Nasihat Bijak Buat Sukmawati karena Bandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad

PERISTIWA | 19 November 2019 06:00 Reporter : Syifa Hanifah

Merdeka.com - Pernyataan putri Presiden Pertama RI Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri menuai kontroversi. Ia membandingkan sang ayah, Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW.

Karena dituduh menistakan agama, Sukmawati Soekarnoputri dilaporkan oleh seorang perempuan bernama Ratih ke Polda Metro Jaya, Jumat 15 November 2019. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono membenarkan adanya laporan tersebut.

"Ya benar laporan teregister dengan nomor LP/7393/XI/2019/PMJ Ditreskrimum," kata Argo saat dikonfirmasi, Sabtu (16/11/2019).

Pernyataan Sukmawati yang membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad SAW, menuai kritik dari berbagai kalangan. Sukmawati dinilai harusnya bisa menjaga mulutnya agar tak memicu ketersinggungan umat Islam.

1 dari 4 halaman

Jangan Bikin Gaduh Masyarakat

Pernyataan Sukmawati yang membandingkan sang ayah, Soekarno, dengan Nabi Muhammad SAW menuai kontroversi. Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini mengatakan, ucapan Sukmawati sangat tidak tepat dan keliru besar. Dia menilai, pernyataan itu tidak kontekstual dan tidak mempunyai manfaat.

"Justru hal itu hanya akan menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan di kalangan umat. Terlebih, Bung Karno adalah sosok yang sangat mengagumi kepemimpinan Nabi Muhammad SAW," kata Helmy dalam keterangannya, Senin (18/11).

"Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW justru menjadi inspirasi besar lahirnya kemerdekaan Indonesia. Karena Nabi mengajarkan Islam sebagai agama pembebasan, dari belenggu kelaparan dan kemiskinan," sambungnya.

Oleh karena itu, ia meminta Sukmawati agar berhati-hati dalam berucap dan ia juga meminta untuk bertabayyun terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu atau informasi yang lengkap.

"Atas hal ini kita perlu tabayyun untuk mendapatkan secara utuh apa yang dimaksud Ibu Sukmawati. Sebaiknya sebagai tokoh nasional, Sukmawati dapat berhati-hati untuk mengeluarkan pernyataan agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat," ujarnya.

2 dari 4 halaman

Sukmawati Harus Hati-hati Jaga Lisan

Sementara itu, Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Saadi, mengimbau para tokoh bangsa menjaga lisannya dan menghindari ucapan yang membuat kontraproduktif. Apalagi menyangkut hal agama.

"Tokoh-tokoh masyarakat tokoh-tokoh bangsa agar dalam menyampaikan itu menghindari hal-hal mengandung muatan muatan justru kontraproduktif, muatan muatan itu berkaitan dengan isu agama misalnya," kata Zainut di Istana Wakil Presiden, Senin (18/7).

Kemudian, masyarakat Indonesia juga diimbau untuk hati-hati menempatkan pernyataan Sukmawati. Sebab, masalah tersebut sensitif. "Saya kira ini harus betul betul diminta kepada tokoh-tokoh bangsa ini lebih hati-hati dalam menyampaikan statemennya," sambungnya.

Zainut menilai sah-sah saja bila pernyataan Sukmawati dilaporkan ke polisi. Asal tidak terjadi keributan dalam bernegara.

"Negara kita negara hukum saya kira sah sah saja kalau masyarakat mengadukan hal sebut kepada mekanisme hukum, tapi kita menghimbau supaya tidak terjadi kegaduhan. Tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, tetap menahan diri, silakan proses hukum tetap dilaksanakan," kata Zainut.

3 dari 4 halaman

Sukmawati Jangan Lontarkan Pernyataan Kontroversi

Wakil Presiden Ma'ruf Amin melalui juru bicaranya, Masduki Baidlowi meminta Sukmawati Soekarnoputri tidak melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversi, yang akhirnya menimbulkan polemik di masyarakat.

