Nelayan di Deli Serdang Minta Pembuang Bangkai Babi di Sungai Ditindak

PERISTIWA | 16 November 2019 01:02 Reporter : Yan Muhardiansyah

Merdeka.com - Bangkai babi yang dibuang sembarangan kini menyusahkan banyak daerah di Sumut, terutama di hilir sungai. Sejumlah masalah timbul akibat munculnya bangkai-bangkai ini.

Di kawasan Pantai Labu, Deli Serdang, misalnya, puluhan ekor babi sudah ditemukan di sungai dan pantai kecamatan ini.

"Di pantai Desa Bagan Serdang ditemukan 23 bangkai babi," kata Imran, Kepala Desa Bagan Serdang, Pantai Labu, Jumat (15/11).

Selain di Desa Bagan Serdang, ditemukan pula bangkai babi di pantai Desa Rugemuk dan Pantai Putra Deli Desa Denai Kuala. Selain itu, di Desa Durian didapati 15 ekor bangkai babi.

Seluruh bangkai itu telah dikubur atau dibakar warga bersama aparat kecamatan dan BPBD setempat. Prosesnya terpaksa dilakukan secara manual, karena tidak ada alat berat yang diturunkan ke sana.

1 dari 3 halaman

Warga Swadaya Menguburkan Bangkai

"Masyarakat berswadaya menguburkannya mulai Rabu (13/11). Kamis (14/11) kemarin ada 25 ekor dikuburkan. Ada juga yang kami bakar. Sebenarnya kami membutuhkan bantuan alat berat," kata Camat Pantai Labu, Irawadi Harahap.

Dia menduga masih banyak bangkai babi tersangkut di hulu sungai yang masuk wilayah kecamatan lain. "Kami kan di muara, jadi menampung saja. Kalau sudah lolos dari situ langsung ke tempat kami," ucap Irawadi.

Bukan hanya persoalan penguburan, munculnya bangkai babi ini juga berdampak besar bagi perekonomian warga Kecamatan Pantai Labu yang umumnya berprofesi sebagai nelayan. Selain lingkungan dan kesehatan yang terancam, mereka juga merugi karena banyak masyarakat yang jadi takut makan ikan setelah kasus ini menyeruak.

"Kalau untuk sementara ini, yang kasihan ini nelayan. Nggak laku ikannya. Tadi sudah ada yang lapor masyarakat. Intinya masyarakat khawatir dengan bangkai babi ini. Karena masyarakat kami ini nelayan, anjloklah mereka," papar Irawadi.

Dia berharap kecamatan dan daerah lain memberi perhatian lebih pada persoalan ini. Alasannya, bangkai babi itu diduga dibuang dari hulu sungai.

"Semoga ada perhatian lebih. Karena kami ini kan muara. Jadi dari Beringin, bisa juga dari Tanjung Morawa, Namorambe. Jadi Semuanya bermuara ke kami. Karena kami yang paling dekat dengan laut," ucap Irawadi.

2 dari 3 halaman

Harap Pembuang Bangkai Ditindak

Dia pun berharap ada sanksi tegas bagi para pembuang bangkai babi itu. "Kita minta tolong dan kasih sanksi tegas. Jika dibuang ada pidananya," tutup Irawadi.

Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut menduga kuat bangkai-bangkai babi itu terjangkit virus hog cholera yang kemudian sengaja dibuang warga di hulu sungai.

3 dari 3 halaman

5.800 Ekor Babi Mati

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut M Azhar Harahap, mengatakan, babi yang mati akibat hog cholera ditemukan di 11 kabupaten/kota di Sumut, yakni: Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Deli Serdang, Medan, Toba Samosir, Serdang Bedagai, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Samosir.

Babi yang terdata mati akibat hog cholera di Sumut sudah mencapai 5.800 ekor. Jika penyakit ini menyebar lebih luas, virus itu pun berpotensi menginfeksi 1,2 juta ekor babi yang ada di Sumut. (mdk/ray)

Baca juga:
Tak Hanya di Sungai, Bangkai Babi Kini Banyak Dibuang di Pinggir Jalan
Puluhan Babi di Sumut Mati Mendadak, Warga Diminta Jangan Buang ke Sungai
Bangkai Babi Berserakan di Danau Siombak Medan Bikin Penjualan Ikan Menurun
VIDEO: Ribuan Bangkai Babi Ditemukan Mengapung di Sungai dan Danau Sumut
351 Bangkai Babi Cemari Sungai Dikuburkan di Tepi Danau Siombak