Musim penghujan, Desa Adat Pecatu gelar upacara memohon turun hujan

Musim penghujan, Desa Adat Pecatu gelar upacara memohon turun hujan
PERISTIWA | 30 November 2016 00:15 Reporter : Gede Nadi Jaya

Merdeka.com - Ada yang sedikit aneh rasanya melihat ritual upacara yang selalu digelar setiap tahunnya oleh Desa Adat Pecatu, di Kuta Selata, Bali, ini. Bagaimana tidak, desa adat ini menggelar prosesi upacara Melasti mohon turun hujan justru di saat musim penghujan saat ini.

Menurut warga sekitar, upacara melasti mohon hujan ini sudah menjadi tradisi yang digelar setiap satu tahun sekali di saat bulan mati atau tilem kalima yang kebetulan jatuh pada Selasa (29/11).

"Kebetulan saja jatuhnya tanggalan disaat musim penghujan. Di zaman sebelumnya sangat sulit adanya hujan turun, karenanya digelarlah upacara ini. Dan, ini sudah menjadi tradisi kami rutin setiap tahunnya," ungkap Pak Komang, warga setempat di Desa Pecatu.

Upacara ini dilaksanakan di Pantai Labuan Sait ini. Seluruh warga desa ini tumpah ruah mengikuti jalannya upacara penuh hikmat dan sakral. Bahkan nampak sejumlah warga yang kesurupan tatkala prosesi upacara berlangsung.

Bendesa Adat Pecatu Made Sumerta memaparkan, pemelastian ini merupakan rangkaian atau eedan dari Upacara Nagutiin yang digelar Tanggal 14 November dan Ngusaba Tanggal 22 November lalu.

"Hari ini ada pemelastian di pantai Labuan Sait, untuk memohon kepada Ida Batara Segera agar turun hujan. Dan, masyarakat bisa memulai bercocok tanam," papar Bendesa yang juga anggota dewan Badung ini.

Ritual ini sambungnya sudah digelar secara turun temurun sejak dahulu setiap sasih kelima atau saat bulan Tilem 'bulan mati' Kalima. Pada pemelastian ini, kata Sumerta, juga dilakukan prosesi nedunang (pemanggilan) Ida batara untuk menanyakan apakah upacara ini sudah benar terlaksananya atau tidak. Selain itu juga meminta petunjuk apa kira-kira kekurangan yang ada.

"Kami di alam nyata ini masih dengan keterbatasan. Karenanya ada proses nedunang (pemanggilan) atau Ida Betara turun merasup ke raga manusia. Harapan kita agar upacara bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan pelaksanaan untuk kemakmuran masyrakat," pungkasnya.

Setelah pemelastian, pada malam harinya dilakukan upacara di pura puseh yagg disebut dengan istilah 'memiut'. Ini dilalakukan dalam rangka memohon kemakmuran dan rasa syukur atas dikabulkannya upacara mohon hujan.

Nampak dalam proses di pantai Sait sore tadi, sejumlah pemuda yang kerasupan menghunus keris menghujamkan ke raganya. Bahkan teriakan dan tangisnya menambah kesakralan dari upacara ini. (mdk/gil)

Baca juga:

Unik, nelayan di Kuba memancing ikan dengan alat kontrasepsi

Intip gadis seksi Jepang berendam di kolam wine

[Part 1] 9 Fakta unik Jepang, dari yang aneh sampai yang menakjubkan

Hari Kesehatan Nasional, warga Sukoharjo ramai-ramai minum air kendi

Tak berpintu, rumah-rumah di Shani Shingnapur tak pernah kecurian

Dua pria Pakistan congkel mata dan potong kaki kakaknya untuk ritual

Melihat lebih dekat ritual penyembahan Dewa Matahari di India

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami