Pakai Metode Sendiri, Sejumlah Warga di Jember Lebaran Hari Ini

Pakai Metode Sendiri, Sejumlah Warga di Jember Lebaran Hari Ini
PERISTIWA | 23 Mei 2020 11:25 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Umat Islam di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur, sudah menyelenggarakan salat Idul Fitri, Sabtu (23/5). Mereka adalah santri dan warga sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Duror yang ada di desa tersebut.

Terdapat tiga masjid di desa tersebut yang menyelenggarakan salat Idul Fitri pada Sabtu pagi. Ketiganya masih terafiliasi dengan pesantren.

"Masjid satu diimami oleh saya sendiri, khusus untuk jemaah putri. Kemudian masjid satunya lagi untuk jemaah putra, imam salatnya adalah Kiai Abdurrohman, yang juga kakak saya. Kemudian masjid ketiga yang terdiri dari jemaah putra-putri dipimpin oleh KH Abdul Malik yang juga paman saya," ujar KH Ali Wafa, pengasuh Pondok Pesantren Mahfilud Duror saat berbincang dengan merdeka.com, usai salat Id.

Jarak antara masjid yang khusus menampung jemaah putra dan putri hanya sekitar 20 meter saja. Jumlah jemaah mencapai sekitar 1.000 orang.

"Ya perkiraannya, kalau saya adakan pengajian, konsumsi lebih dari 1.000 piring," lanjut KH Ali Wafa.

Jemaah terdiri dari santri dan warga yang ada di Desa Suger Kidul, serta beberapa desa lain yang ada Kecamatan Jelbuk serta di Bondowoso. Desa Suger Kidul merupakan desa di Jember yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bondowoso.

"Beberapa alumni pesantren juga ada yang pulang ke desa sini untuk ikut salat Id bersama. Ada juga yang mendirikan (mengadakan jemaah) salat Id di tempatnya masing-masing," papar Ali Wafa.

Pelaksanaan salat Idul Fitri di pesantren tersebut lebih awal satu hari dari ketetapan pemerintah. Melalui sidang isbat, Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal pada hari Minggu (24/05) besok, yang juga sama dengan ketetapan dari Muhammadiyah dan NU.

Namun pelaksanaan Salat Idul Fitri di Desa Suger Kidul yang lebih awal satu hari dari ketetapan pemerintah bukan hal yang baru. "Sudah terjadi sejak kakek saya mendirikan pesantren ini. Insya Allah sekitar tahun 1911 Masehi," jelas Ali Wafa.

Sang kekek, KH Muhammad Sholeh, memiliki metodologi sendiri dalam menetapkan 1 Syawal (hari raya Idul Fitri) dan 1 Ramadan (awal puasa) sehingga kerap berbeda dengan ketetapan pemerintah maupun ormas Islam lainnya. Yakni mengacu pada kitab Nazhatul Majalis, karya Syaikh Abdurrohman as-Sufuri as-Syafii. Kitab klasik berbahasa Arab itu didapatkan sang kakek dari ajaran gurunya, KH Abdul Hamid Itsbat, ulama asal Banyuanyar, Madura.

"Setelah itu, turun ke putranya, lalu ke cucunya, termasuk saya. Kita melanjutkan. Awalnya (saat masih kecil) saya tidak tahu, hanya ikut yang diajarkan kakek saya. Tetapi belakangan setelah saya menuntut ilmu di pesantren, saya akhirnya tahu kitab ini, yang menjadi dasar penetapan," ujar pria yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Bata-Bata, Madura.

Di dalam kitab tersebut, terdapat keterangan seorang Imam ahli fikih terkemuka, yakni Imam Ja’far Shodiq yang menyatakan bahwa lima hari dari awal Ramadan yang pertama, ini akan menjadi awal Ramadan yang akan datang.

"Jadi hitungan saya, tahun kemarin mengawali Ramadan pada hari Minggu, maka (tahun ini) mundur menjadi hari Kamis. Lalu penetapan Idul Fitri atau 1 Syawal, saya genapkan 30 hari, maka jatuh pada hari ini," jelas Ali Wafa.

Dengan demikian, penetapan awal puasa dan lebaran di pesantren ini, sepenuhnya menggunakan metode perhitungan atau hisab. Karena itu, KH Ali Wafa bisa melakukan penetapan untuk selama beberapa tahun sekaligus. Tidak selalu, awal puasa dan lebaran di pesantren ini, berbeda dengan pemerintah.

"Saya ijtihad (melakukan penetapan) selama lima hingga delapan tahun sekali. Tidak selalu berbeda. Dalam lima tahun misalnya, ada dua hingga tiga kali lebaran yang sama dengan pemerintah," papar KH Ali Wafa.

Pantauan Merdeka.com, hanya sedikit jemaah yang memakai masker. Kepada Ali, warga di desa beralasan tidak memakai masker karena kesulitan memperolehnya. Karena itu, Ali berharap ada bantuan dari pemerintah untuk penyediaan masker bagi warga desa.

"Mereka bilang tidak punya masker. Mestinya kalau pemerintah sayang pada rakyatnya, pemerintah bisa membantu penyediaan masker," tutur pria yang akrab disapa Lora Ali. Lora adalah sapaan untuk putra kiai dalam kultur bahasa Madura, atau serupa dengan gelar Gus dalam masyarakat pesantren kultur Jawa.

Sebenarnya, Pemkab Jember bersama pimpinan MUI, NU dan Muhammadiyah sudah mengimbau, agar warga melaksanakan salat Idulfitri di dalam rumah saja, tidak di masjid. Namun menurut Lora Ali, warga kesulitan untuk melaksanakan imbauan tersebut.

"Memang ada imbauan dari bupati Jember, agar salat di dalam rumah saja, tapi mereka mengaku tidak bisa. Jangankan khotbah, bacaan imam salat id saja mereka mengaku tidak tahu caranya," jelas Lora Ali.

Usai salat id, warga juga melaksanakan tradisi saling berkunjung ke sanak keluarga. Termasuk para santri yang sowan ke rumah kiai. (mdk/cob)

Baca juga:
Pesan Jokowi di Hari Raya Idulfitri: Yakin Indonesia Mampu Lewati Ujian Berat
Satpol PP DKI Akan Pulangkan Gerombolan Warga yang Kedapatan Takbiran Keliling
Semarakkan Idulfitri, Imam Besar Masjid Istiqlal Minta Salat Id & Takbiran di Rumah
Tak Gelar Salat Id, Masjid Istiqlal Takbiran Virtual Bareng Wapres
Sejumlah Desa Muslim di Pulau Ambon Sudah Rayakan Idul Fitri 1441 H

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami