PA 212 Sebut Penangkapan Bukhori Muslim Politis, Akan Ajukan Penangguhan Penahanan

PERISTIWA | 5 April 2019 21:05 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Persaudaraan Alumni (PA) 212 menyebut penangkapan dan penahanan Ustaz Bukhori Muslim terkait kasus dugaan penipuan pengurusan visa haji bernuansa politis. Ustaz Bukhori diamankan anggota Polda Metro Jaya di kediamannya Perum Taman Permata Cikunir, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (4/4) subuh.

"Tampaknya ada kaitan masalah politik dengan statusnya sebagai Caleg salah satu Parpol, sekaligus sebagai Aktivis 212," kata Ketua Umum DPP PA 212 Slamet Ma'arif dalam keterangan tertulisnya, Jumat (5/4).

PA 212 menilai kasus dugaan penggelapan dana umroh jemaah Bukhori Muslim janggal. Sebab, menurut PA 212 kasus yang menjerat Bukhori Muslim bukan kasus pidana.

"Perkara UBM adalah kasus pribadi terkait perselisihan bisnis travel & utang piutang, itu pun kasus lama. Seharusnya masuk kasus perdata, tetapi entah kenapa dapat beralih menjadikannya kasus pidana, lalu langsung digrebek dan ditahan, tanpa proses pemanggilan dan pemeriksaan sebagaimana mestinya," kata Slamet.

PA 212 menyatakan akan mengawal kasus Bukhori Muslim. Bahkan, PA 212 akan memberikan bantuan hukum kepada Bukhori Muslim.

"Selanjutnya kami melalui para pengacara terhadap penahanan yang bersangkutan akan mengambil langkah hukum di antaranya sesegera mungkin akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan," tukasnya.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya menahan Ustaz Bukhori Muslim atas dugaan penipuan terhadap jemaah calon haji. Kabar tersebut disampaikan pengacara Kapitra Ampera saat mendatangi Mapolda Metro Jaya, Kamis (4/4).

Kapitra mengaku diminta untuk menjadi pengacara Ustaz Bukhori. Kapitra menuturkan, ustaz Bukhori meneleponnya dua kali. Bukhori mengabarkan bahwa dirinya ditangkap dan ditahan di Polda Metro Jaya.

"Kasusnya dugaanya kasus penipuan penggelapan lah," kata Kapitra di Mapolda Metro Jaya, Kamis (4/4).

"Saya memastikan karena keluarga sudah menghubungi saya, saya memastikan kalau memang dia ditahan di situ, dia lagi diperiksa," sambung Kapitra.

Caleg PDIP mengatakan, kasus ini mencuat setelah ada calon jemaah umroh yang batal berangkat.

"Jadi menurut beliau ini kejadiannya sudah bulan April tahun lalu dilaporkan karena ini ada jemaah yang mau haji tapi nggak jadi berangkat," kata Kapitra.

Korban melaporkan ustaz Bukhori ke Polda Metro Jaya atas dugaan penipuan perjalanan haji. Korban disebut-sebut mengalami kerugian mencapai USD 135.000. Kapitra menyebutkan, Bukhori baru mengembalikan USD 30.000.

"Ya itu dia enggak dijelasin untuk apa (uang USD 135.000). Kalau enggak salah untuk haji ya karena ada paspornya juga ya. Mungkin untuk diberangkatkan haji dia yang ngurus," ujar Kapitra.

Kapitra tidak bisa menerima tawaran mendampingi Bukhori. Alasannya karena saat ini dia masih sibuk sebagai calon anggota legislatif.

"Ya mungkin nanti kalau lanjut ya, tapi saya belum bisa dampingi karena saya nyaleg," ucapnya.

Bukhori diamankan di kediamannya Perum Taman Permata Cikunir, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (4/4) subuh.

"Penangkapan ini atas laporan seorang korban berinisial MJ dengan nomor LP/ 3368 /VI/2018/PMJ/Ditreskrimum, tanggal 28 Juni 2018," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono dalam keterangan tertulisnya diterima merdeka.com, Kamis (4/4).

Argo menceritakan, awalnya pelapor dan terlapor bertemu di salah satu tempat pengajian. Kemudian pelapor bercerita kepada terlapor ingin mengurus visa haji untuk jemaah namun karena kuota hajinya telah habis.

"Kemudian terlapor menawarkan bahwa dapat membantu untuk mengurus visa haji furodah untuk haji. Kemudian pelapor percaya bahwa terlapor dapat mengurus visa haji furodah dikarenakan terlapor seorang ulama dan sering ceramah di berbagai tempat," ujarnya.

Argo melanjutkan, pelapor dan terlapor kemudian bertemu di depan kantor kedutaan untuk menyerahkan paspor dan uang sejumlah USD 136.500 beserta 27 buah paspor untuk diurus visa furodahnya, dan penyerahan tersebut terjadi di dalam mobil milik terlapor. Namun, penyerahan itu tak ada tanda terima saat itu.

"Dan saat itu pelapor meminta kepada terlapor bahwa visa tersebut harus jadi selama 3 hari, dan terlapor menyanggupinya," katanya.

Setelah tiga hari, terlapor tidak ada kabar. Kemudian pelapor meminta tolong kepada seorang saksi untuk menghubungi pelapor dan bertemu di rumahnya.

"Dan saat itu dibuat surat pernyataan dan kwitansi penerimaan uang dan 27 buah paspor tersebut yang isinya bahwa terlapor sudah menerima uang sebesar USD 136.500 dan paspor sebanyak 27 buah untuk diurus visa haji furodah. Tapi sampai hingga membuat laporan polisi karena untuk visa haji furodah tidak pernah diurus oleh terlapor, dan terlapor tidak mengakui bahwa menerima uang sebesar USD 136.500, karena menurut terlapor saat itu pelapor hanya menyerahkan paspor sebanyak 27 buah," bebernya.

Polisi akhirnya mengamankan pelaku setelah mendapat laporan korban. Hingga kini, polisi masih memeriksa pelaku yang diduga melakukan penipuan tersebut.

"Kita amankan satu buah surat pernyataan dan kwitansi," pungkas Argo. (mdk/gil)

Baca juga:
Kronologi Ustaz Bukhori Muslim Ditangkap Usai Diduga Gelapkan Dana Jemaah Haji
Diduga Gelapkan Dana Jemaah Haji, Ustaz Bukhori Ditahan PolisiSelalu Mangkir, Mantan Wagub Bali I Ketut Sudikerta Resmi Ditahan Polisi
Partai Golkar Tawarkan Bantuan Hukum untuk Sudikerta
Polisi Sita Aset dan Uang Rp 5 Miliar terkait Kasus Penipuan Eks Wagub Bali

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.