Nestapa Bocah di Lhokseumawe Dipaksa Mengemis & Dirantai Orang Tua jika Tak Bawa Uang

PERISTIWA | 21 September 2019 14:14 Reporter : Afif

Merdeka.com - Polsek Banda Sakti Lhokseumawe berhasil membongkar tindak kriminal pasangan suami istri (Pasutri) menganiaya anaknya berinisial MS. Anak laki-laki berusia 9 tahun itu kerap dipukuli hingga dirantai kakinya bila tidak membawa pulang uang hasil mengemis ke pusat kota.

Peristiwa tak bermoral ini sudah berlangsung lama terjadi di jalan Peutuah Rumoh Rayeuk Dusun V Gampong Tumpok Teungoh Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe. Korban diketahui sudah lama putus sekolah dan tinggal bersama ayah tiri dan ibu kandungnya. Setiap hari korban diminta untuk mengemis dan hasilnya diambil untuk pasutri ini.

Hingga akhirnya warga yang merasa prihatin dengan kondisi korban yang kerap dipukuli dan dianiaya, lalu melaporkan ke pihak kepolisian. Berdasarkan laporan itulah personel Polsek Banda Sakti mendatangi rumah tersebut.

Personel kepolisian langsung menangkap Pasutri ini untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Rabu (18/9) lalu. Saat ini Pasutri ini ditahan di Mapolres Kota Lhokseumawe untuk proses hukum selanjutnya.

Pelaku penganiayaan yakni Muhamad Ismail (39) merupakan ayah tiri korban dan istrinya Uli Grafita (38) adalah ibu kandung korban.

"Pelaku ayah tiri korban dan ibu kandung korban," kata Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta, Sabtu (21/9).

Masih menurut keterangan warga, kata Kapolres, MS sering menjadi bulan-bulanan orang tuanya sendiri apabila tidak membawa pulang uang hasil meminta-minta.

"Jika tidak membawa uang hasil mengemis, korban kerap dikurung, dirantai di rumahnya hingga dipukuli," jelasnya.

Uang Dipakai Beli Narkoba dan Judi

Sepulang dari mengemis korban harus menyetor uang Rp100.000/ hari kepada orang tuanya, jumlah itu sesuai dengan target yang telah ditetapkan oleh tersangka.

"Bila korban tidak membawa uang seperti yang telah ditetapkan itu, maka dia kembali mendapatkan kekerasan dari orang tuanya," ungkapnya.

Menurut pengakuan dari kedua pelaku, uang yang disetor anaknya itu sebagian digunakan oleh ibu kandungnya untuk membeli narkoba, dan sebagian lagi digunakan bapak tirinya untuk bermain judi.

Kedua pelaku dikenakan ancaman berlapis, yaitu Pasal 88 juncto Pasal 76 huru I, Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014, tentang Perlindungan Anak. Pelaku juga dijerat pasal 44 junto pasal 45 Undang-Undang RI tahun 2004 tentang PKDRT, junto Pasal 65 KDRT.

"Karena korban juga mendapatkan kekerasan fisik dan psikis yang dilakukan secara berulang kali, pelaku diancam dengan kurungan 10 tahun atau denda paling banyak Rp200 juta," tutupnya.

Baca juga:
LPSK Minta Saksi Berani Bicara Terkait Kematian Capaska Aurel
Buron Kasus Penganiayaan Bocah di Samarinda Ditangkap di Semarang
Usut Pornografi Anak, Polda Metro Tunggu Informasi dari Pihak Facebook
KPAI Dorong Pemkot Tangerang Bentuk Tim Investigasi Tewasnya Capaska
KPAI Ungkap Kekerasan Fisik yang Dialami Paskibra Aurel Sebelum Meninggal
Kasus Pelecehan Seksual Pada Anak Banyak Berawal dari Media Sosial

(mdk/bal)