Nestapa Dokter di Daerah, Minim APD dan Masker Tangani Corona

Nestapa Dokter di Daerah, Minim APD dan Masker Tangani Corona
PERISTIWA | 31 Maret 2020 09:16 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Sejak wabah Covid-19 merebak ke Indonesia beberapa produk kesehatan diburu masyarakat. Tak terkecuali kebutuhan masker yang vital bagi para tenaga kesehatan.

Seorang dokter di salah satu rumah sakit daerah mengeluhkan sulitnya rumah sakit menyediakan masker dan alat perlindungan diri tenaga kesehatan. Dokter yang tak mau identitasnya diungkap itu menceritakan bahwa saat ini persediaan masker di rumah sakit begitu terbatas.

"Sekelas rumah sakit yang biasanya sudah pesan dari distributor besar, gak dapat gitu loh," kata dokter itu kala dihubungi, Senin (30/3).

Dokter anestesi itu mengungkapkan, barang-barang seperti masker begitu diperlukan dalam ruangan operasi. Biasanya para tenaga kesehatan bisa dengan leluasa mengambil masker untuk dipergunakan dalam ruang operasi, namun saat ini dia mengaku pihak rumah sakit hanya menyediakan 10 buah masker setiap ruang operasi perharinya.

"Jadinya dibatasinya satu ruangan operasi itu hanya untuk 10 masker. Belum ganti perawat, dokternya, yang lain. Kalau break makan ini gimana? Kan mesti diganti. Gak masuk akal," ungkapnya.

Terlebih lagi, menurutnya sudah ada imbauan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) karena merebaknya wabah Covid-19 meminta setiap dokter yang memeriksa pasien harus menggunakan masker.

"Untuk kita aja yang kerja di dalam (ruang operasi) susah," tegasnya.

Dokter itu mengungkapkan, biasanya setiap hari satu ruangan operasi bisa banyak melayani pasien Covid 19. Namun sejak kekurangan alat medis, setiap harinya hanya melayani beberapa saja.

"Akhirnya kita minta bagi operasi yang bisa ditunda ya ditunda dulu, kecuali operasi melahirkan ya kan itu sudah jauh-jauh hari, gak bisa ditunda juga," tukasnya.

1 dari 1 halaman

Pemerintah Diminta Genjot Produksi Masker

Dokter itu mengusulkan supaya pihak pemerintah mendatangi pabrik masker untuk menggenjot produksinya. Mengingat saat ini begitu dibutuhkan.

"Kenapa sih gak pemerintah datangi aja pabrik, gimana caranya. Kenapa gak bisa sih, datangi saja pabriknya. Pabriknya kan bayak, nanti (minta) produksi aja yang banyak pemerintah yang beli," usulnya.

Dalam situasi seperti ini, kata dokter itu pemerintah mestinya mengkoordinasi penyebaran masker ke seluruh Indonesia dan memprioritaskan rumah sakit terlebih dahulu.

"Kami kasih lah perlindungan. Kaya kasus yang banyak itu, kaya Covid-19 ya banyak dokter (kena) sejujurnya karena kami pun yang menolong pasien dari awal itu gak mendapat perlindungan maksimal. Harus gimana? Gak ditolong gimana, ditolong kita mati konyol," tegas dokter.

Selain kekurangan masker, dokter juga mengaku begitu kesulitan mendapatkan alat perlindungan diri atau APD. Baju APD yang begitu utama digunakan untuk memeriksa pasien Covid-19 persediaannya begitu terbatas.

Dia pun mengusulkan supaya pemerintah memberdayakan anak-anak panti untuk menjahit APD.

"Gak bisa apa ngumpulin 100 tukang jahit produksi itu (APD). Gimana apa kaya konveksi itu di Bandung, pusatkan aja di Bandung," katanya.

Ia juga mengusulkan supaya pemerintah semestinya mengubah pabrik konveksi untuk memproduksi APD. Dan hasilnya bisa dibeli oleh pemerintah guna didistribusikan ke seluruh rumah sakit di Indonesia.

"Ya saya rasa mereka (pabrik) mau lah. Kemarinkan nunggu barang dari China ternyata barang Indonesia juga, pengen marah rasanya tapi marah sama siapa?" ia menandaskan.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com (mdk/fik)

Baca juga:
KNPI Jaksel Salurkan Bantuan ke RSUD Pasar Minggu
Pemerintah Optimis Kerjasama Seluruh Komponen Bangsa Mampu Melawan Virus Corona
Karantina 125 KK, Pemkot Kediri Jamin Ketersediaan Pangan dan Kesehatan
600 Alat Rapid Test Covid-19 di Tangsel Diprioritaskan untuk ODP, PDP & Tenaga Medis
Atasi Covid-19, Pemerintah Minta Warga Sukarela Pinjamkan Rumah jadi Tempat Isolasi
Lima Biarawati asal Indonesia di Italia Positif Corona

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami