungkin (naskah khutbah) lewat Kementerian Agama, dalam rangka dakwah ke masyarakat itu menyejukan dan mendoakan pemerintah menjadi baldatun toyibatun wa robun gofur," ucapnya di Kantor Pemerintah Kota Bandung.

Dia berharap wacana ini bisa mendapat dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan masyarakat secara umum. Metode seperti ini diklaim bisa membuat ketenteraman bisa lebih mudah dijaga.

Isi dakwah pun bisa disesuaikan dengan kebutuhan atau urgensi di tengah masyarakat. Seperti tema kehidupan bertoleransi sebagai negara menganut pancasila.

"(Contoh tema) Bagaimana kita hidup bertoleransi, bagaimana kita hidup di antar umat beragama ini supaya tetap rukun, aman damai dan hidup sesuai negara pancasila ini bagaimana agar masyarakat melaksanakan ajaran agamanya dengan tenang tanpa mengganggu yang lain," ucap dia. (mdk/cob)

Baca juga:
Menag Tak Pernah Bahas Rencana Tema Khotbah Jumat Diatur Pemerintah
Tema Khotbah Jumat Bakal Diatur, Kemenag Kota Bandung Siapkan Naskah untuk Khatib
Khatib Istiqlal: Mampu Menahan Emosi Buahnya Pemberian Maaf pada Orang Lain
Sumarsono minta khutbah di masjid tak ada bau politik
JK sebut tak mudah sertifikasi khatib karena masjid dibangun warga
Khutbah Jumat di Mesir akan diseragamkan

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.