Orang Tua Aldama Ungkap Perilaku Biadab Taruna Senior ATKP Makassar

PERISTIWA » MAKASSAR | 11 Februari 2019 03:31 Reporter : Salviah Ika Padmasari

Merdeka.com - Pelda Daniel Pongkala (43) berharap, taruna senior Akademi Teknik Dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar, Muhammad Rusdi (21) yang kini jadi tersangka tidak bungkam dan membeberkan siapa saja pelaku tindak kekerasan lainnya yang menjadi penyebab kematian putranya, Aldama Putra Pongkala.

"Harusnya tersangka ini (Muhammad Rusdi) buka mulut saja. Dari pada diskorsing sendiri dari sekolah, dipenjara juga. Ungkap saja teman-temanmu, jangan mau dikambinghitamkan sementara yang lain masih enak-enak belajar. Kamu malah sudah diskorsing dan di dalam penjara sekarang," kata Daniel saat ditemui di kediamannya di kompleks perumahan AURI, Makassar, Minggu, (10/2).

Dia menjelaskan, anak tunggalnya Aldama (19) taruna tingkat I ATKP Makassar meninggal dunia, Minggu malam, (3/2). Keterangan dari salah satu Pembantu Direktur (Pudir) ATKP Makassar yang bernama Irfan bahwa putranya meninggal dunia karena terjatuh di kamar mandi.

Tapi dari luka yang ditemukan mencurigakan seperti bukan karena terjatuh di kamar mandi sehingga kejadian tersebut dilaporkan ke polisi. Hasilnya, diduga karena adanya tindak penganiayaan oleh taruna senior. Dan polisi telah menetapkan Muhammad Rusdi (21), taruna senior tingkat 2 ATKP Makassar sebagai tersangka.

Meski demikian, Daniel tidak yakin kalau pelakunya hanya satu orang. "Bukan hanya taruna-taruna senior kerap melakukan kekerasan yang menurut saya sudah biadab diterapkan di institusi pendidikan itu karena dari cerita-cerita orang tua taruna dan taruni lain bahwa salah seorang Pudir (pembantu direktur)nya pun kerap melakukan kekerasan. Pudir ini marah dan menghukum taruna atau taruni jika ketahuan telah mengadu ke orang tuanya manakala sudah dipukul di dalam kampus," kata Daniel.

Muhammad Rusdy, Penganiaya Taruna ATKP Makassar ©2019 Merdeka.com

Antara lain bentuk hukuman yang kerap dialami taruna dan taruni ATKP Makassar, kata Daniel, seperti dipaksa makan sabun, obat nyamuk autan dijadikan masker wajah, cemilan coklat yang sudah dilumat taruna-taruna lain hingga jadi bubur harus diminum oleh taruna yang dianggap melanggar. Jika menolak, penggantinya adalah pukulan. Dan tidak sedikit taruna atau taruni lebam-lebam tubuhnya karena pukulan.

Belakangan juga terungkap kalau, waktu istirahat mulai pukul 22.00 wita itu bagi taruna dan taruni yunior sebenarnya tidak bisa dimanfaatkan sebaik mungkin karena mereka harus mengabdi ke senior. Antara lain menyetrika seragam, mengepel, bersihkan kamar mandi bahkan disuruh memijat. Tak ayal, taruna dan taruni yunior kekurangan waktu istirahat, tidak ada waktu mengulang pelajaran. Dan saat masuk waktu belajar, di saat itulah justru mereka kebanyakan kerap ditemukan tertidur di dalam kelas.

Daniel mengaku sangat menyayangkan pola pendidikan seperti itu ada di sekolah. Dan sangat miris membayangkan hal seperti itu dialami putranya yang kini telah meninggal dunia, diduga karena kekerasan seniornya.

"Memang kuat doktrin tutup mulut ke taruna di sekolah itu. Mereka yang ketahuan orang tuanya ada luka atau semacamnya, pasti tutup mulut dan mengalihkan pembicaraan saat ditanya-tanya. Akhirnya baru terungkap semua kalau ada kasus seperti kasus anak saya," tutur Daniel.

Baca juga:
Taruna Tewas Dianiaya Senior, Menhub Nonaktifkan Direktur ATKP Makassar
Keluarga Curiga Penganiaya Taruna ATKP Makassar Lebih dari Satu Orang
Siswa Dianiaya Senior, ATKP Makassar Serahkan Penyelesaian ke Jalur Hukum
Kemenhub Bentuk Tim Investigasi Terkait Penganiayaan Taruna ARKP Makassar
Polisi Tetapkan Satu Tersangka Penganiayaan Taruna ATKP Makassar
Nestapa Ayah Taruna ATKP Makassar Dikabari Anak Jatuh Ternyata Tewas Dianiaya

(mdk/bal)