Nestapa di Karawang, Satu Keluarga Huni Kandang Ayam, Tak Pernah Dibantu Pemerintah

PERISTIWA | 10 September 2019 10:13 Reporter : Bram Salam

Merdeka.com - Kemiskinan membuat orang tinggal dimana saja untuk bisa bersama keluarga, seperti keluarga Abas Basari (48) warga Desa Gempol, Kecamatan Banyusari, Karawang, harus tinggal di gubuk layaknya kandang ayam supaya tidak tidur di jalanan.

Bersama sang istri bernama Yoyoh (28), dia tidur di dalam sebuah gubuk bambu layaknya kandang ayam yang ukurannya cuma 3X2 meter di atas tanah negara milik PJT II, mereka juga memiliki 3 orang anak. Si sulung Tita Solihah (6) di, adiknya Hamdan sakuron (4) dan si bungsu masih balita Ahmad Rifai (1,5).

Abas Basari, Pria yang sehari-hari mencari rezeki dengan mengayuh becak ini harus berjuang keras untuk keluarganya, untuk bisa membawa makanan atau uang buat menghidupi istri dan tiga anaknya supaya bisa makan.

"Sehari-hari mengayuh becak di pasar, penghasilan tidak menentu," kata Abas, Selasa (10/9) saat ditemui di tempat tinggalnya.

Abas menceritakan, penghasilannya sebagai tukang becak sangat memprihatinkan. Bahkan kadang, Dia pulang tanpa membawa uang sepeserpun maka tak bisa makan dan hanya makanan sisa buat anak-anaknya.

"Kalau tidak membawa uang untuk beli makanan anak-anak tidak makan," terangnya.

©2019 Merdeka.com

Karena kesulitan ekonomi inilah, Abas Basari dan keluarga tak sanggup membangun rumah layak huni. Atau pun menyewa rumah. Karena tak ada tempat tinggal, dia pun meminta ijin pada pengelola tanah negara untuk bisa tinggal dibantaran akses jalan Gembongan untuk tinggal di tanah milik negara dengan membangun sebuah gubuk yang terbuat dari bambu sekelilingnya seperti pagar.

"Baru tinggal tiga bulan, setelah mendapat izin baru membangun," katanya.

Abas dalam membangun gubuk menggunakan bambu-bambu bekas kandang ayam sebagai rumahnya. Dinding terbuat dari sarigsig bambu sekelilingnya tanpa ada kamar.

Kalau malam tiba, Abas dan istri tidur berdempetan dengan ketiga anak mereka di dalam satu ruangan terbuat dari kayu bekas, di gubuk dengan alas kain usang yang kerap dipakai main buat tiga anak-anaknya pada siang hari. Bukan itu saja, mereka pun harus rebahan di tempat yang sama dikala ngantuk. Selembar kain lusuh saja yang melindungi tubuh mereka dari dinginnya tanah dan udara malam. Meskipun begitu, Abas bersama keluarga tak protes dan hanya menerima keadaannya.

"Harus bagaimana lagi, karena faktor ekonomi terpaksa tinggal di tempat seperti layaknya kandang ayam," kata Yoyoh menimpali.

Dari pantauan, gubuk terbuat dari kayu tanpa dinding, tampak helaian kain sebagai penutup untuk mengurangi rasa dingin, perabotan yang ada hanya alat masak dan piring, sendok. Tanpa ada penerangan listrik, memasak juga masih mengandalkan kayu bakar sisa-sisa potongan di luar gubuk.

Satu keluarga ini mengaku tidak pernah tersentuh program pemerintah untuk masyarakat miskin baik dari pemerintah pusat maupun daerah.

"Tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah," lirih Abas. (mdk/rhm)

Baca juga:
Potret Kemiskinan di RI, Ada Warga Tinggal di Gubuk Reot Hingga Kandang Kambing
Ibu Hamil di Lebak Ditandu Akibat Jalan Rusak, Begini Jawaban Bupati
Cerita Miris 2 Lansia di Karawang, Tinggal di Kandang Kambing dan Sering Kelaparan
Puan Pastikan Kenaikan Iuran BPJS Tak Berdampak Pada Peningkatan Angka Kemiskinan
Viral Ibu Hamil Ditandu di Lebak, Perbaikan Jalan Terkendala Pembebasan Lahan
Gara-Gara Jalan Rusak, Perempuan Hamil di Lebak Terpaksa Ditandu ke Puskesmas

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.