Muncul Klaster PTM, Pemkot Solo Minta Orang Tua Pantau Kegiatan Anak di Rumah

Muncul Klaster PTM, Pemkot Solo Minta Orang Tua Pantau Kegiatan Anak di Rumah
Uji coba pembelajaran tatap muka di Tangerang. ©2021 Liputan6.com/Angga Yuniar
NEWS | 20 Oktober 2021 02:32 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Munculnya klaster Covid-19 dari kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sejumlah sekolah dasar (SD) di Solo, membuat Wali Kota Gibran Rakabuming Raka meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya meminta orangtua siswa untuk selalu memonitor anak-anak mereka saat berada di rumah.

“Kalau sudah pulang sekolah, mereka main kemana kan kita nggak tahu. Di rumah harus diketatkan juga oleh orangtua murid. Orangtua diminta kesadarannya, diminta dimonitor. Biar bagaimanapun kalau di sekolah kan cuma dua sampai tiga jam paling lama," katanya saat ditemui di Balai Kota Solo, Selasa (19/10).

Terkait munculnya klaster Covid-19 dari sejumlah sekolah di Solo tersebut, Gibran mengklaim jika penerapan protokol kesehatan (prokes) selama ini sudah berjalan baik. Bahkan ada surveilans atau pengawasan langsung yang dilakukan dinas kesehatan.

Gibran menyampaikan, meskipun puluhan siswa dan guru dinyatakan positif Covid-19, namun mereka tetap mengikuti Pelajaran Jarak Jauh (PJJ). Karena semuanya berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Kalau OTG kan berarti badannya masih terasa sehat. Kalau masih kuat untuk PJJ ya PJJ saja gak papa. Kecuali kalau ada yang sakitnya parah, sesak nafas dan lain-lainnya bisa gak ikut PJJ. Kebanyakan anak-anak kecil itu mereka malah kuat," jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini pihaknya belum mengecek kondisi siswa dan guru yang positif Covid-19.

"Belum, nanti habis ini. Semuanya OTG tapi OTG itu yang bahaya karena mereka masuk sekolah tapi gak tahu kalau sakit," tandasnya.

Kasus munculnya klaster PTM di sejumlah SD tersebut, dikatakannya, akan menjadi bahan pertimbangan untuk melonggarkan aturan selama penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 2 di Kota Bengawan.

"Ya pasti nanti kita jadikan bahan pertimbangan. Sekali lagi, anak-anak dibawah 12 tahun belum bisa divaksin makanya harus ekstra hati hati,” katanya.

Gibran mengaku hampir setiap hari mendapat komplain warga karena anak kecil masih tidak diperbolehkqn masuk ke mal, taman Jurug dan lainnya.

“Anak kecil kok gak dibolehin masuk mal. Ya saya jelaskan kalau anak kecil itu lebih riskan terpapar. Makanya lebih kita lindungi bukan kita batasi kita itu pengennya melindungi," paparnya.

Putra Presiden Jokowi itu juga menyesalkan masih banyaknya anak-anak sekolah yang nongkrong usai PTM. Mereka bahkan masih mengenakan seragam, dan jajan dengan bergerombol tanpa menghiraukan prokes.

"Jam 12 siang lihat saja di es kapal. Saya sering nemuin disitu, masih pakai seragam, nanti saya suruh bubar," tegasnya.

Sementara itu, salah satu orangtua siswa di SD Kristen Manahan Solo, Winarno mengaku setuju jika PTM dihentikan sementara di sekolah tersebut. Karena hal tersebut mengurangi dampak yang lebih besar.

"Ini juga evaluasi ke depan bagaimana sekolah agar bisa menyiapkan PTM lagi sesuai prokes. Anak saya dua-duanya di SD Kristen Manahan dan kemarin di tes PCR semuanya negatif," tutup dia. (mdk/fik)

Baca juga:
Satu Orang Terpapar, 92 Siswa dan Guru SMPN 10 Depok Dites Swab Satgas
Jakarta PPKM Level 2, Sekolah Ikut PTM Terbatas akan Ditambah
Jokowi Tinjau Vaksinasi Pelajar di Tarakan: Kalau Suntik Pertama, Sudah Bisa PTM
14 Siswa dan Guru Positif Covid-19 Selama PTM di Kota Bandung
Muncul Klaster PTM di Sekolah, Gibran Ingatkan Guru Gunakan Masker dengan Benar
Satu Siswa Terpapar Covid-19, SMPN 10 Depok Hentikan PTM Sementara

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami