Nestapa warga Ahmadiyah di Lombok, diusir dari rumah sendiri
PERISTIWA | 21 Mei 2018 20:01 Reporter : Hari Ariyanti

Merdeka.com - Peristiwa intoleransi terhadap jemaat Ahmadiyah di Pulau Lombok kembali terjadi. Kali ini menimpa warga di Desa Greneng, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Seperti cerita lama, mereka diusir dari rumah mereka sendiri.

Sebelumnya peristiwa serupa pernah terjadi di Kabupaten Lombok Barat. Puluhan warga Ahmadiyah mengungsi di tempat penampungan Transito, Kota Mataram sampai saat ini.

Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Komnas perempuan, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/5), korban menceritakan kronologi pengusiran yang disertai perusakan rumah tersebut.

Melalui video suara yang diputarkan di hadapan wartawan, salah seorang korban perempuan (19) yang enggan disebutkan namanya mengatakan peristiwa pengusiran terjadi pada Sabtu, 19 Mei 2018 sekitar pukul 11.30. Saat itu tiga rumah yang ditempati tiga KK rusak. Karena ketakutan rumahnya diserang, warga Ahmadiyah yang terdiri dari dua laki-laki, empat perempuan, satu orang ibu hamil dan 10 anak-anak melarikan diri melewati sungai dan kebun.

"Sampai kebun langsung diambil aparat keamanan," kata dia.

Korban mengatakan sekitar pukul 12.00, massa menuju satu unit rumah di Dusun Greneng dan diduga dilakukan penyerangan tiba-tiba. Rumah ini dihuni satu KK.

Pengusiran dan perusakan rumah kembali dilakukan pada Minggu (20/5) sekitar pukul 06.00 pagi. Ada dua rumah yang diduga dirusak di Dusun Greneng. Ia menyebut para korban berlarian dan para perempuan histeris. Para korban sempat bersembunyi di sebuah rumah sebelum diamankan aparat kepolisian dan dibawa ke Mapolres Lombok Timur di Selong.

"Banyak juga anak-anak histeris dan trauma. Ibu-ibunya hampir pingsan. Anak-anak juga histeris dan melihat orang banyak nangis enggak bisa tenang," ceritanya.

Korban lainnya, seorang laki-laki (33) mengatakan sebelum penyerangan terjadi, pada tanggal 9 Mei warga Ahmadiyah mendapat panggilan pertemuan dari kantor desa. Pada tanggal 11 Mei terjadi pertemuan yang dihadiri Camat Sakra Timur, pihak Polsek setempat, Kodim, Babinsa, dan tokoh masyarakat. Dalam pertemuan itu, warga Ahmadiyah diminta bertobat dan kembali ke ajaran Islam.

"Pak camat bilang kalau enggak mau tobat akan diserahkan ke massa. Semua masyarakar sudah ingin main hakim sendiri. Polsek bilang suruh bertobat kembali ke syahadat yang benar. Akhirnya terjadi keributan sesama masyarakat," ceritanya.

Warga Ahmadiyah kemudian diamankan di Polsek dan kemudian dibawa ke Polres Lombok Timur. Warga Ahmadiyah di Polres kembali didatangi pihak-pihak terkait dan diminta bertobat. Jika tak mau bertobat, dilarang kembali ke rumah masing-masing.

"Setelah itu kades bilang dan kapolsek kamu jangan pulang nanti kalau pulang kamu akan dibunuh dan rumahnya akan dirusak," kata dia.

Pada tanggal 13 Mei ada kabar warga Ahmadiyah yang diamankan di Polres kembali ke rumahnya. Masyarakat setempat, kata dia, bergerak mengambil batu dan senjata. Tapi ternyata tak ada warga Ahmadiyah yang kembali ke rumahnya dan mereka memilih mengungsi.

Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Yendra Budiana menyampaikan pelaku yang diduga terlibat dalam pengusiran dan perusakan rumah ini adalah korban provokasi kebencian dan kekerasan atau intoleransi. Menurutnya ada aktor besar di belakang perisitiwa ini.

"Kita punya pengalaman dari tahun 2005 sampai sekarang bahwa pelakunya bagian dari korban. Mereka korban provokasi paham kebencian dan kekerasan. Media dan pemerintah dan pihak keamanan tidak hanya melihat para pelaku di lapangan. Ada aktor-aktor besar di belakangnya. Isu agama adalah isu sangat seksi yang bisa dijadikan komoditas," jelasnya.

Ada informasi yang menyebutkan kejadian ini dipicu perkelahian anak-anak. Ia mengklaim telah mengecek informasi itu tapi tak ada perkelahian.

"Dirumorkan perkelahian tapi kita cek tak ada. Masa aksi perkelahian kecil jadi aksi besar? Itu aneh," kata Yendra.

Dikonfirmasi terpisah, Pjs Bupati Lombok Timur, Ahsanul Khalik menyampaikan persoalan ini dipicu masalah sepele. Ia menceritakan ada warga Desa Greneng yang ikut belajar ngaji di salah satu jemaat Ahmadiyah dan berkelahi dengan temannya yang merupakan anak jemaat Ahmadiyah.

"JS, pimpinan Ahmadiyah ini ngajar anak-anak mengaji," ujarnya kepada merdeka.com, Senin (21/5).

Anak warga yang bukan jemaat Ahmadiyah ini kemudian mengadu ke orang tuanya. Warga kemudian marah karena mengetahui ada anak yang mengaji di tempat JS. Hal ini memprovokasi warga lain dan mendatangi rumah JS.

Satu rumah warga Ahmadiyah lainnya di sekitar rumah JS terkena imbas penyerangan. Masyarakat yang telah terprovokasi ini kemudian bergerak sendiri ke rumah lain sehingga menyebabkan enam unit rumah rusak.

Baca juga:
Pemprov NTB dan Pemkab Lombok Timur diminta tiru Wonosobo tangani kasus Ahmadiyah
Jemaat Ahmadiyah Indonesia minta pelaku penyerangan di Lombok Timur diproses hukum
Komnas Perempuan sikapi aksi penyerangan jemaah Ahmadiyah
Polisi sebut penyerang jemaah Ahmadiyah di Lombok sekitar 50 orang
Mendagri belum bisa jelaskan tragedi penyerangan Ahmadiyah NTB
Pemkab Lombok Timur minta warga Ahmadiyah tak melakukan aktivitas keagamaan

(mdk/rhm)