Padepokan silat Cimande ternyata didirikan Soeharto
PERISTIWA | 25 Agustus 2013 07:59 Reporter : Muhammad Sholeh

Merdeka.com - Dari daerah Jawa Barat, ada aliran pencak silat tertua dan hingga kini masih cukup dikenal yakni silat Cimande yang terletak di Kabupaten Bogor. Konon, keberadaan aliran ini telah melahirkan banyak perguruan silat di Indonesia.

Kepada merdeka.com, sesepuh Kampung Cimande Tarikolot, Raden Haji Ujang Aden menceritakan perkembangan pencak silat aliran Cimande yang hingga saat ini masih terus dilestarikan dan terjaga. Setiap hari Minggu, puluhan murid-murid berlatih di Padepokan Cimande yang berukuran kira-kira 10 x 30 meter.

Padepokan Cimande ini terdiri dari dua bangunan. Satu bagian seperti aula besar bergaya kuno dan terbuka. Sedangkan bagian satunya merupakan ruang untuk pengurus.

"Setiap Minggu di aula sini ada latihan. Murid yang datang banyak lah, dari mana-mana," ujar Haji Ujang saat berbincang dengan merdeka.com, Jakarta, Minggu (25/8).

Menurut Haji Ujang, dulunya setiap rumah warga di Kampung Cimande, memiliki kegiatan pencak silat diajarkan masing-masing. Aliran pencak silat peninggalan Abah Khaer ini tidak meninggalkan catatan tertulis, tidak berada dalam tatanan terpadu seperti organisasi dan oral tradisi yang tidak sistematis.

"Hanya diajarkan turun temurun, dari leluhur kita," katanya.

Namun demikian, pencak silat aliran Cimande sudah menyebar ke daerah-daerah di seluruh Indonesia dengan beragam nama perguruan-perguruan pencak silat. Bahkan, hingga mendunia ke negara-negara luar.

"Kalau bulan Maulid, semuanya kumpul di aula ini. Puncaknya tanggal 10-14 Maulid. Banyak dari luar kota dan luar negeri yang ke sini, nginap, tirakatan, latihan," jelas Haji Ujang.

Padepokan Cimande didirikan pada tahun 1997. Padepokan ini bertujuan untuk menguatkan tali persaudaraan dan persatuan pencak silat aliran Cimande, sehingga lebih terorganisir.

"Padepokan ini didirikan oleh Pak Harto," katanya.

Adapun untuk menjadi murid pencak silat aliran Cimande diharuskan memiliki niat yang bersih. Pencak silat tidak untuk dipamerkan atau disombong-sombongkan.

"Syarat menjadi murid ya baiat syahadat. Menjalankan ajaran agama Islam. Bagi pemeluk agama lain ya harus taat sesuai ajarannya masing-masing. Cimande bukan aliran pencak silat yang fanatik," jelasnya.

Selain itu, saat bulan Maulid, murid-murid pencak silat aliran Cimande juga ziarah ke makam leluhur Kampung Cimande. Letaknya 300 meter dari aula Padepokan Cimande.

Makam keramat leluhur Kampung Cimande ini berada di sebelah selatan Padepokan. Untuk menuju ke makam ini, sudah dibuat jalan berundak-undak naik dan telah dimester/plester.

Saat merdeka.com berziarah ke makam leluhur Kampung Cimande, amat terasa getaran-getaran atau aura dari makam tersebut. Suasananya sunyi di tengah sawah, di bawah pohon beringin yang rimbun. Entah berapa ratus tahun umurnya.

"Di sana ada makam Abah Rangga. Rangga Wulung dan Rangga Gading. Keduanya leluhur Kampung Cimande dan teman Abah Khaer. Mereka orang alim dan dekat dengan Yang Maha Kuasa," terang Haji Ujang.

Lebih jauh Haji Ujang menceritakan, jika berziarah ke makam harus lah memiliki niat yang baik karena Allah.

"Kemarin ada yang ziarah ada yang pingsan. Ya karena tidak permisi dulu sama ahli waris kampung sini. Kemudian dulu waktu bule luar negeri mencoba memfoto makam berubah menjadi bedug. Dan banyak cerita mistis lainnya," katanya.

(mdk/lia)

TOPIK TERKAIT