"Kepada Ibu Sukma saya kira bagaimana agar tidak banyak melakukan ucapan-ucapan yang kontroversial lah, yang banyak menimbulkan soal yang sebenarnya tidak perlu itu," kata juru bicara (jubir) Wapres, Masduki Baidlowi, saat ditemui di kantor MUI, Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/11).

4 dari 4 halaman

Ini Pidato Lengkap Sukmawati

Ini potongan pidato Sukmawati Soekarnoputri dalam acara 'Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Teroris' beberapa waktu yang lalu yang menjadi viral. Sukmawati melontarkan pertanyaan terkait siapa yang berjuang di abad 20.

"Sekarang saya mau tanya yang berjuang di abad 20 itu Nabi Yang Mulia Muhammad apa Insinyur Soekarno untuk kemerdekaan? Saya minta jawaban, silakan, Siapa yang mau menjawab berdiri jawab pertanyaan Ibu ini," tanya Sukmawati.

"Di abad 20 yang berjuang untuk kemerdekaan itu nabi yang mulia Muhammad atau Insinyur Soekarno? Tolong jawab silakan anak-anak muda. Saya mau tahu jawabannya. Ayo jawab enggak ada yang berani? Saya mau yang laki-laki, radikalis banyaknya laki-laki ya. Coba kamu berdiri namanya siapa dari mana," sambung Sukmawati.

Kemudian salah satu mahasiswa yang bernama Muhammad Takim Maulana berdiri untuk menjabat pertanyaan dari Sukmawati.

"Bismillahirahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Muhammad Takim Maulana, mahasiswa dari UIN Syarief Hidayatullah Jakarta. Memang benar pada saat awal ke 20 yang berjuang itu Insinyur Soekarno," kata Takim.

Namun belum selesai berbicara, Sukmawati tampak memotong ucapan mahasiswa tersebut. "Oke, setop. Hanya itu yang Ibu mau tanya, terima kasih," kata Sukmawati.

Sukmawati kemudian meminta mahasiswa lain untuk berdiri dan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.

"Coba siapa lagi yang mau jawab, ini anak-anak muda coba kamu berdiri. Ini adik dari Irian ya, coba berdiri, coba jawab pertanyaan ibu. Di awal abad 20 ibu ulang lagi, siapa yang berjuang untuk kemerdekaan apakah Nabi yang mulia Nabi Muhammad atau insinyur Soekarno?" tanya Sukmawati.

Kemudian ada seorang mahasiswa dari Papua berdiri untuk menjawab, namun mahasiswa tersebut justru menjawab Presiden Soeharto.

"Baik terima kasih atas kesempatannya, kalau menurut saya Pak Soeharto," kata mahasiswa tersebut yang disambut gelak tawa.

Sukmawati yang mendengar pernyataan mahasiswa asal Papua langsung membalas salam merdeka.

"Merdeka sekian terima kasih. Jadi begini saudara-saudara, memangnya kita enggak boleh menghargai, menghormati, orang-orang mulia di awal-awal, pokoknya abad modern? Apakah hanya selalu yang menjadi suri teladan itu hanya Nabi-nabi? Ya, oke, nabi-nabi, tapi pelajari perjalanan sejarah, yang makin ada, ada revolusi industri," tutup Sukmawati. (mdk/dan)

Baca juga:
Wamenag Soal Sukmawati: Tokoh Bangsa Harus Lebih Hati-hati Menyampaikan Pernyataan
Sekjen PBNU: Ucapan Sukmawati Picu Ketersinggungan Kalangan Umat
Digugat Praperadilan Soal SP3 Kasus Sukmawati, Ini Jawaban Polri
Praperadilan Sukmawati atas SP3 kasus penodaan Pancasila Rizieq ditolak pengadilan
Sukmawati mengaku janggal Polda Jabar SP3 kasus Rizieq
Sidang praperadilan, Sukmawati Soekarnoputri disoraki pendukung Rizieq