Olah Ampas Teh Jadi Pupuk Cair, Mahasiswa UNS Raih Penghargaan di Sri Lanka

PERISTIWA » MALANG | 15 Oktober 2019 12:20 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Tiga mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo menyabet medali emas dan penghargaan khusus dalam ajang The 2nd World Invention and Technology Expo (WINTEX) di Sri Lanka, Sabtu pekan lalu. Mereka berhasil memanfaatkan ampas teh, limbah sayur pasar dan kotoran ternak sebagai pupuk organik cair di area pertanian Desa Kemuning, Kabupaten Karanganyar.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Ruby Agil Hasan dari D3 Agribisnis Agrofarmaka 2017, Muhammad Taufiek Heryansyah dari D3 Agribisnis Hortikultura 2018 dan Panji Karuniatama Putra dari D3 Agribisnis Hortikultura 2018.

"Keberadaan limbah ampas teh yang melimpah di Desa Kemuning sebagai penghasil teh terbanyak di Karanganyar adalah hal yang melatarbelakangi inovasi yang kami lakukan," ujar Taufiek, Selasa (15/10).

Selain itu, dikatakannya, mata pencaharian penduduk sekitar juga peternak hewan seperti kambing dan sapi dengan limbah kotoran ternak. Tidak kalah potensialnya, terdapat pasar tradisional Kemuning di mana banyak sisa sayuran yang terbuang percuma atau busuk dan menjadi limbah.

Menurut dia, tahapan persiapan diawali dengan pendaftaran produk ke WINTEX untuk dikurasi dan dinyatakan lolos. Kemudian pada tahapan pembuatan produk, tim ini berhasil setelah dua kali percobaan. Di percobaan pertama pembuatan pupuk sempat gagal karena wadah berupa botol air mineral yang digunakan terlalu sempit.

"Karena sempit dan kecil, botol itu mengeras dan penuh dengan gas. Semua pupuknya tumpah. Akhirnya kami gunakan bahan dan alat yang lebih banyak di percobaan kedua. Botolnya juga lebih besar. Setelah Seminggu, produknya berhasil dan kami kemas dalam botol putih dengan daya tampung 500 ml," imbuh Taufiek.

Ia menjelaskan, hasil produk bersama kawannya tersebut diberi nama "Tealof Wilavette (Tea Waste As Liquid Organic Fertilizer With Livestock Manure and Vegetable Market Waste)".

"Kami berharap produk ini dapat dipasarkan. Tetapi kami akan mengkaji lebih dalam lagi mengenai harga produk agar dapat dijangkau oleh petani-petani kecil maupun strategi pemasarannya agar dapat bersaing dengan produk sejenisnya di pasaran," katanya.

Pihaknya juga berharap produk tersebut mendapatkan paten dari UNS. Selama kompetisi berlangsung, Taufiek mengaku mendapat bimbingan dan dukungan penuh dari Kunto Adi, selaku Kepala Prodi D3 Agribisnis juga Admin Prodi dan Sekolah Vokasi UNS.

Taufiek menambahkan, sebagai informasi WINTEX merupakan kompetisi pameran produk kelas internasional yang diselenggarakan oleh Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA). Para peserta harus bersaing dengan peserta dari berbagai negara di dunia dan kampus-kampus negeri maupun swasta di Indonesia.

Baca juga:
Sempat Pulang Kampung, 10 Mahasiswa Papua Kembali ke Kampus di Pulau Jawa
Jadi Wisudawati Terbaik, Anak Buruh di Jember Sempat Ingin Putus Sekolah
Kisah Inspiratif, Anak Buruh Tani Jadi Wisudawan Terbaik Universitas Jember
VIDEO: Gagah Soeryo, Mahasiswa Semester V Jadi Anggota DPRD Termuda Kota Malang
Mahasiswa Semester V UB Terpilih Jadi Anggota DPRD Kota Malang
Mahasiswa UMP Manfaatkan Lendir Bekicot Jadi Pasta Gigi

(mdk/cob)